“Saya mati, saya sakit, hati saya… hati saya!
Kenapa?
Hati saya, hati saya telah mati, mungkin telah dimatikan!
Sudahlah… itu hanya permainan karma untukmu.
---
Sebuah mimpi yang indah atau mimpi yang buruk, itu tidak terlepas dari peran pemikiranmu yang ingin bermonolog.”
Hari ini adalah hari yang cukup mendebarkan baginya, ujian seleksi masuk perguruan tinggi yang ia inginkan akan berlangsung jam sepuluh pagi ini, dan oleh karena itu untuk pertama kalinya dalam bulan ini ia terbangun di pagi hari, mempersiapkan perlengkapan, dan mencoba menghafal-hafal kembali materi yang dirasanya akan keluar di saat ujian nanti. Waktu menunjukan pukul delapan pagi, telepon genggamnya bergetar, dan itu adalah panggilan masuk yang ke tiga belas kalinya.
“Ada apa? Maaf aku tadi sedang mandi.” Balas Erlang melalui pesan singkat.
Tak lama panggilan telepon dari Mahesa kembali berdering.
“Nanti jangan lupa datang ke kampus aku, ada acara seni, kebetulan aku juga tampil tari nanti.” Ucap Mahesa tanpa basa-basi mengawali pembicaraan.
“Kok, baru bilang sekarang?”
“Biar surprise gitu.” Jawab Mahesa dengan tertawa kecil di balik telepon genggamnya.
“Aduh, Sa… aku sekarang mau ujian seleksi masuk perguruan tinggi, dan belum tahu pasti pulangnya jam berapa, tapi entar aku usahain, kan aku juga udah pernah ngomong ini juga sebelumnya sama kamu.”
“Aku gak mau tahu, pokoknya kamu nanti harus datang!” jawab Mahesa tegas.
“Iya, nanti aku usahain...”
Seketika panggilan telepon pun terputus. Hari untuk mengawali semua kegiatan yang agaknya akan bisa di minimalisir dengan kehadiran Mahesa yang sekiranya mampu meringankan beban pikirannya, ternyata malah sebaliknya. Ucapan terakhir Mahesa yang tidak mengenakkan, dan cara untuk mengakhiri panggilan telepon, seperti menghancurkan pola-pola imajinasi dengan akar pemikiran yang telah disiapkannya.
“Lupakan, sejenak!” serunya di dalam hati.
Waktu telah menunjukan pukul sembilan pagi. Berpamitan dengan kedua orang tua dan meminta doa restunya, walau tidak sedikit pun dari keluarganya yang mengetahui kalau ia akan mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi hari ini. Tetapi memang itulah yang harus menyertainya, doa terikhlas dari hati terindah yang akan menyempurnakan harinya, menyempurnkan perjuangannya hari ini.
***
Pada hari ini beberapa sekolah ditiadakan proses belajar mengajarnya. Dikarenakan ujian seleksi masuk perguruan tinggi serentak diadakan di seluruh Indonesia dan mengambil lokasi beberapa sekolah. Lokasi sekolah tempat ujian yang akan dilaksanakan Erlang cukup jauh dari rumahnya, di mana saat berangkat jalanan masih cukup sepi dan setelah sampai tidak ada satu pun orang-orang yang berlalu lalang ketika ia baru memasuki gerbang sekolah. Ia secepat mungkin bergegas memarkirkan vespanya, dan berlari menuju ruangan ujian yang telah ditetapkan di kartu ujiannya. Proses ujian ternyata belum benar-benar dimulai. Peserta baru diperintahkan untuk mengisi data diri sampai waktu yang ditetapkan berakhir. Secepat mungkin ia bergegas mencari posisi tempat duduk, mengisi lembar data diri dan mencoba tetap tenang, karena sehabis berlari tadi. Sepuluh menit kemudian lembar jawaban dibagikan, dengan mengingat sang pencipta dan kedua orang tuanya, Erlang berusaha optimis, bersikap tenang dan membayangkan pada proses perkuliahan semester baru dimulai, menjadi maba kembali, dan pastinya sudah berkuliah di jurusan yang diidam-idamkannya selama ini.
Soal-soal telah dibagikan. Dengan begitu, inilah keadaan sebenarnya dari Negara kita dengan tokoh-tokoh hebatnya, yang kemampuan dari sumber daya manusianya hanya atau akan di ukur dari sekedar kertas lembar jawaban, yang itu sendiri belum tentu seratus persen benar akan terjawab kembali oleh bidak-bidak institusi yang merevisi kembali lembar jawaban dari ribuan anak manusia hebat, berbakat, yang tengah berdoa, optimis, lalu berharap-harap cemas di luaran sana, berharap perjuangan mereka diperlakukan seadil-adilnya. Entah itu kesalahan atau kebenaran. Telisik kita kepada sejarah, orang-orang hebat di Negara ini; tokoh proklamator ataupun tokoh-tokoh revolusioner baik yang berseberangan maupun pro pemerintahan, kiri maupun kanan, tengah ataupun lurus-lurus saja, tidak ada yang namanya ditindas oleh ‘materi ujian’. Orde lama, orde baru, reformasi, lalu menuju negara yang benar-benar merdeka dengan sumber daya manusia yang setengah matang, dengan cara ini, menurutnya, menurut semuanya… mungkin ini benar cara penerapannya.
