Kita yang Dipaksa Mati Berkali-kali

Adel Yuhendra
Chapter #11

Hancurnya Setiap Kepingan Hati Itu

“Waktu, semesta, atau apakah kau itu yang bisa dipanggil atau dipuja-puja? Andai saja kau mengerti dan mau mengobati luka nanar yang sudah mengangga ini. Aku hanya ingin dia, dia, dan dia!”

Seseorang mengelus-elus pipinya, lalu membelai-belai rambut ikal dikepalanya. Erlang perlahan membuka matanya, mengusap-usapnya, dan menyadari orang itu ternyata adalah Hiza.

“Hiza?!”

“Selamat ulang tahun Erlang,” tidak ada reaksi berarti dari Erlang. “Selamat ulang tahun yang ke 22 tahun Erlang!” ulang Hiza lebih keras.

Erlang yang terkejut tidak menyangka kalau Hiza akan datang sekali lagi ke rumahnya, ke dalam kamarnya, di munculkan dan disesapi dengan pikiran-pikiran kenapa bukan Mahesa yang datang saat ini?

“Masih ngelamun juga!”

“Ehh... iya, makasi Hiza.” Ditatapnya sebuah kotak yang tengah digenggam Hiza.

“Selamat ya Lang. Semoga di lain waktu kita dipertemukan lagi dengan kesan-kesan seperti ini dan ingat! Bulan depan giliran kamu yang ngucapin aku. Nihh...” Hiza memberikan kotak bewarna putih yang sedari tadi digenggamnya kepada Erlang.

“Untuk?”

“Ya untuk kamulah Erlang! Sekali lagi jangan lupa juga ngasih aku hadiah ya bulan depan.” Seloroh Hiza.

“Terima kasih sekali lagi Hiza.”

“Sama-sama dan selamat pagi juga.” Potong Hiza.

“Pagi??”

“Gak. Sarkas aja.”

“Jam berapa sekarang?”

“Sudah pukul dua siang.”

“Waduh, tidurku…”

“Segitu nyenyaknya, memang.” Jawab Hiza tersenyum.

Erlang perlahan membangunkan badannya. merogoh-rogoh sprei kasurnya, lalu berdiri, dan sekarang merogoh-rogoh ke setiap celana dan baju yang tergantung di pintu kamarnya.

“Kamu lagi cari apa?”

“Handphoneku.”

“Oh, ini.” Hiza menunjuk telepon genggam Erlang yang sedang terletak di antara kaki dan pahanya. “Maaf ya, tadi aku gak sengaja buka handphone kamu dan gak sengaja juga baca pesan masuknya.”

“Haa?!” suara Erlang seketika meninggi, tampak dari rona wajah yang tadinya bahagia, berubah dengan raut kekesalan, karena privasinya diganggu dan terbaca oleh Hiza. Erlang adalah tipikal lelaki yang paling tidak suka mengusik dan terusik privasinya oleh orang lain, sekali pun itu kekasihnya. Dan rasanya, Hiza juga sudah tahu dan mengerti akan hal itu.

“Maaf, Lang.” Hiza sedikit menunduk dan memberikan telepon genggam Erlang. “Aku gak sengaja. Jujur sudah dari pagi tadi aku di rumah kamu, dan sudah semenjak itu juga handphone kamu bergetar berkali-kali. Aku gak sengaja ngebaca pesan dan ngangkat panggilan masuk dari perempuan itu.” Jawab Hiza memelas.

“Apa?!” suara Erlang semakin meninggi. Seketika situasi yang tadinya sangat indah, bahagia, tiba-tiba saja dengan mudah berbalik menegangkan. Apakah karena Mahesa yang tidak berada di posisi Hiza saat ini? Tentu saja ini semua perihal mereka berdua.

