KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #5

MEJA PERJANJIAN DAN NEGERI YANG GEMAR MENGINGKARI


Ketika Surah Al-Ma’idah dibuka, tidak ada basa-basi.

“Ayuhalladzina amanu, aufu bil ‘uqud.”

Wahai orang-orang beriman, penuhilah akad-akad itu.

Kalimat pertama sudah seperti sidang pembuka.

Ini bukan puisi.

Ini kontrak.


Akad berarti janji.

Janji kepada Tuhan.

Janji kepada manusia.

Janji kepada rakyat.

Dan sejarah selalu mencatat: yang paling sering diucapkan adalah janji.

Yang paling sering dilupakan juga janji.


QS 5 berdiri di atas kata “penuhi.”

Bukan “rencanakan.”

Bukan “usahakan.”

Tapi penuhi.

Namun dalam praktik pemerintahan, kata itu sering diterjemahkan menjadi “nanti kita evaluasi.”

Janji menjadi fleksibel.

Akad menjadi bahan negosiasi.


Surah ini juga berbicara tentang halal dan haram.

Tentang batas yang jelas.

Tentang aturan makan, berburu, berinteraksi.

Langit menggambar garis tegas.

Manusia sering sibuk menghapusnya perlahan.

Bukan terang-terangan.

Tapi melalui regulasi yang licin.


“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS 5:8).

Ayat ini seperti teguran langsung bagi sistem yang selektif.

Adil bukan kepada kawan saja.

Adil bukan hanya saat kamera menyala.

Adil bahkan ketika berhadapan dengan lawan.

Keadilan yang bersyarat bukan keadilan.

Itu strategi.


QS 5 juga menyinggung pengkhianatan Bani Israil terhadap perjanjian.

Mereka diberi amanah.

Lalu mengingkarinya.

Lihat selengkapnya