“Maafkan aku… luka lamaku kembali. Sepertinya dia membutuhkan aku. Dan sekarang, dia telah pergi meninggalkan dunia dengan segala ke fanaannya ini. Selamat jalan untuk dia yang telah pergi untuk selama-lamanya. Dan selamat tinggal juga untukmu, aku akan selalu ada di sisimu, mungkin tidak dengan cara menjadi sepasang kekasih ungkapan terbaiknya. Melainkan jikalau kita sudah tidak bersama-sama lagi, seperti dia yang kini menyatu dengan atom-atom di ruang hampa semesta yang maha luas ini.”
Upacara pemakaman baru usai. Erlang tak bergeming. Ia masih terdiam menatap makam baru yang masih banyak ditaburi bunga itu, makam yang tak lain adalah tempat bersemayamnya Hiza untuk selama-lamanya.
“Erlang. Nak...” sapa ibunya lembut. “Sebaiknya kita pulang sekarang, gak baik meratapi Hiza seperti ini, Hiza udah tenang di sana nak.” Ucap ibu berusaha membujuknya.
“Erlang hanya gak abis pikir sama diri Erlang sendiri bu.” Jawab Erlang terus menatap dalam ke arah makam Hiza.
“Ibu paham kamu menyesal nak. Di hari ulang tahun kamu Hiza mau merayakannya, tapi kamu malah bertindak sebaliknya, tapi itu udah berlalu nak, waktu gak bisa kamu putar, takdir tetap menjadi takdir, cukup kamu jadikan ini semua pelajaran berharga buat kamu untuk ke depannya.”
“Erlang menyesal bu...”
“Semua manusia pasti pernah buat kesalahan,” ucap ibu sambil merangkul anak lelaki semata wayangnya, “masih ada hari esok, mulai dari sekarang mari kita sama-sama belajar buat menjadi pribadi yang lebih baik. Ayah udah nungguin kita dari tadi lo di mobil, ayo pulang.” Ajak ibunya berusaha menyembunyikan rasa sedihnya juga.
Erlang teringat akan salah satu kutipan tulisan dari Almarhum Cak Rusdi, perihal tentang kelahiran dan kematian. “Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar manusia adalah kematian?” pada akhirnya semua manusia akan berakhir dengan kematian, teringatnya ia akan kutipan tulisan itu, membuat pikirannya seolah-olah mulai tersadarkan kembali akan namanya arti kehidupan. Kesabaran, keikhlasan dan merelakan adalah kuncinya.
Tidak berselang lama dari hari kejadian malam itu. Aldo, Norman, Silla dan Disa yang awalnya sangat marah kepadanya, kini beralih berubah menjadi peduli setelah tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi dan menimpa Erlang. Setelah bunda, ibu, dan ayahnya juga mengetahui perihal hubungan sebenarnya ia dengan Hiza yang selama ini ditutupinya, mereka bersepakat tidak ingin membahas hal itu kepada Erlang.
Angin segar datang, ketika Aji dan Dabim datang ke rumah Erlang. Dengan lembut kali ini Aji memegang bahu Erlang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan sudah dilewati Erlang. “Tentang Hiza aku turut berduka. Tapi, apakah dia yang selama ini menjadi alasanmu?”
Dengan lirih Erlang bercerita. “Aku lelaki yang tidak berguna, yang tidak pernah bisa berubah. Aku pengecut! Di suatu sisi, aku dihadirkan dengan kenangan-kenanganku bersama Hiza, di suatu sisi diriku yang awalnya merasa mulai mencintai Mahesa seperti dibuat menjauh dengan kehadiran Hiza kembali.” Erlang terhenti dan menatap kedua temannya, “beberapa hari yang lalu aku baru memutuskan Mahesa.”
“Apa?!” tanya Aji terkejut.
“Maafkan aku tidak bisa menepati janjiku Ji. Aku tidak ingin membuat Mahesa merasakan kepedihan yang aku alami.”
