Surah Al-An’am tidak dimulai dengan hukum teknis.
Ia dimulai dengan fondasi.
Tauhid.
Tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi.
Tentang siapa yang mengatur terang dan gelap.
Dan di negeri yang sering sibuk mengatur citra, ayat-ayat ini seperti audit eksistensial.
“Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang.” (QS 6:1).
Terang dan gelap berasal dari sumber yang sama.
Namun manusia sering mengklaim terang sebagai prestasi,
dan menyalahkan gelap pada pihak lain.
Padahal keduanya bagian dari ujian.
QS 6 menyerang akar kesyirikan.
Bukan hanya menyembah patung.
Tapi menyekutukan nilai.
Ketika kekuasaan dijadikan pusat kebenaran,
ketika suara mayoritas dianggap standar moral,
di situlah tauhid mulai terkikis halus.
Surah ini menolak kompromi.
“Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Kalimat ini sederhana.
Tapi berat bagi mereka yang ingin Tuhan di ruang ibadah saja,
sementara keputusan publik bebas nilai.
QS 6 juga menyinggung kaum yang meminta mukjizat,
tapi tetap menolak ketika diberi tanda.
Mereka ingin bukti.
Lalu mencari alasan.
Sejarah selalu punya tipe ini.
Dan mereka sering duduk nyaman di kursi tinggi.
Surah ini berbicara tentang wahyu yang dianggap dongeng.
Tentang ayat yang disebut mitos.
Tentang kebenaran yang dianggap mengganggu stabilitas.
Tauhid selalu mengusik kepentingan.
Karena ia memusatkan loyalitas hanya kepada Allah.
QS 6 membongkar logika manipulatif.
Tentang mereka yang mengharamkan dan menghalalkan tanpa dasar.
Yang membuat aturan sesuai selera.
Yang mengklaim keputusan sebagai kehendak Tuhan,
padahal hanya strategi kekuasaan.