Kita yang Dipaksa Mati Berkali-kali

Adel Yuhendra
Chapter #4

Hati yang Dirasai Telah Utuh

“Perihal hati?

Hati mana yang akan mampu menahan goncangan beban dan luka akan kepingan-kepingan yang telah berlalu?”

Dunia yang baru dalam kehidupannya kembali lahir. Dunia yang lebih indah dari dunia sebelumnya, dunia yang terus menerus membuatnya hanya sebagai seorang pemikir yang tanpa memikirkan dampak dari orang lain. Sifat apati yang terus meliputi dirinya, perlahan-lahan mulai dijauhkan di kehidupannya yang seperti lahir dan suci kembali. Kesuciaannya tidak sepatutnya dilingkupi dalam ruang yang kotor, kekotoran dari tiap ruang-ruang di dalam dirinyalah yang berusaha untuk menghilangkan itu semua. Keapatian telah dirasai mulai hilang, keutuhan akan hati telah kembali terajut bersamaan dengan pemikirannya.

Sudah dua bulan lebih lamanya dia saling merangkul satu sama lain dengan Mahesa. Rasa ingin merusak seorang perempuan pujaan tidak akan pernah terpikirkan di dalam pikirannya. Mahesa tak ubahnya seperti mesin pengerak dalam kehidupannya, lukanya; luka ia juga, sakitnya; sakit ia juga, dan bahagianya; bahagia ia juga.

Seharian ini, kabar balasan dari orang yang dirasanya telah berhasil merubah hati dan pemikirannya tidak kunjung datang. Pesan singkat yang ditunggunya tidak kunjung masuk. Kegundahan mulai menjejali tubuhnya, rasa kekhawatiran terhadap seorang perempuan yang sudah dijadikan dan ditetapkannya sebagai seorang kekasih belum pernah terjadi kepada dirinya. Hingga matahari telah tenggelam, rasa kekhawatiran itu terus meliputi perasaannya. Tak lama memikirkan hal-hal itu, telepon genggamnya berdering. Lalu diangkatnya sebuah panggilan video dengan nomor yang tidak dikenalinya.

“Sayang…” sapa seseorang yang sangat dirindukannya dengan wajah muram dan kedua bola mata yang sembab, dengan sisa-sisa kotoran mata menghiasi pelupuk matanya. Namun dari sapaannya itu terlihat juga berjuta kebahagiaan yang terpancar. “Maaf, yaa… handphone aku tiba-tiba aja rusak, beberapa hari ini kita mungkin jarang saling berkabar, handphone aku palingan selesai diperbaiki dua atau tiga harian lagi. Maaf ya sayang…”

“Iya, gak apa-apa kok. Yang penting kamu udah ada kabar. Gak bikin pikiran aku kacau, melayang entah ke mana-mana mikirin kamu.”

“Ciee … yang selalu mikirin aku ternyata. Sekali lagi maaf ya sayang.”

“Iyaaa...” jawab Erlang dengan datar.

“Ihh… kamu tu emang gak pernah ada romantis-romantisnya deh ya!”

“Iya, maaf.”

“Iya, gak apa-apa juga kok. Aku pernah mikir kalau lama kelamaan aku bakal terbiasa dengan kepribadian kamu, sifat kamu, sikap kamu dan sekarang aku udah benar-benar terbiasa. Karena dari kecuekan kamu, terdapat banyak kelebihan yang membuat hati aku semakin terhanyut sama cara kamu yang super misterius itu memperlakukan aku.”

Panggilan video pun terjeda beberapa saat, sampai pada akhirnya terputus dan berakhir dengan sendirinya. Itulah bagaimana begitu berartinya Mahesa dalam kehidupannya. Mahesa begitu mengerti akan cara, tindakan, sifat, dan perilaku darinya, dan Mahesa jugalah yang kian hari kian merubah kehidupan dan cara pandangnya terhadap ‘apa itu cinta?’

Perempuan tetap hanyalah perempuan. Tidak ada definisi apapun yang dapat menjelaskannya, bagaimana cara pikirnya, kerjanya, ataupun pola dari sebuah pemikirannya itu. Ada perempuan yang mengharapkan cinta tanpa memandang fisik maupun materi untuk dicintai. Ada perempuan yang hanya memandang fisik lalu mengesampingkan materi. Ada perempuan yang hanya mengharapkan materi, karena mungkin bagi sebagian perempuan yang seperti itu, materilah sumber kebahagiaan dan dari materilah cinta dan kasih itu lahir. Dan yang terakhir, ada perempuan yang hanya mengharapkan kenyamanan yang diberikan lelaki kepadanya dan dia mencintai seutuhnya. Sungguh luar biasa, dan sangat sulit menemui bahkan memahami mereka perempuan itu.

