“Akankah hati bertahan?
Atau kali ini sudah waktunya untuk hati akan benar-benar mati?”
Seorang perempuan yang tidak asing lagi olehnya; cantik, tinggi, tentu saja dengan senyumannya yang manis ke tiap-tiap pelanggan yang datang, menyapa dan menatapnya dengan penuh senyuman berarti, yang membuat Erlang seperti sedang menjalin kontak batin dengannya.
“Hai, Lang!”
“Fara!”
“Mau kopi apa kamu malam ini, biar aku bikinin dengan penuh penjiwaan, haduh... hahaha.” Ucapnya tertawa malu-malu.
“Manual Brew aja, metode Aeropress, gimana? Hahaha.”
“Kenapa kamu ketawa?”
“Terlalu banyak permintaan kesannya, aku becanda ya? V60 aja deh.”
“Gak apa-apa Lang, gak apa-apa, itu aja. Oke, tunggu!” Fara melangkah mendatangi Erlang dan merangkul tangannya untuk masuk ke dalam bar.
“Kenapa, Ra?” tanya Erlang terheran.
“Kamu kan udah sering ngopi ni, dan tentunya pasti sedikit banyaknya bisa atau sekedar ingin tahu dong dengan minuman yang sering kamu cicipi.”
“Kamu mau ngajarin aku?”
“Iyaa… ayo makanya! Bakal aku kasih tahu, mulai dari biji kopi yang mau kamu pakai hingga bagaimana proses pembuatannya.”
Erlang hanya tersenyum mendengarkan seraya mengangguk-angguk. Memang sudah cukup lama dirinya menjadi menyukai kopi di kedai-kedai kopi di kotanya, hanya sekedar tahu dengan menunya, tanpa tahu dengan prosesnya. Kali ini, sesosok perempuan tanpa pengharapan keinginannya, namun mampu menggetarkan hatinya, dengan kelembutan, kebaikan, serta bentuk fisiknya, yang siapa saja lelaki yang melihatnya pasti akan terkesima. Namun kenapa Fara ingin berinteraksi lebih terhadap dirinya ini? Tidak ada cukup kelebihan yang bisa dibanggakannya, hanya cukup keburukan masa lalunya terhadap perempuan yang mungkin bisa dikedepankannya, hanya itu, lantas mengapa? Ataukah hanya karena dirinya yang mampu berkomunikasi dengan baik di saat awal pertemuan? Ataukah dan ataukah yang lain, yang ada di tiap-tiap pemikirannya? Entahlah…
Tiap-tiap hal dari terkecil ke hal yang tidak perlu untuk dimengertinya tentang perihal kopi yang akan dibuatnya malam ini, Fara mengajarkannya dengan sabar, penuh kelembutan, tanpa ada rasa yang membuat Erlang merasa terintimidasi atau tidak merasa nyaman.
“Kamu tahu gak Lang? Di setiap secangkir kopi yang kamu minum, entah itu rasanya enak ataupun tidak enak, si pembuat, si petani, maupun kopinya tidak ada rasa yang salah di dalamnya. Hanya saja terkadang ada orang-orang yang kurang menghargai dari tiap-tiap tegukan kopi yang ia minum. Kamu termasuk orang-orang yang seperti itu?”
“Tiap apa yang aku minum atau makan adalah hasil dari orang yang menghidupiku. Ketika aku mengatakan minuman yang bakal aku minum ini tidak enak, bukan hanya kita yang sebagai pembuat atau petani dan biji-biji kopinya saja yang aku salahkan, tetapi orang yang menghidupiku secara tidak langsung juga aku salahkan, lantas di mana letak rasa syukurku?”
Fara hanya tersenyum kepadanya. Namun di balik lekuk senyum di bibir pinknya yang ranum itu, terdapat berjuta makna kesukaan dan kesenangan dari sorot mata tajamnya yang terus memandangi Erlang. “Aku suka kamu!”
“Apa?” tanya Erlang sedikit terkejut dan kebinggungan.
“Haa?” Fara tampak bertanya-tanya juga dengan kata-kata yang barusan dilontarkannya. “Sudah… kita duduk di meja di pinggir itu aja, Lang.” ajaknya berusah terlihat biasa saja,
Dengan dalam keadaan tangan yang sedang memegang secangkir kopi yang siap untuk diminumnya. Kedua tangan Erlang bergetar. Itu tampak dari air hasil ekstrak kopi yang barusan dibuatnya di dalam cangkir kopi bergetar-getar tak beraturan. Fara mendahuluinya berjalan, tampak kikuk, tapi tetap berusaha tersenyum ke setiap pengunjung yang sedang asik menikmati kopi di kedainya.
“Fara… bukannya kamu lagi kerja?”
“Gak, Lang. Hari ini aku libur, kebetulan aku tadi gak ada kerjaan dan gak tahu mau ke mana, makanya aku ke sini aja, sekalian bisa jugakan bantu Barista yang masuk hari ini.”
Erlang meletakkan kopinya di atas meja, mengeluarkan laptop dan sebuah buku dari tas yang sedari tadi tetap disandangnya.
“Kamu suka baca buku dari penulis: Fiersa Besari juga ya Lang?”
“Hehehe, iya ni Ra. Aku suka dengan gaya kepenulisan bung Fiersa yang mampu menghipnotis setiap pembacanya dengan sisi-sisi humanis yang tidak pernah ia tinggali. Kamu udah baca buku ini?”
“Aku baru baca Konspirasi Alam Semesta dan Garis Waktu yang Tapak Jejak ini kebetulan belum ada waktu aja, Lang. Hehehe.”