Kita yang Dipaksa Mati Berkali-kali

Adel Yuhendra
Chapter #9

Kepingan Hati yang Mulai kembali

“Jangan bersedih terlalu berlebihan ketika akhirnya ia memilih pergi. Karena ia tak pernah benar-benar menaruh hati. Dari awal kamu hanya terbodohi akan rasa cintamu yang sebenarnya kamu telah mengetahuinya. Hanya saja saat itu kamu selalu menyakinkan hatimu kalau ia benar-benar mencintaimu dan kamu selalu mengalah akan rasa sayangmu yang telah hinggap di pikiranmu itu.

---

Teruntuk perempuan-perempuan hebat dan cantik di luar sana. Kalian memiliki begtiu banyak kelebihan, tidak banyak kekeliruan. Jangan terikat oleh budaya patriarki, belenggu  atau bualan lelaki, itulah kekeliruan yang mengkerdil dan mendoktrin pola pikirmu. Dan jangan kalian terus dibodohi dan merasa terbodohi. Kalian adalah makhluk yang hebat! Kalian itu pintar, kuat. Mari bergegas! Lupakan rasa sedih perihal lelaki yang menyakitimu.”

Rintik hujan perlahan turun membasahi setiap luka kehidupan fana antar manusia di bumi. Kesenduan yang mengharu bisu, terus-menerus menggenangi hari ini yang memang seperti terdiam, terhenti oleh waktu. Hari di mana dirinya dihadapi dalam situasi yang sama dengan satu kesatuan makhluk-makhluk penuh luka, makhluk penggila nafsu Hawa ataupun Adam. Ia, Erlang. Tak henti-henti berpikir situasi dosa mana lagi yang terus bersemayam dengan dirinya? Luka yang tidak pernah diminta-mintanya datang kembali; kebatuan hati, kebatuan pikiran, paradoks akan makna cinta tak henti-henti merasuk dalam basuhan luka nanar pada dirinya.

Rasa bersalah tak kunjung pudar dalam pikirannya. Jari-jemari yang tadinya membeku, mulai bergetar, ingin mengirimi pesan permintaan maaf kepada Mahesa, pesan bahwasan yang dilihatnya tadi tak lebih dari satu kesalahpahamanan saja. Namun pemikiran lain mencoba merasuk dirinya, pemikiran akan kesalahpahaman yang jujur murni akibat dari pikirannya yang mulai linglung untuk memikirkan dua orang perempuan yang secara tiba-tiba datang ke kehidupannya.

“Aku minta maaf.” Sebuah notifikasi pesan singkat dari Mahesa kembali masuk ke telepon genggamnya.

“Atas landasan apa kamu berpikir untuk meminta maaf sama aku?”

“Aku terlalu mengekangmu, mungkin.” Balas Mahesa.

Hatinya bergetar. Sekali lagi notifikasi pesan kembali tertuju kepadanya.

Lihat selengkapnya