Di dalam hidup dan pikirannya; Mahesa adalah seorang perempuan yang mencintainya dengan tulus, tidak memikirkan materi darinya, karena dia sendiri tahu akan isi dalam dompet Erlang, mungkin awalnya memandang fisik namun tidak begitu juga, karena dia sendiri jujur mengatakan “fisikmu belum seberapa dibandingkan yang sudah-sudah bersamaku.” Kenyamananlah kuncinya. Erlang memberikan, memperlihatkan, menunjukan apa itu arti kenyamanan dengan caranya sendiri.

Sudah dua hari, dan selama itu kabar dari Mahesa tidak kunjung didapati Erlang. Sampai pada suatu malam, salah satu teman dari Mahesa mengirimkan beberapa foto kepadanya melalui pesan via media sosial Instagram. Ya… foto itu adalah foto Mahesa, namun, seketika rasa sedih menjajali tubuhnya saat memandanggi foto itu. Di dalam foto itu tampak Mahesa tengah menangis, dan temannya tadi mengatakan kalau Mahesa sangat merindukannya, ingin bertemu, dan takut akan dirinya dilupakan. Erlang terus menerus memandanggi foto itu. Hingga air mata yang tidak pernah dan sungguh tidak pernah hatinya mengatakan kalau ia akan menangis karena perempuan, malam ini tetesan itu jatuh, dukanya; duka ia juga, bahagianya; bahagia ia juga, hingga di detik itu juga, ia langsung melangkahkan kakinya beranjak dari kasur empuk bagai tempat pengasingan beberapa hari ini terhadap dirinya.

Dengan melihati fotonya saja tidak akan menghentikan rasa takut Mahesa terhadap dirinya. Ia harus menegaskan kalau ‘Ialah lelaki yang tidak akan pernah melukai, dan akan terus memberi ruang kebahagiaan itu.’ Pemikirannya yang sudah bersahabat dengan hatinya, membuat dirinya sungguh sangat tengelam akan kisah dan kasihnya. Kali ini jalanan menuju kos Mahesa seperti membutuhkan waktu yang cukup lama, hatinya sangat mengingin-inginkan, pemikirannya mendobrak, hingga semuanya buyar, semuanya terus berjalan lambat.

Erlang segera menggabari nomor yang tadi mengiriminya foto Mahesa. Tidak beberapa lama mencoba terus-menerus menggabari nomor tadi, perempuan yang sudah menjadi kekasihnya, keluar dengan memakai baju tidur, lusuh, dengan matanya yang sedikit sembab, serta rambut terurai berantakan.

“Kamu kenapa?” tanya Erlang cuek, seperti biasanya. “Ganti bajumu, kita jalan keluar.” Ajaknya.

“Tapi aku belum mandi.” Jawab Mahesa dengan wajah mengiba.

“Sudah… gak masalah. Ayo cepatan! Aku gak mau nunggu lama-lama ya.”

Benar saja. Seorang perempuan biasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk mempersiapakan dirinya tampil sebaik mungkin. Entah itu dimulai dari mandi, mengeringkan rambut, memberikan lotion ke setiap jajalan lekuk tubuhnya, memilih-milih baju yang pas, berdandan, yang mungkin itu berbedak, mewarnai bibir dengan berbagai variasi warna yang tersedia, menghitamkan alis, dan entah apa lagi varian lainnya untuk memperalat diri. Namun, semua itu tidak didapatinya ketika dengan Mahesa, “cepatan, aku gak mau menunggu lama.” Memang terjadi seperti itu. Tidak sampai lima belas menit menunggu, Mahesa keluar dengan wajahnya yang natural, berpakaian tidak terlalu mencolokan diri seperti biasanya, dirinya sendiri sangat menganggumi perempuan-perempuan yang berpenampilan natural seperti Mahesa ini, dengan kecantikan yang khas karena itu sudah ada di dalam dirinya, yang tidak perlu digembar-gemborkan untuk tujuan dilirik oleh banyak kaum lelaki.

Malam yang indah. Kemerlap-kemerlip temaram cahaya dari lampu kota semakin membuat garis-garis silau yang menyiluet di kelopak mata. Lentera-lentera buram, semuanya tampak sangat lebih indah; seindah bulan yang juga menyempatkan hadirnya dengan keindahan malam yang tiada henti. Seindah bintang yang tiada henti menyapa dengan berkerlap-kerlip. Seindah langit yang tidak henti-hentinya merangkul bulan dan bintang. Perempuan yang tepat berada di belakangnya kini, perempuan yang sudah beberapa bulan ini menjadi kekasih akan hatinya yang dirasainya telah menyatu, yang tadinya dia lemah, sangat-sangat bersedih, kini… raut mukanya kian berubah menjadi lebih baik, wajahnya kembali memancarkan aura positif, senyum-senyum kecil, yang diam-diam Erlang memandangi wajah kekasihnya itu pada kaca spion vespanya, seketika merasakan situasi telah berubah dengan sangat drastis, tawa-tawa kembali hadir, cubitan-cubitan kecil nan hangat kembali menjajali punggung kurus kering dan pahanya yang tak berdaging itu.