“Tunggu dulu Lang… ada apa sama kamu? Apa yang telah kamu lakuin ke perempuan ini? Siapa perempuan ini? Pacar kamu? Kalau memang iya, tolong jangan sia-siakan orang seperti dia, tolong jangan dipermainkan! Kalau memang kamu tidak mau lagi atau tidak sayang lagi sama perempuan ini, lebih baik kamu jujur, dari pada berlaru-larut, hingga menyakiti dan perlahan seakan-akan menghancurkannya. Tadi di telepon aku gak sengaja ngangkat panggilan telepon darinya, aku diam aja, sumpah! Lalu dia nangis gak henti-hentinya, aku kasihan Lang, kasihan! Gak lupa dia juga ngucapin selamat ulang tahun buat kamu, beserta pesan singkat yang udah dikiriminya dari tengah malam tadi. Jangan kamu pikir dia lupa! Aku gak habis pikir sama kamu, sampai aku tadi ngusap-usap kepala kamu, itu gak berselang lama dari beberapa menit perempuan itu nelpon ke handphone kamu.”

“Keterlaluan kamu!”

“Maaf, Lang… aku tahu kamu tidak suka privasinya diganggu, aku paham betul dengan sifat kamu ini, tapi tolong kamu sadari dan resapi kata-kata aku barusan. Sekali lagi maaf.”

Hiza pergi berlalu meninggalkan Erlang seorang diri di kamarnya. Erlang menjatuhkan dirinya di tumpukan baju-bajunya yang telah cukup lama berserakan di lantai. Dirinya yang sudah lelah dengan hati, mimpi-mimpi indah dan buruk yang selalu menghampiri pemikirannya akan persoalan hati ini, ingin merongrong, melepas kesakitan, akibat luka nanar yang diciptakan oleh dirinya bersama waktu.

“Aaaaaaaaa!!!”

Sekian lama menahan kepiluan yang menusuk-nusuk di hatinya. Akhirnya teriakan itu keluar, teriakan yang diiringi dengan keluarnya air mata yang dulunya merupakan kemustahilan itu pecah juga.

“Waktu, semesta, atau apakah kau itu yang bisa dipanggil atau dipuja-puja? Aku capek! Sudahlah menghakimi diriku! Sekarang aku akan berbuat semauku, akan berbuat apa yang sebenarnya yang kau inginkan itu ke depannya, aku siap… aku siap atas hal apa yang akan menungguku ke depannya, aku siap!”

“Erlang…! Kenapa kamu dari tadi teriak-teriak gak jelas?” tiba-tiba terdengar suara ibunya memanggil dari ruang makan.

Lantas ia segera membersihkan tempat tidurnya, mengambil baju-baju yang telah cukup lama berserakan ini dan membasuh mukanya. Ketika hampir tiba di ruang makan, ia melihat Hiza masih saja di rumahnya dan belum pergi, sedangkan ibunya terlihat sibuk sekali menyiapkan makanan di atas meja. Erlang langsung berbalik, berjalan menuju kamarnya kembali.

“Selamat ulang tahun nak…”

“Tumben ibu ingat.” Erlang menghentikan langkahnya.

“Karena ibu ingat dan kebetulan juga Hiza datang.” Seloroh ibu. “Ke mana lagi kamu? Makan dulu sini!” lalu ibu mengambil sebuah kue dari dalam lemarin makanan, “sekali lagi selama ulang tahun nak...”

“Hehh, ngapain ini, kok ayah dilupain? Lah, ada kue ulang tahu pula?”

“Ini anak semata wayang kamu lagi ulang tahun.” Sela ibu menjawab.

“Wahh, iya? Selamat ulang tahun anak lelaki satu-satunya ayah. Sini peluk dulu.” Ajak ayah.

“Ayah…” seru Erlang yang terlihat malu-malu. “Aku udah gak anak kecil lagi.” Jawabnya dengan lesu.

“Kamu mau ke mana sekarang? Mau makan atau mau ngerokok dulu?” tanya ayah menyelidiki.

“Iya-iya, makan…”

Setelah selesai makan, ibu membersihkan makanan yang tersisa, dan ayah beranjak berjalan ke depan teras rumah sembari menghisap rokok yang baru dibakarnya dengan mengajak Hiza menemaninya untuk mengobrol. Erlang buru-buru beranjak membersihkan piring yang tersisa, membersihkan badan, dan mengganti pakaiannya. Untuknya rumah memang tempat terbaik baginya, tapi tidak untuk saat ini. Oleh karena itu ia langsung menghidupkan vespanya tanpa memanaskan terlebih dahulu seperti hari-hari biasanya, berlalu pergi begitu saja meninggalkan ayah dan Hiza yang seperti kebingunggan memandangi dirinya.

