Kita yang Dipaksa Mati Berkali-kali

Adel Yuhendra
Chapter #14

Akhir dari Sebuah Kisah Hati

“Saya menyuruhnya menuang sedikit demi sedikit yang telah bersama di tuai.

Saya bertumbuh terus menerus, hingga ke pesakitan…”

“Lang…”

Terdengar suara rintihan lembut yang tidak asing lagi baginya.

“Lang… bangun…”

Perlahan, entah itu dalam keadaan setengah bermimpi atau sadar. Erlang mencoba mencari sumber bunyi itu. Erlang berusaha melawan tubuhnya yang kaku untuk digerakkan. Bola matanya yang sekiranya susah sekali untuk ia buka, berulang kali dicobanya agar setidaknya bisa dikedipkan.

“Sabar… perlahan Lang...”

“I… i-iya, bu...”

“Erlang!”

Terdengar lagi olehnya pekik suara dari perempuan yang berbeda.

“Mahesa?”

Kini bola matanya perlahan terbuka setengah. Kali ini ia benar-benar telah sadar.

“Gak Lang, ini Hiza…”

Erlang pun terperanjat dari tempat tidurnya. Infuse yang melekat di tangan kirinya hampir saja terlepas akibat badannya yang tiba-tiba saja berdiri dan meronta.

“Erlang… tenang nak, tenang…”

“Hiza, bu, Hiza…” seru Erlang dengan nafas terengah-engah

“Hiza? Hiza udah tenang nak, kamu hanya mimpi.”

Setetes dua tetes air mengalir tanpa terkendali dari kepalanya. Seorang perempuan yang sedari tadi berdiri memegang tangannya, menyadarkan ia kembali.

“Mana Mahesa?!”

“Mahesa?”

“Fara?!”

“Iya, Lang…”

“Jadi, kamu yang nolongin aku?”

“Mungkin maksud kamu Mahesa itu.”

“Di mana dia?”

“Dia udah pulang dari kemarin. Memang dia yang nolongin kamu dan bawa kamu ke rumah sakit. Aku sendiri baru tahu kabar kamu, dari ibumu.”

“Sejak kapan kamu kenal dengan ibuku?” tanya Erlang menyelidiki.

“Sejak kamu pertama kali masuk rumah sakit nak…” jawab ibunya langsung menyambung, “dan kemarin memang perempuan elok bernama Mahesa itulah yang ngabarin ibu dan bawa kamu ke rumah sakit.”

“Di mana Mahesa sekarang bu?”

“Dia udah pulang dengan seorang lelaki yang juga ikut membawa kamu ke rumah sakit ini.”

Erlang pun hanya bisa terdiam.

“Memang benar…” pikirnya.

“Sekarang sebaiknya kamu lanjut saja tidurnya. Nak Fara juga istirahat…” ucap ibunya sambil mengambil sesuatu di dalam tasnya. “Tolong jagain Erlang sebentar ya, ibu mau ke ruang administrasi dulu.”

Ibu pun meninggalkan Erlang dan Fara berdua di kamar rawat inap rumah sakit. Tidak lama hanya saling diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Erlang perlahan membuka mulutnya yang sedari tadi memilih bungkam.

“Sebaiknya kamu pulang Far. Gimana sama event yang mau kamu adain? Jangan, gara-gara aku event kamu nanti keteteran.”

“Gak apa-apa Lang, lagian aku udah janji sama ibumu tadi.”

“Apanya yang gak apa-apa Far?!”

“Iya, beneran Lang. Proposal event udah aku serahin sepenuhnya sama mas Vicky. Jadi amanlah…”

“Oh, yaudah…”

Seseorang mengetuk pintu kamar. Fara yang tengah duduk di sofa, yang bersebelahan dengan ranjang Erlang, segera berdiri untuk membukakan pintu.

“Makan siangnya mbak… mas…”

Seorang Suster membawakan sepiring bubur, buah-buahan, dan segelas susu.

“Makasi, ya Sus.”

Fara pun membawakan makanan yang dibawa Suster tadi ke ranjang Erlang yang bisa di stel membentuk pola sebuah meja.

“Aku suapin ya…?” tanya Fara ragu-ragu.

“Biar aku sendiri aja Far.”

“Gak apa-apa. Kayaknya tangan kamu belum terlalu kuat digerakin, dari pada kesusahan dan kelamaan kamu makannya, sebaiknya dengarin omongan aku, cukup sekali dan untuk terakhir kalinya.”

“Yaudah, deh...”

Dalam beberapa kali suapan yang diterimanya dari Fara. Erlang terus memandang dalam kedua bola mata Fara. “Perempuan yang sangat cantik... cerdas, berpendidikan, bertalenta, pekerja keras, kenapa Fara mau-maunya dengan lelaki seperti dirinya?” pikirnya.

“Far…”

“Iya, Lang?”

“Kenapa kamu bungkam? Kenapa kamu menghilang?”

“Aku gak bungkam Lang… saat itu aku udah janji sama ibumu buat gak bicarain perihal ini sama kamu, dan kebetulan sebelum kejadian itu, aku juga dapat tawaran dari investor buat ngelola kedai kopi dan kotanya pas banget sama universitas buat aku ngelanjutin studi S2. Aku ngehilang, karena aku sadar, aku bukan orang yang kamu ingin dan harapkan, udah saatnya aku pergi jauh-jauh dari kehidupan kamu.” Jawabnya lemah.

“Kamu milih melakukan hal itu di saat kondisi aku seperti ini?!”

“Bukan gitu Lang...”

Fara pun terperanjat, meletakkan piring dan sendok yang tengah di pegangnya.

“Aku di sini sekarang bukan mau berdebat Lang! Aku di sini sekarang karena aku kasihan sama kamu. Besok aku balik, semoga kamu cepat sembuh dan satu lagi, jaga kesehatan kamu. Kondisi badan kamu tidak sekuat yang dulu, sebaiknya kamu gak usah dulu ikut dalam event ini.”

Lihat selengkapnya