“Aku tidak habis pikir lagi denganmu Lang!” jawab Dabim sedikit menahan emosinya.
“Kalau kamu berada di posisiku, mungkin kamu tahu bagaimana rasanya. Bukan tanpa alasan aku memutuskannya. Saat itu bertetapan sekali dengan kejadiaan...” suara Erlang tercekat.
“Sudah-sudah...” ucap Aji mencoba menenangkan Erlang dan memberi kode kepada Dabim. “Kesimpulan yang aku dapat, semua ini bisa segera diperbaiki.”
Erlang masih tertunduk lesu. Tapi jauh dari sorot matanya terpancar akan kerinduan dan rasa bersalah yang begitu besar terhadap Mahesa. Memang penyesalan selalu datang kemudian. Dabim tiba-tiba saja tertawa. “Ya ampun, ada apa denganmu Lang? Mulai besok kami bantuin kamu buat memperbaiki semuanya, oke?”
Pada sore yang indah, Erlang, Aji dan Dabim kembali melakukan rutinitas seperti biasanya jikalau mereka ingin bertemu atau sekedar bercakap-cakap di kedai kopi tempat Fara biasa bekerja. Matahari yang menampakan keelokannya dengan indah ternyata tidak didapati Erlang ketika mengetahui bahwasannya Fara tidak bekerja lagi di sini. Kepergiannya mendadak dan tidak diketahui secara pasti alasan dia keluar. Dengan menghilangnya Fara, apakah akan menjadi angin segar bagi Erlang untuk memantapkan hatinya hanya kepada Mahesa saja? Kenyataannya, tujuan mereka ke kedai kopi ini memang untuk mempertemukan Mahesa dengan Erlang kembali, dengan suatu persoalan lain, bahwa Mahesa tidak mengetahui Erlang juga diajak. Lalu, apakah Mahesa juga akan mau menerimanya kembali?
Tak lama segenap jawaban itu muncul. Mahesa bersama seorang temannya, memasuki pintu kedai kopi. Tapi ada satu hal janggal dari tatapan Mahesa ketika melihat Erlang dari kejauhan. Mahesa segera berbalik pergi. Ada kepedihan dari tatapannya itu, terlihat jelas kedua belah bola matanya sembab. Baru saja Erlang ingin segera mengejarnya. Mobil yang dikendarai oleh teman Mahesa segera menjauhinya dan hampir saja menabrak dirinya.
“Bagaimana?” tanya Dabim ketika Erlang kembali.
Erlang hanya menggeleng.
“Masih ada waktu lain. Jangan bersedih, dia masih mencintaimu, percayalah.” Ucap Aji menguatkan.
***
Satu bulan berlalu. Selama itu juga baik Mahesa maupun Fara tidak pernah menampakan wujudnya lagi. Berbagai cara sudah dilakukan Erlang agar Mahesa bisa bertemu dengannya. Menunggu di kampusnya, menunggunya keluar dari kos hingga hampir dihakimi oleh pemuda setempat, mencari tahu kegiatannya dari sosial media dengan akses akun temannya, semuanya nihil, tidak membuahkan hasil. Sepertinya Mahesa telah kukuh dengan komitmennya untuk membenci Erlang dan mungkin sudah waktunya bagi Erlang berhenti dan tidak menganggunya lagi.
Tak lama, semester baru pun dimulai. Waktunya para mahasiswa dan mahasiswi baru yang akan memasuki dunia perkampusan, diberi ajaran etika, norma kedisiplinan, attitude moral dari kebangsatan senioritas. Senior namanya; para bandit kampus yang siap memasang wajah bagai singa yang siap menerkam, dan tertawa girang di belakang pepohonan rindang ibaratkan sekumpulan para kera. Erlang yang tidak seharusnya dan sepantasnya lagi berada dalam kumpulan gerombolan kerbau yang dikotor-kotori lumpur, mau tidak mau harus menerima segala konsekuensinya, harus menahan amarah dari tekanan para singa yang siap menerkam itu.