Sepersekian menit kemudian, situasi kembali berubah, berubah ke dalam keadaan yang lebih hangat, Mahesa yang memain-mainkan dagunya di pundak Erlang, tangan yang mengelus-ngelus paha Erlang, semuanya tidak ada sedikit pun rasa hati dan nafsu yang menjurus ke sisi negatif, tetapi lebih keromantisan, dan rasa menyayangi untuk menjaga kekasih pujaan dari hati dan pikirannya kini. Memang seperti itulah seharusnya pola mencintai bahkan menjurus kepada untaian kata-kata ‘bucin’ itu terterapkan dalam budaya dan sisi meminimalisir dosa dalam seluruh konteks keagamaan di Indonesia ini.

Sebuah ide datang menghantam pemikiran Erlang. Sebuah malam yang indah di saat seperti ini, mencari tempat untuk dinikmati hanya dengan berdua, sangat cemerlang, dengan langit yang begitu indah, suasana yang tenang, lepas tanpa hambatan mata memandang, suasana tepi pantai di pelataran lantai tiga salah satu cafe yang sudah terpikirkan tempatnya oleh pikirannya, merupakan tempat yang sangat tepat, dengan momen, situasi hati, dan situasi alam yang seperti mendukung ide di dalam pikirannya.

Duduk berdua dengannya tidak lebih dengan duduk berdua bersama seorang teman. Tidak perlu kemewahan dan rasa malu yang merasuk hati dan merusak pikiran. Seandainya ia tidak lapar, hanya menu minumanlah yang akan dipesan, dan biasanya Mahesa pun juga seperti itu, malahan hampir setiap saat diajaknya keluar, entahlah, mungkin karena dia mengetahui isi dalam dompet seorang mahasiswa, sampai-sampai di saat Erlang yang mengajak jalan, Mahesa sendiri yang langsung akan berjalan ke meja kasir untuk membayar tagihan. Memang seperti itulah yang seharusnya rasa yang dinamakan cinta itu diterapkan. Saling ada, saling menutupi kekurangan, saling berbagi, mungkin di salah satu pihak sedang mempunyai rezeki berlebih, tidak mematokkan hanya selalu menitik beratkan kepada laki-laki saja, yang di mana-mana harus terdepan, dengan dalih, “kok perempuan yang bayar? kok laki-laki seperti perempuan?” tidak! Cinta itu ada karena datang tanpa kata kok; kok cintanya sama yang seperti itu, kok cintanya dengan laki-laki pengangguran, kok cintanya dengan mahasiswa atau lelaki kere; tetapi cinta itu ada karena tanpa kata-kata itu semua.

Awalnya situasi dan perspektif akan keadaan di antara ia dan Mahesa tidak jauh berbeda seperti awal-awal mereka berpacaran. Duduk sedikit berjauhan, hanya saling pandang dan memandang, sampai perlahan tangannya mengenggam pergelangan tangan Mahesa. Tangannya seperti alat pengantar rasa rindu di hatinya yang tidak tertahankan, semua keluh-kesah yang tersimpan selama beberapa hari ini seperti menerobos keluar dan menerjang tepat masuk ke tubuh Mahesa, pemikiran akan pemikiran dari sebuah pemikiran Mahesa yang tidak dapat diketahuinya, seperti lebih membentuk ke arah yang lebih menyimpang dari biasanya, pemikiran rasa takut akan pemikiran dari Mahesa yang mencoba melupakannya, pemikiran akan pemikiran bahwasannya Mahesa tidak pernah mencintainya, tidak lebih hanya bersifat kata segan terhadap seperti penjodohan teman dengan teman, pemikiran akan pemikiran kalau Mahesa sudah mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik, dari segi apa pun perbandinggannya dengan dirinya.

Semuanya meluncur dan mengalir deras. Mahesa terdiam memandanggi dalam-dalam kedua belah bola mata Erlang, menarik nafasnya dalam-dalam, dan mengeluarkan sepatah kalimat manis, seperti kalimat itu sudah di susunnya sedari kemarin bahkan mungkin sedari sebelum mengenalnya. “Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, dan aku mencintai kekuranganmu tanpa membanding-bandingkan dengan logika dan apa pun itu. Hanya perasaanku yang bermain di sini. Bermain untuk terus bagaimana mencintai dan menyayangimu Erlang.”

Lihat selengkapnya