“Pendar lampu taman kota temaram memancar. Bintang di langit kemerlap-kemerlip berkedip. Bulan sayup-sayup menyapa, setiap malamnya.
Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun adalah waktu dari waktu indah mengukir.
Rangkai kata kutulis dalam pengharapan malam ini; sebuah ungkapan yang teruntai dalam setiap doa-doaku.
Saat ini. Malam ini...
Doa terbesar. Doa yang diiringi oleh kebahagiaan dan doa yang mungkin akan diaminkan semesta, hari terbaik dalam kehidupanku dan mungkin itu juga akan menjadi yang terbaik dalam penghidupanmu;
Aku ingin hari ini bukan hanya sekedar datang, lalu, berlalu pergi.
Aku ingin kau dalam keluh dan kesahku, dalam suka dan dukaku.
Aku ingin kau utuh untuk hati dan pikiranku dan aku di dalam hati dan pikiranmu.”
Pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan yang keempat. Tiga, bilangan ganjil dan sesudahnya empat, sebuah angka bilangan genap, angka dari simbol yang dipercaya segelintir orang baik, biasa diterapkan oleh sepasang muda-mudi untuk lebih dari sekedar perkenalan, berteman ataupun bersahabat, hingga melebihi itu, mendapat momen yang tepat, dan mencoba berjanji untuk menjadi sepasang dari dua insan yang utuh; saling memiliki dan saling mencintai.
‘Cinta.’ Hanya sebuah perspektif lama yang ada dari semenjak zaman perubahan, perubahan akan cara pandang, cara berpikir, dan perubahan akan manusia yang sudah semakin berilmu, berpikiran terbuka, dan lebih modern atau bahkan sudah memasuki fase-fase postmodernnya. Tetapi banyak dari apa itu namanya ‘cinta’ malah merusak cara berpikir dan cara pandang seseorang, menjadi tak berilmu dan semakin menuju ketololan, terlalu dimabuk akan namanya cinta, membodohi diri, merusak pemikiran, membolak-balikan hati, sehingga merusak definisi akan bentuk dan cara untuk menerapkan apa itu cinta sendiri.
Kali ini, detik ini, saat ini, semua akan landasan cinta yang sekiranya terbaik dan telah menetapkan prasangka baik, menyingkirkan pemikiran lama, usang, dan sekiranya telah bulat akan diterapkan untuk ketetapan hati dan pemikirannya yang lebih baru. Langkah awal, sebuah awal yang baru, telah dipersiapkan sematang mungkin olehnya. Sekiranya malam tiba, dimulailah waktu akan awal yang baru itu, dan sekiranya iya, semua sudah di dalam genggaman tangan dan telah berperan di dalam hatinya. Sebuah pertanyaan kecil, “Maukah kau menjadi kekasihku?” terlalu naif, terlalu buta akan pikiran, pertanyaan lama, pertanyaan akan jawaban yang jawaban diinginkan itu sendiri tidak dalam bentuk penolakan akan kalimat “Tidak ingin aku menjadi pasanganmu!” sungguh memalukan kata orang-orang yang hanya bisa menertawakan, tetapi sungguh tidak ada bentuk dari hal yang memalukan itu bagi tiap orang-orang yang sedang dimabuk akan rasa cinta itu sendiri.
Keinginan untuk memiliki itu semakin tinggi. Membuat Mahesa jatuh hati terhadapnya, benar-benar mencintainya, selalu berada di sisinya, melepas semua pikiran Mahesa terhadap laki-laki lain, dan hanya dirinyalah yang ada disetiap sisi atau relung hati dan pemikiran Mahesa. Sebuah puisi telah di timang-timang dengan penuh cinta, penuh kasih, puisi akan bujuk rayuan manis, puisi yang dibuat dengan secermat mungkin, sematang mungkin, bukan hanya akal pikiran yang dipergunakan melainkan hati itu sendiri dilibatkan untuk sebuah proses pemilihan diksinya. Keinginannya semakin mengebu-gebu malam ini.
“Mahesa?” sebuah pesan singkat yang dikirimnya kepada Mahesa, pembuka atau awalan dari debar-debar jantung yang mulai berdegup kencang.