“Memelukmu dari kecupan hangatku, dari ingatan yang mengintimidasi relung imaji, dari rapalan pautan tangan yang tak dapat meraba, dari ujung kakimu ke genggaman tangan waktu itu. Membuatmu terlupa, kita, yang hanya kamu terlupa, membuatmu melupakan rabaan-rabaan tak berbekas, membuat suka menjadi duka, melewati hal-hal transeden yang tak dapat seorang pun mengetahui, hanya aku, berujung dia, hanya dia berujung kamu, dari seorang yang tak mampu menjelaskan, menelaah atau mencoba menertawakannya, dan menjadi sepasang yang hanya berbalut selimut kebahagiaan, melawan kenestapaan, dosa, takdir, dan kenyataan.
Memelukmu dalam sedalam-dalamnya pilu yang tak berujung.”
Malam sudah benar-benar ingin menepi. Mentari akan segera menyising mengganti kekelaman waktu subuh. Bola matanya masih terpaku melihat-lihat beberapa barang seperti buku-buku karya sastra kanon, sastra populer, filsafat, arsip-arsip, yang semua itu bisa dikatakan manis dan pahit tercampur dan pantas untuk sama-sama dipahami. Barang-barang yang dulunya berharga, pemberian dari sosok perempuan yang pernah berarti dalam hidupnya, yang beberapa hari lalu dipertemukan kembali dengannya. Hujan menyelanya hari ini, menyela perasaan kejinya. Hujan memberi pertanda bahwa ia sangat membenci hati Erlang, membenci hati busuk yang tertanam itu, dan mungkin sudah sepantasnya untuk benar-benar dicabuti.
Mentari yang tadinya seperti akan terbit dengan gagah di ufuk timur terkalahkan oleh derasnya air hujan. Dua hari yang melelahkan untuk hati dan pikirannya. Dua orang perempuan datang di kehidupannya yang benar-benar tidak pernah membuatnya sempurna akan makna cinta. Di saat hatinya dirasai benar-benar telah utuh kembali, benar-benar telah berdamai akan situasi dosa yang telah diperbuatnya di masa lalu. Fara datang dengan secangkir kopi yang seperti telah disihirnya. Hiza si satu-satunya perempuan di dalam kehidupannya yang dulu pernah membuat hatinya benar-benar berdamai, lalu menghilang dan meninggalkannya secara tiba-tiba, membuat dirinya ingin membalaskan semua kesakitan dari hatinya ke setiap perempuan yang mencoba mendekatinya.
Lalu seorang perempuan bernama Mahesa datang ke kehidupannya. Indah… sangat indah untuk hati Erlang beberapa bulan yang lalu. Hingga dua perempuan dengan segala pemikiran yang luar biasa datang dan membolak-balikkan hati dan pikirannya. Beberapa pesan singkat yang sudah ternotifikasi di telepon genggamnya tidak pernah ingin dibaca Erlang lagi. Hatinya begitu keras untuk saat ini kepada Mahesa. Pemikirannya begitu tidak mengenal lagi tempat keberadaan Mahesa. Sebuah buku ideologi pemberian Hiza beberapa tahun yang lalu, sebuah buku yang tidak sempat-sempat dibacanya ‘Perempuan di Titik Nol.’ Merangsang pemikiran dan menyuruhnya untuk membaca buku itu, benar-benar membaca dan memahami maksud dari buku ini.
Sesuatu hal yang membuat dirinya tidak pernah ingin membaca buku ini sedari dulu, karena hati dan sikap yang dirasanya tidak pernah menghargai seorang perempuan, tidak pantas untuk dirinya membaca buku seperti ini, buku ini pasti akan menampar pola pikirnya. Lalu sekarang sudah pantaskah? Bisikan-bisikan menerjang relung pemikirannya, mungkin dengan membaca buku tersebut benar-benar dapat merubah hidupnya. Tidak beberapa lembar halaman, di saat buku yang dibacanya tadi masih dalam genggaman tangannya, tubuhnya benar-benar sudah di ujung batas, rasa ngantuk meresap perlahan membuat matanya perlahan mulai menutup. Gelap, benar-benar gelap hingga yang terdengar suara tangis seorang perempuan di kejauhan.