Hari pertama dimulai. Bagai bayi panda yang didandani lipstick dengan bedak tebal di wajah, Erlang hanya memasang wajah lucu dan lugu. Kata per kata ejekan meluncur indah mamasuki telinganya, bertubi-tubi tekanan, menekan dadanya, kesabaran ada batasnya, dan teruslah di dalam batasnya, batin Erlang. Kekuatan yang diberi tidak perlu di balas dengan kekuatan, tetapi keramahan, tidak dengan kelembutan yang itu bisa saja menjadi boomerang atau celah baginya untuk ditekan. Selama masa orientasi perkampusan, Erlang tak lebih dari anakan serigala berbulu abu-abu indah yang bersembunyi dibalik keramaian kerbau; berdiam diri, ramah, dan berusaha menghindar dari zona merah gerombolan para singa.
Hari pertama yang sekiranya menakutkan atau lebih tepatnya menakut-nakutinya, terbayar sudah dengan pertemuannya dengan wajah–wajah baru yang mungkin saja mampu membuat dirinya dapat melupakan kejadian demi kejadian yang terjadi kepadanya beberapa bulan belakangan ini. Di hari pertama ini secara tidak sengaja, Erlang berkenalan dengan salah satu lelaki yang sangat over konsumsi terhadap kopi, Arya Aditya namanya; seorang yang sebelum memasuki jurusan sastra ini, juga telah cukup lama menekuni dunia kepenulisan, yang itu terbukti dengan sudah terbitnya buku kumpulan cerpen darinya dan beberapa puisi yang sudah bersiliweran terbit di berbagai media cetak dan online di Indonesia.
Badannya kurus, kulitnya coklat, perawakannya lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Perkenalan Erlang dengan Arya, tidak cukup di saat para singa yang ketika di kampus tadi sering memperhatikan mereka berdua ketika berbicara. Badan yang sekiranya sudah letih, tidak menjadi persoalan. Erlang pun ingin melanjutkan pembicaraannya secara lebih intens bersama Arya, dengan ditemani secangkir kopi sebagai obat penyemangat untuk harinya yang cukup melelahkan.
Vespa Erlang berderu dengan merdunya dikeindahan sore hari di jalanan kota. Udara segar seakan-akan mengalir dengan nikmatnya merasapi tubuhnya, membuatnya lupa dengan suasana perkampusannya yang baru, tapi tidak dengan kenangan lampaunya yang secara tidak sadar kembali dihadirkan oleh kenikmatan yang dirasakannya di sore ini. Arya yang mendahuluinya di depan dengan sepeda motor maticnya, ternyata telah menunggunya di salah satu kedai kopi yang tidak asing lagi bagi dirinya. Sesaat Erlang hanya berdiam diri, linglung, matanya menatap tajam seakan-akan dihadirkan dengan memori-memori yang tidak seharusnya terkenang kembali.
“Yok, turun! Tunggu apa lagi Lang…” ajak Arya sembari berjalan memasuki kedai kopi.
“Eh, iya.”
Semenjak cukup lama ia tidak pernah mampir lagi ke kedai kopi ini dan beralih ke kedai kopi yang berada tidak jauh dari rumahnya. Kedai kopi ini kembali meghadirkan suasana-suasana yang dirasakannya beberapa bulan yang lalu, dengan bentuk visualnya yang tidak jauh berubah, tata letaknya pun begitu, kenangan-kenangan itu seperti kembali menyapa dirinya. Tapi tidak dengan saat dirinya beberapa bulan yang lalu, singgah, mulai memasuki kedai kopi, dan berjalan menuju bar yang sudah dinanti oleh seorang Barista cantik dengan senyum indah merekah menyapa dirinya.
“Kamu sering ngopi di sini juga Arya?”
“Dari waktu masih sekolah malahan, makanya aku pilih ke sini aja.”
“Tempatnya bagus ya?”