Tiga huruf misterius kembali membuka layar.
Alif. Lam. Mim.
Surah Ali ’Imran datang setelah seleksi di Surah sebelumnya.
Jika QS 2 menyaring siapa yang bertakwa, QS 3 menguji siapa yang bertahan ketika kekuasaan dan kekalahan datang bersamaan.
Di sinilah iman tidak lagi teori. Ia dipertontonkan.
“Allah, لا إله إلا هو الحي القيوم.”
Allah. Tiada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup. Yang terus mengurus.
Pernyataan ini seperti tamparan halus bagi siapa pun yang merasa sistem bisa berdiri tanpa nilai ilahiah.
Kekuasaan sering merasa hidup oleh elektabilitas.
Padahal yang benar-benar hidup hanyalah Yang Tak Pernah Tergantung.
“Dia menurunkan kitab dengan kebenaran.”
Bukan opini.
Bukan survei.
Bukan narasi trending.
Kebenaran dalam ayat ini berdiri tanpa perlu persetujuan publik.
Dan justru di situlah ia terasa mengganggu.
Surah ini berbicara tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih.
Yang jelas.
Dan yang butuh kedalaman.
Ironisnya, manusia sering mengabaikan yang jelas, lalu sibuk memperdebatkan yang samar.
Kebenaran yang terang justru ditawar-tawar.
Lalu muncul kisah keluarga Imran.
Maryam.
Kesucian di tengah kecurigaan.
Keimanan di tengah gunjingan.
Surah ini seperti berkata: kesalehan tidak selalu diterima.
Kadang justru dicurigai.
Kamera bergerak ke Perang Uhud.
Kemenangan yang hampir sempurna berubah jadi pelajaran pahit.
Bukan karena kurang strategi.
Tapi karena sebagian tidak sabar pada instruksi.