Kita yang Dipaksa Mati Berkali-kali

Adel Yuhendra
Chapter #7

Kembalinya Goresan Lama Hati

“Rasa sakit kau rakit menjadi pahit. Tulang belulang kau patahkan berulang-ulang. Susunan kata hanyalah sebagai pelengkap cerita. Lukanya kau buat menjadi duka. Lalu, apa yang harus dia pertahankan? Kau datang seakan merasa kehilangan. Kau biarkan dia tumbuh, lalu kau tinggalkan dia dipenuhi ilalang. Apa yang kau pikirkan? Membuat dirinya yang rapuh itu runtuh? Apa hatimu telah mati rasa? Atau kau tak berperasaan lagi?” 

Kehidupan lamanya seperti kembali menghampiri dirinya, antara sadar dan tidak, luka lama itu perlahan mulai ingin memecah kembali hatinya. Perlahan Erlang mencoba membuka mata dan melihat ke arah keluar di mana pagi masih terlalu pagi dan awan hitam mengepul di hamparan langit kelam saat ini. lagi-lagi tak wajar ia bangun sepagi ini, atau hanya karena kemarin malam ia tertidur dengan lebih cepat dari biasanya bersama perasaaan-perasaan gundah tidak berketidakjelasan itu?

“Kenapa gak kamu balas?”

Ia ingin tidur lagi, tidak mau mengurus hal lain, masih terlalu pagi, dan pesan singkat menohok sudah hinggap di jendela layar telepon genggamnya.

“Halo...” sapa Erlang mencoba langsung menghubunggi Mahesa.

“Kenapa dari kemarin pesan aku gak dibalas?!” 

Perkataan Mahesa itu menancapkan kekecewaan yang sangat dalam baginya, tapi ia sadar kalau perempuannya ini juga kecewa, Erlang menganggap perbuatannya juga sudah keterlaluan, sangat keterlaluan, ia sadar akan hal itu.

“Kemarin aku ketiduran.” Jawab Erlang.

“Klise!” seru Mahesa seperti tidak menerima penjelasan dari Erlang.

Bukan itu jawaban yang diharapkan olehnya di pagi yang cerah ini. Seharusnya ia menerima ketenangan setelah Tuhan memberinya anugerah bangun sepagi ini, tapi sekarang ia malah ditimpa oleh amarah seorang perempuan, siapa yang sanggup melawan? Ada rasa durhaka setiap melawan perkataan seorang perempuan. Dengan penuh kesadaran, ia mematikan telepon dari perempuannya ini, bukannya tak sanggup, tapi ia muak karena Mahesa tak menghargai pagi harinya. Langkah yang buruk untuk memulai hari, ia sudah mulai bingung, dan memutuskan untuk membenahi diri, dan langsung pergi ke sebuah kedai, mencukupi kebutuhannya untuk pagi ini.

 

 

***

 

 

Rasa bosan memang telah menduduki pikiran tertingginya, ia hanya memikirkan semua hal yang terlihat olehnya, mempertanyakan semua hal yang rasanya tidak perlu ada jawaban atas hal itu. Memulai membaca buku, menyeruput kopi, menghisap rokok, dan kembali merenung dan merenung, mungkin ini hal terbaik untuk menikmati waktu di pagi hari.

“Angkat telepon aku Erlang!”

Begitulah pesan singkat dari kekasihnya. Dari kemarin Mahesa memang selalu mengirim pesan kepadanya, tapi ia tidak sadar, tidak bisa disalahkan mata yang sudah tertutup di malam itu, semuanya terjadi secara tiba-tiba, ia tidak meminta, dan tak pula ingin rasanya untuk menutup mata terlalu cepat, tapi banyak persoalan yang menyelimutinya malam itu.

“Kamu kenapa sih dari kemarin gak bales chat aku?” ucap Mahesa dalam panggilan teleponnya.

“Aku ketiduran...”

Sebenarnya ia tak mau lagi menjawab, tadi ia sudah memberikan alasan, tetapi Mahesa tidak mempercayai akan hal itu, ia menjawab hanya semata-mata untuk terciptanya komunikasi yang baik dipanggilan suara kali ini.

“Ya, sudahlah...”

Mahesa langsung mematikan teleponnya, pasti ia merasa bahwa lelakinya ini sudah tidak ada rasa peduli sedikit pun kepadanya, ia menginginkan penjelasan yang lebih panjang lagi agar terlihat bahwa kekasihnya ini memiliki rasa bersalah karena telah mendiamkannya dalam beberapa hari terakhir ini, tapi Mahesa merasa bahwa Erlang sudah kehilangan rasa pedulinya.

Sebagai seorang lelaki, ia juga merasa jika Mahesa mungkin sudah marah kepadanya, tapi apalah yang bisa dilakukannya? Ia hanya bisa membayangkan hal yang rasanya berlawanan bagi dirinya, ia juga memikirkan bahwa Mahesa yang salah di sini, ia menganggap bahwa Mahesa tidak pernah bisa mengerti tentang dirinya, sudah lupa tentang latar belakangnya, dia seharusnya tahu seperti apakah lelakinya ini, tapi ia seakan-akan diminta untuk melakukan hal yang rasanya belum pernah ia lakukan.

Hari beranjak sore, dengan sisa-sisa tenaga kemarin malam, Erlang beranjak untuk membenahi dirinya lagi, memanaskan mesin vespa tuanya, dan bergerak santai menuju sumber imajinasi tanpa batas, sekali lagi, kopi dapat memenangkan hatinya, pikirannya. Tak ada kesibukan yang dapat menghalanginya dari kewajiban satu ini, tak ada janji bersama teman, tak ada, dan semua ini karena seisi pikirannya meminta tempat menetap untuk ketenangan hatinya di detik ini jua.

“Seperti biasa?” terlihat Erlang sudah dikenali oleh baristanya.

“Kali ini Cappucino deh mas Abdul.”

“Oke, tunggu bentar ya Lang.”

Dengan penuh semangat, ia duduk santai menikmati awan redup hari ini, akan ada gambaran bahwa hujan akan dating lagi, dan beruntung ia sudah berada di kedai kopi ini, ia hanya tinggal duduk, dan seluruh dunia meminta untuk ia diskusikan bersama imajinasinya, ia akan mencampur adukkan semua hal yang ada di dunia, mengambil kesalahan-kesalahan yang ada, dan berusaha untuk membenarkannya, tapi itu hanya dalam pikiran, “aku pemikir bebas, bukan pekerja.”

“Betapa egoisnya dirimu, menikmati kopi hanya untuk pelampiasan kesendirianmu.”

Terdengar suara yang tak asing lagi oleh telinganya, ia merasa pernah bertemu, tapi tak ada bayangan sedikit pun yang menjelaskan siapakah perempuan yang menyapa itu. Tak lama seorang perempuan duduk tepat dihadapannya.

“Fara??” terlihat Erlang agak kebingungan.

Lihat selengkapnya