Layar dibuka dengan tiga huruf yang tak dijelaskan.
Alif. Lam. Mim.
Surah Al-Baqarah tidak dimulai dengan cerita lembut.
Ia dimulai dengan misteri.
Seolah memberi peringatan: ini bukan bacaan ringan.
“Dzalikal kitabu la raiba fih.”
Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya.
Pernyataan tegas.
Tanpa catatan kaki.
Tanpa revisi.
Sementara manusia gemar hidup dalam abu-abu.
“Hudan lil muttaqin.”
Petunjuk bagi orang-orang bertakwa.
Bukan bagi yang sekadar pintar.
Bukan bagi yang sekadar populer.
Tapi bagi yang takut pada Tuhan ketika tak ada yang melihat.
Taqwa bukan slogan.
Ia sunyi.
Ia bekerja dalam keputusan yang tak diumumkan.
Jika petunjuk terasa jauh, mungkin yang kurang bukan wahyu, tapi ketakutan yang tulus.
“Alladzina yu’minuna bil ghaib.”
Mereka yang beriman pada yang gaib.
Percaya pada hari pembalasan.
Percaya pada konsekuensi.
Jika keyakinan itu benar, tak ada ruang untuk korupsi yang dirasionalisasi.
“Wa yuqimunas shalah.”
Mereka mendirikan shalat.
Bukan sekadar melaksanakannya.
Mendirikan berarti menegakkan.
Disiplin.
Tepat waktu.
Konsisten.
Ironis jika shalat bisa tepat, tapi janji publik sering molor.
“Wa mimma razaqnahum yunfiqun.”
Mereka menginfakkan sebagian rezeki.
Distribusi.