“Semoga hari ini adalah hari yang baik untuk kelangsungan keberkehidupanku.” Ucapnya berdoa, lirih di dalam hati.
Tak lama ujian pertama pun usai, dengan begitu jam istirahat diberlakukan. Saat dirinya memilih istirahat di salah satu warung di pinggiran sekolah tempatnya mengikuti ujian, telepon genggamnya bergetar beberapa kali, dan puluhan pesan telah disesaki dari Mahesa. Untunglah sebuah sifat kepribadian yang tidak gampang terhempas oleh berliku-liku masalah seperti saat ini berlaku kepada dirinya. Bersikap tenang, tanpa merusak persoalan yang lain, tanpa membawa-bawa dan memperlihatkan kepada orang-orang kalau dirinya tengah dirundung masalah tetap bisa dijaganya. Siang itu, sekiranya pukul satu siang, ia mencoba menghubungi Mahesa dengan balasan darinya yang begitu tidak mengenakkan oleh perasaannya. Mungkin bersifat apati perlu merasuk ke dalam dirinya, dan itu memang terterapkan olehnya untuk menuju satu ujian pengantar ke lautan mutiara dari pemikiran dan penghidupan ke depannya nanti.
Sore hari, di kala ujian benar-benar telah selesai, mesin vespanya sudah meraung untuk segera menjajali jalanan menuju kampus kekasih, yang sedari tadi pasti sudah menunggu-nunggu kedatangannya. Tiba-tiba saja seseorang yang dikenal baik dalam bergaul dulu denganya, lalu berjalan tepat di depannya, dan itu tentu akan mengawali situasi dari segala puncak kemarahan dari seorang kekasih yang sudah menyatukan keping demi keping dari hatinya dahulu.
“Hai…” sapa seseorang itu terkejut, seolah-olah tidak percaya.
Sepersekian detik tubuh dan mata Erlang, tak henti-hentinya terdiam dan terus memandangi dengan rasa yang tidak pernah menyentak sebegitu sesak di hatinya. Seperti bom waktu yang meledak tepat di saat ini, seperti peluru yang tepat menghujam hatinya. Seseorang itu adalah seseorang yang pernah begitu dekat dengannya, bahkan begitu berarti oleh dirinya, seorang perempuan sekiranya bertinggi badan seratus enam puluh enam sentimeter, berwajah tirus, berkulit kuning langsat, benar-benar cantik baginya, apalagi waktu itu. Sehingga jarum jam pun seolah-olah berhenti berdenting, berteman dengan rasa yang dipikirnya masih sama dengan di waktu yang dulu.
“Hiza?!” sapanya penuh rasa tidak percaya.
“Eh, Erlang!” sapa perempuan yang bernama Hiza itu sekali lagi, lalu berdiri tepat di depan vespanya. “Udah lama banget gak ketemu… oh iya, kamu ujian juga? Bukannya kamu udah kuliah?”
“Iya ni, Za. Gak betah aja di kampus lama.” Jawab Erlang sembari mematikan mesin vespanya yang tadi telah meraung-raung tidak jelas ketika dihidupkan. “Kamu bukannya juga lagi kuliah di Bandung?”
“Sama dong, berarti. Hehehe… lagian bunda aku juga gak bisa jauh-jauh dari aku, Lang.”
“Padahal kan asik di sana.”
“Gak ada yang diasikin Lang, kalau hati masih memikirkan seseorang yang seperti memaksaku untuk pulang.” Jawab Hiza tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Dengan jawaban Hiza yang menyentak seperti itu. Seketika waktu seperti berbisik sembari bernada tertawa, akan betapa bodohnya ia dulu ataupun hingga saat ini. Betapa sok hebatnya, betapa sok superioritasnya ia terhadap perempuan, betapa apatinya, betapa munafiknya ia, baik dulu dan tetap hingga sampai saat ini. Waktu seperti menawarkan sebuah waktu yang telah tercipta dan berlalu itu kembali kepadanya. Hahaha… entah waktu sedang mempermainkannya? Tapi yang jelas sepertinya waktu tengah menertawakannya saat ini.
“Mau ke mana?” tanya Hiza membangunkan Erlang dari lamunannya.
“Langsung pulang.” Jawabnya terkesan semua yang ada di dalam pikirannya telah lenyap dan hilang.