 

 

***

 

 

Telepon genggamnya bergetar berulang-ulang kali. Sebuah panggilan tidak terjawab dan beberapa pemberitahuan pesan dari salah satu temannya masuk dengan isi, “mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dan ingin mengajaknya untuk ikut pergi bersama mereka ke danau di salah satu desa di kotanya.” Erlang langsung menuju pada titik kumpul yang telah ditentukan; salah satu kos-kosan dari salah seorang teman perempuannya. Di sana telah berkumpul beberapa orang teman kampusnya, dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Satu anak lelaki dengan stylean serba hitam-hitam, memakai baju kaos hitam dengan cetakan sablon tengkorak dan tempelan emblem di sana-sini. Dan laki-laki satunya lagi berstylean sedikit formal, kemeja flannel merah maron dan celana chinos bewarna coklat. Dua orang teman perempuannya, yang tentu saja cantik-cantik, anggun, sama-sama memakai stylean putih-putih, sepatu cats, casual; ala-ala anak milenial generasi saat ini.

“Itu, Erlang!” seru teman-temanya dari kejauhan.

Erlang menghentikan laju vespanya dan langsung memarkirkannya di dalam kamar indekos temannya.

“Idihh… asik kali kau keluyuran terus sama vespa kau ini ya!” sahut temannya yang memakai stylean hitam-hitam, yang memang berdarah Batak.

“Buat santai-santai aja, tapi kalau jauh-jauh, angkat tangan aku. Soalnya entar pergi pake mobil kau juga kan?”

“Lah, kok gitu? Belum ekstrimlah kau ini mah!”

“Biarlah aku gak kau bilang ekstrim. Tujuanku sekarang pergi, mau mencari ketenangan, bukan mau bongkar-bongkar mesin nanti di perjalanan.”

“Kalau gak, biar aku yang bawa aja deh Lang.” Seru salah satu teman perempuannya.

“Kalau untuk Disa, sekalian aja sama surat-suratnya ni.” Jawab Erlang tersenyum layaknya sedang menggombali.

“Emangnya tu vespa ada surat-suratnya?”

“Main nyerocos aja mulut kau! Ya, ada lah!”

“Udah-udah, gak kelar-kelar ni kalau bahas ini juga. Bagusan untuk menghemat waktu, kita percepat aja langkah kita pergi sekarang.” Ajak Sila.

“Oke juga tu!”

Di dalam mobil Erlang duduk bersebelahan dengan salah seorang teman perempuannya yang bernama: Silla Leonita, dan tepat di sebelahnya: Disa Olivia. Di bangku terdepan si Batak: Norman Hasibuan dan yang mengendarai mobil: Aldo Alrafi.

“Yeii!!!” teriak Disa memecah suasana hening, “selamat ulang tahun Erlang!”

Satu per satu temannya berganti-gantian mengucapkan selamat kepada Erlang.

“Jangan kau pikir kami ini lupa pula ya! Terus kau bilang hanya sekedar pelepas tanya ngucapin di pesan singkat sama kau.”

“Kamu nyerocos mulu Man!” bentak Disa.

“Makasi ya, makasi banyak.” Jawab Erlang kikuk.

Di sepanjang perjalanan semua cerita seperti sudah terangkum indah untuk diceritakan dengan tawa lepas yang tiada hentinya. Seketika tawa yang tadinya pecah menumpah-ruah, terhenti akibat sebuah omongan yang dikatakan dengan tidak sengaja oleh Erlang.

“Aku ikut ujian seleksi masuk perguruan tinggi…” ucap Erlang yang moodnya saat ini tengah bahagia. Seketika hening pun menyelimuti perjalanannya kini. Hampir seperempat menit, semuanya masih saja saling diam. Niat hati untuk bersenang-senang, tertawa bersama seperti tadi, dengan jarak tempuh yang masih cukup jauh, sekitar 60 km lagi, seakan-akan mematahi rasa semangat itu.

Lihat selengkapnya