KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #1

SURAT YANG DIBACA 17 KALI SEHARI, TAPI PALING SERING DIKHIANATI

Setiap pagi, sebelum kota benar-benar sadar dari kantuknya, jutaan manusia berdiri dan melafalkan Surah Al-Fatihah. Ia pendek. Hanya tujuh ayat. Namun ia menjadi pembuka dari seluruh isi Al-Qur’an. Sebuah mukadimah yang tidak pernah gagal dibaca, tetapi sering gagal dihidupi. Kamera dokumenter imajiner kita berhenti di sana: di antara bibir yang fasih dan hati yang belum tentu setuju.

“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.” Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Rabb berarti Pengatur. Pemilik skenario besar. Ayat ini seperti palu yang memecahkan ilusi bahwa manusia adalah pusat. Namun sejarah menunjukkan, manusia selalu tergoda untuk merasa paling menentukan. Pujian diarahkan ke langit, tetapi kontrol ingin dipegang sendiri.

Kita mengakui Allah sebagai Rabb. Namun dalam praktik, banyak keputusan lahir dari ambisi, bukan amanah. Seolah-olah kepemimpinan adalah hak, bukan titipan. Ayat pertama sudah cukup untuk meruntuhkan kesombongan, jika benar-benar direnungkan. Tetapi kesombongan sering lebih keras kepala daripada teks suci.

“Ar-Rahmanir Rahim.” Maha Pengasih. Maha Penyayang. Dua sifat ini datang sebelum hukum, sebelum perintah. Artinya jelas: kekuasaan harus bernafas kasih. Jika kebijakan terasa kering, dingin, dan jauh dari penderitaan rakyat kecil, maka ayat ini belum menyentuh ruang pengambilan keputusan.

Kasih bukan slogan. Ia bukan materi kampanye. Ia terasa dalam perlindungan yang nyata, dalam keberpihakan yang adil. Jika yang lemah tetap terhimpit, maka ada yang tidak sinkron antara bacaan dan tindakan. Dan ketidaksinkronan itu bukan kebetulan. Ia adalah pilihan.

“Maliki yaumid-din.” Pemilik Hari Pembalasan. Ayat ini tidak emosional. Ia datar. Tetapi justru karena itu ia menggetarkan. Semua jabatan akan selesai. Semua tanda tangan akan dipertanggungjawabkan. Tidak ada klarifikasi di hadapan Tuhan. Tidak ada pembelaan berbasis citra.

Kesadaran akan hari pembalasan seharusnya membuat setiap keputusan terasa berat. Jika tidak ada rasa gentar, maka mungkin yang tumpul bukan sistem, tetapi hati. Al-Fatihah mengingatkan bahwa kekuasaan bukan sekadar administrasi. Ia adalah amanah yang berujung pada hisab.

Lihat selengkapnya