“Sudah setahun jabat tangan dan jejak langkah kaki kita di pasir pantai, menghilang di detik tahun ini jua.
Tawa-tawa manusia, hingga perahu-perahu kecil yang meraung di kala itu; kini terdengar meraung kembali membawa surat kecil berisi pesan yang dulu pernah kau tinggali dan kau tulis dengan sebongkah rasa penuh harapan.
Kau berjanji, aku pun berjanji.
Renungan dengan semilir bunyi ombak dan angin riuh, membawa pesan tawa dan senyum merekah di bibirmu di kala itu kembali hadir.
Masih ingatkah? Atau hanya aku yang mengingat karena kegilaan rindu atau sakit di hatiku ini?
Sudah, jangan hiraukan...
Biar aku saja yang meratapimu.
Dan biar aku saja yang berselimut duri dengan peluk candamu dahulu.”
Satu bulan setelah kejadian dari rumah sakit, Erlang tidak lagi diperbolehkan pulang terlalu larut malam, hari-harinya terbatasi. Beberapa butir obat harus rutin diminumnya setiap hari, dengan dalih; hanya vitamin agar tidak terjadinya kejadian serupa.
Hari ini di sebuah kedai kopi. Seorang perempuan yang tak asing lagi bagi dirinya datang dengan senyum merekah, menampakan jati dirinya yang baru, tanpa sorot mata merendah, seakan asing sudah menjadi teman antara dia dan dirinya. Seorang lelaki peracik kopi di kedai kopi ini yang kebetulan sudah mengenali Erlang, memanggil dirinya, memperkenalkan Erlang dengan perempuan yang baru datang tadi dan mengajaknya untuk ikut berdiskusi perihal kopi bersamanya.
“Lang, kenalin... pegiat kopi dan juga owner dari kedai kopi ‘Ruang Tenang’ di Jogja.”
“Haa?” matanya terbelalak seakan tidak percaya, “eh, iya, mas Vicky. Kebetulan saya juga udah kenal sama mbak ini.” Paparnya.
“Widih… ternyata mbak Fara emang udah terkenal di dunia perkopian ya…”
Fara pun hanya membalas dengan senyuman yang datar.
“Jadi gini Lang, kamu pasti tahulah kan, bentar lagi kan tanggal 1 oktober, peringatan hari kopi dunia. Nah kedai kopi saya, sama mbak Fara ini mau collabs buat ngadain event kopi gratis ke beberapa kampus di kota kita, sama beberapa kampus di kota mbak Fara ini tapi bukan kedai kopinya. Edukasi kopi gitulah Lang… barangkali salah satunya kampus kamu dulu yang bisa kita ajakin kerjasama, gimana Lang? Kalau kamu bisa, berarti kita boyong kamu buat jadi panitia event.”
“Saya coba tanyain dulu sama teman saya yang bergiat di BEM dulu mas. Belum bisa mastiin juga ni mas ya…”
“Setidaknya kamu maukan, ikut ambil andil di dalam event kita ini? Semuanya; transportasi, makan, minum, rokok, atau apalah, biar saya yang nanggung. Barangkali mbak Faranya juga setuju?”
Fara hanya diam, seperti ada bahasa isyarat kalau dia tidak setuju mendengar bahwa Erlang akan ikut serta dalam event yang akan di selenggarakannya.
“Kalau gitu kamu besok bisa ke sini lagi habis magrib Lang?”
“Bisa-bisa mas.”
“Oke deh, deal ya…”
“Iya, mas. Kalau begitu sebelumnya saya mohon izin pamit pulang dulu ya mas, mbak... eh, Fara, mbak Fara.”
Lagi-lagi Fara hanya membalas ucapan Erlang dengan senyuman sinisnya. “Oke-oke, hati-hati ya Lang.” Ucap mas Vicky, “jangan lupa besok abis magrib.”