***
Buku yang tadinya terletak dalam pangkuan, setelah perlahan membuka bola matanya yang masih sayup-sayup mengantuk, sayup-sayup mengedip akibat paparan cahaya dari tirai jendelanya yang di buka oleh seseorang terlalu dini. Seorang perempuan dalam pandangan bola matanya yang masih samar, tengah asik duduk di meja tempatnya berkeluh-kesah. Buku yang sebelum tidur di genggam di pelukannya sudah berpindah tangan kepada sesosok perempuan muda itu.
“Akhirnya kamu baca juga ya…” perempuan itu berdiri dari tempat duduknya menghampiri Erlang. “Setelah kamu menekankan tidak ingin mencoba membaca buku yang bertemakan seperti buku ini.”
“Hiza?!” sahut Erlang terkejut.
“Aku sudah minta izin ke ibumu tadi. Ibumu kaget, sama seperti bundaku yang juga kaget pas kamu datang lagi ke rumah. Maaf mengganggu waktu tidurmu. Oh iya, aku juga ada buku baru,” Hiza mengambil sebuah buku yang terletak di dalam tasnya, “kamu tuntaskan baca kedua buku ini dalam waktu lima hari, sehabis itu kita diskusiin buku-buku ini. Oke, Erlang si idealis, pemikir kritis, penentang, dan menganggap dirinya makhluk yang berkebebasan dan berbahagia akan hal itu?”
Sebuah tanya yang mungkin hadir antara aku dan kamu, dia dan mereka, kita dan semuanya. Perempuan ini, perempuan yang bernama Hiza, perempuan yang mampu melemahkannya, perempuan yang mampu membelenggunya dengan segala pemikiran-pemikiran yang luar biasa, perempuan yang terus membuat dirinya ingin menjadi seorang pemikir hebat, memotivasinya, seperti mendoktrin dirinya ingin berpacu dalam memahami falsafah kehidupan. Situasi-situasi dosa yang dilakukannya di masa lalu, bukan hanya semata-mata dari kenakalannya saja, melainkan hatinya ingin mencari sosok perempuan yang sama seperti Hiza. Hingga Mahesa datang dengan sejuta kebaikannya, bukan dengan sejuta konsep berpikirnya, lalu Fara juga muncul seperti perpaduan antara Hiza dan Mahesa. Kekacauan sudah pasti mencercai tubuhnya. Pemikirannya tidak mampu lagi berpikir, hatinya berceceran kembali.
“Erlang… Erlang… Lang! Malah ngelamun. Cuci muka dulu sana! Aku juga mau bantuin ibu kamu masak.”
Waktu berjalan cepat dari waktu itu, waktu di mana hal-hal seperti ini pernah rutin hadir dan terus berotasi dalam hidupnya selama lebih kurang satu tahun. Kedekatan antara Hiza dan ibunya, sekalipun Mahesa tidak bisa mencampurinya. Awal yang baik, perkenalan yang baik, bersahabat dalam waktu yang cukup lama, hingga berpacaran dalam hitungan bulan, lalu menghilang dalam detikan waktu. Erlang yang dulunya hanya menjadi pembaca yang minim referensi. Setelah mengenal Hiza, bersahabat, lalu berlanjut ke hubungan yang pada akhirnya mematahkan hatinya, bisa berubah seperti saat ini. Seorang berpikiran kritis saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan itu adalah seorang perempuan, seperti kemusatahilan untuk terwujud, tetapi benar-benar ada dan nyata wujudnya.
“Lang! Ayo makan dulu bareng Hiza.”
Seruan itu benar-benar membangunkan lamunannya. Tidak lama dari seruan yang lebih seperti sebuah himbauan itu, ia bergegas menuju ruang makannya, yang tidak lain, tidak bukan, karena cacing-cacing diperutnya pun sudah memberontak rezim otoriternya.
“Seperti ini sekarang kerjaan pacar kamu Hiza?” sahut ibu melihat tingkah Erlang.
“Ibu…!”
“Erlang! Kamu tu...” Hiza langsung membentaknya.
“Sudah-sudah, yuk makan dulu.”
“Ayah mana bu?” tanya Hiza.
“Gak ayahnya, gak anaknya sama aja. Hobinya sama-sama begadang, terus molor.” Jawab ibu dengan tertawa kecil.
“Kalau begadangnya ada hasil gak apa-apa juga kok bu, hehehe.”
“Erlang sekarang emang begadang dapetin hasil? Keluyuran tiap malam sekarang yang iya!”
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dalam perasaan tertekan, terintimidasi, Erlang terus menyuap nasinya hingga habis dan setelah itu langsung beranjak meninggalkan ruang makan.