“Kau melamun duduk di teras rumahmu pada pagi hari, siang hari, sore hari, ataupun itu malam hari.
Hujan? Kau bilang hujan penyebab kau mudah bermurung diri itu?
Hujan jangan kau jadikan alasan.
Mengapa hujan kau jadikan untuk menyendu?
Hujan diciptakan untuk kehidupan.
Hujan diturunkan bagi dia yang senang akan hujan.
Dan hujan turun, mengenanggi teras rumahmu.
Bukan hati dengan segala kenangan-kenangan di dalam pikiranmu itu.”
Seperti biasanya, ia si pengelana malam baru terjaga setelah bertarung di dunia mimpi. Setelah membuka mata, tangannya meraba-raba mencari di mana letak si media penghubung itu. “Sayang, bangun!” hanya itu yang ia lihat dari sekian banyak pemberitahuan yang muncul di telepon genggamnya, jika dilihat waktu saat ini, ini masih terlalu pagi untuk membuka mata dan memulai aktivitas.
“Maaf, aku baru bangun.” Balasnya setengah tersadar.
“Udah biasa aku mah...”
Memang, ini masih terlalu cepat baginya, dengan seluruh rasa malas yang ia miliki, segera ia beranjak dari kenyamanan kasurnya, bergegas ke kamar kecil, membenahi diri, menghilangkan sisa-sisa kemarin malam, dan mencoba mengawali harinya yang baru.
“Kamu sibuk hari ini?” tanya Erlang.
Tidak ada kegiatan. Itulah hal pertama yang ditanyakannya kepada Mahesa, rasa ingin bertemu dan menghabiskan waktu menuju senja, tak ada lagi yang ingin ia lihat selain langit kemerahan dan senyuman Mahesa tepat di sampingnya.
“Yaah, maaf. Aku lagi di kampus sekarang, ada rapat HIMA tadi yang.”
“Okee.”
“Kamu marah?”
“Gak.” Balasnya sembari melempar telepon genggamnya ke atas kasurnya.
Memang ia tidak marah, tapi Mahesa tidak menanyakan apakah ia kecewa atau tidak? Terpikirkan olehnya untuk tidur kembali seperti hari-hari biasanya di kala tidak ada jadwal kuliah seperti saat ini. Kondisi psikologisnya tersentak, moodnya berubah drastis. Dengan rasa malas yang terus-menerus berselimut dengannya, ia merebahkan kembali badannya ke tempat tidurnya, berharap bahwa rasa kantuk kemarin malam masih bisa disambung, berharap Mahesa kembali menghubunginya dan mengajaknya keluar.
Ia berhasil untuk tidur lagi hingga sore hari. Di kala sore, telepon genggamnya bergetar berkali-kali dan membuatnya tersentak. “Mahesa?” pikirnya. Itulah harapannya. Harapan agar si perempuannya yang membangunkannya sore ini.
“Lang, kamu ada acara malam ini, kita mau ngopi nih!” tanya Aji melalui pesan singkat di Instagram.
Sudah saatnya ia pergi bersama teman-temannya, sudah saatnya ia memadukan imajinasi di antara gelas-gelas kopi, gelas yang mengaduk argumentasi dan mimpi-mimpi dan dilarutkan dalam air hasil ekstrasi surganya bagi orang-orang yang mencintai kopi. “Inilah mediaku hari ini.” Pikirnya. Ia memulai lagi aktivitasnya tadi, ke kamar mandi, membenahi diri ditemani dengan sebatang rokok di tangan kiri yang terus menemani hari-harinya.
Gelap menyingsing menggantikan kecerahan langit berwarna jingga. Erlang langsung menemui teman-temannya, berharap mengadukan argumen imajinasi tentang alam dunia dan alam yang tak dapat dilihat, membicarakan makhluk atau apa pun yang menempati alam, dan mencari tahu siapa pemilik waktu, akankah alam ini akan hujan di saat dikehendaki atau hanya sekedar fenomena alam, kenapa semua hal di dunia ini bisa terhubung, dan kenapa harus sambil meminum secangkir kopi?
Kopi tidak perlu dipertanyakan, ialah penghubung antara imajinasi dan dunia nyata, ialah yang menyatukan si serba tahu dan si pencuri ilmu, dan ia jugalah yang bertanggung jawab mempertemukannya dengan Mahesa. Kopi adalah segalanya.
“Udah datang aja? Sejak kapan?”
“Aku bukan malaikat maut!” jawab Erlang sinis.
Ia menjawab ketus seakan-akan ia ditakuti, tapi yang ia katakan juga ada benarnya, sebuah perkataan bagi orang-orang yang tidak mau di jemput kematian secepat mungkin, dan seperti itulah hakikat kebanyakan manusia.
“Ya, ampun… baru datang udah mulai aja.”
“Aku ingin!”
Terlihat sedikit senyuman dari teman-temannya yang beradu pandang, mereka pasti sudah tahu apa maksud dari perkataan Erlang, tanpa pemberitahuan, langsung mengadukan keinginan kepada barista untuk segera diwujudkan media tercipta ruang berpikirnya, ruang untuk memulai apa itu berdialegtika.
“Udah lama gak ngopi bareng, sumpah deh, kayaknya kita sibuk banget akhir-akhir ini.” Ucap Aji ketika Erlang tiba.
“Hmm, iya, kita sibuk.” Jawab Dabim tersenyum masam.
Erlang hanya membuka mata pada teman-temannya itu, ia belum ingin menjadi pembicara di antara mereka. “Kupersilahkan untuk mencaci manusia kepadamu, dan nanti akan ku cercai seluruh alam hanya untuk kau terdiam dan mafhum kenapa kita manusia hidup hanya untuk mencela-cela manusia lainnya."
“Iya... dan ada juga yang sedang sibuk dengan mencari arti cinta dari perempuannya.” Tambah Aji. Erlang membelalak menatap teman-temannya, baru saja ia memikirkan tentang manusia yang mencaci manusia, dan sekarang takdir itu jadi nyata, ialah yang menjadi tujuan dari cercaan mulut teman-temannya.
“Lalu apakah dunia salah memberiku seorang perempuan? Bukannya aku akan mencoba untuk menikmati apa yang telah disediakan alam? Bukankah kamu juga yang memberi kemarin?”
Ia tak ingin lagi diam, ia akan mengeluarkan segala buah pikir yang sudah di simpan di dalam kotak pikirannya selama ini. “Piculah aku, piculah aku!” timbul sudah berahi untuk mengeluarkan segala isi pemikirannya itu.