Layar dibuka dengan satu kalimat yang sering dibaca cepat:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu.”
Surah An-Nisa tidak datang dengan kisah heroik.
Ia datang membawa hukum.
Dan hukum selalu membuat yang nyaman mulai gelisah.
Surah ini dimulai dengan pengakuan bahwa manusia berasal dari satu jiwa.
Satu asal.
Satu martabat.
Namun dalam praktik, yang lemah sering diperlakukan seperti angka.
Perempuan, anak yatim, rakyat kecil—semuanya disebut jelas di sini.
Seolah langit tahu siapa yang paling sering diabaikan di bumi.
“Berikanlah kepada anak yatim harta mereka.”
Kalimatnya pendek.
Tidak multitafsir.
Tidak butuh tim ahli untuk memahaminya.
Namun sejarah pemerintahan mana pun selalu punya cerita tentang amanah yang dikelola terlalu kreatif.
Kreatif sampai lupa batas.
Surah ini keras dalam urusan warisan.
Detail.
Proporsional.
Karena harta selalu jadi sumber konflik.
Dan konflik sering lahir dari kerakusan yang dibungkus dalih legalitas.
Langit sudah mengatur distribusi.
Manusia masih sibuk mencari celah.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak.”
Ayat ini seperti audit tahunan yang tak bisa ditunda.
Amanah bukan sekadar jabatan.
Ia kepercayaan publik.
Jika amanah diserahkan pada yang dekat, bukan yang layak,
maka ayat ini sedang dibaca dengan tangan gemetar.
Dan ketika berbicara tentang keadilan, QS 4 tidak bermain lunak.
“Berlaku adillah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.”
Ini bukan etika opsional.
Ini fondasi negara yang sehat.