Surah Al-A’raf tidak datang dengan bisikan lembut.
Ia datang dengan kisah.
Kisah tentang umat-umat yang merasa besar.
Yang merasa stabil.
Yang merasa tak tergoyahkan.
Dan selalu berakhir sama.
Surah ini dibuka dengan peringatan agar tidak ada kesempitan dada saat menyampaikan kebenaran.
Kebenaran memang sering membuat tidak nyaman.
Terutama bagi yang duduk terlalu lama di kursi empuk.
Karena kebenaran tidak pandai berkompromi.
QS 7 langsung membawa kita ke awal tragedi: Iblis menolak sujud.
Alasannya klasik.
Merasa lebih baik.
Merasa lebih layak.
Kesombongan selalu terlihat elegan di awal.
Lalu menghancurkan di akhir.
Iblis tidak membantah Tuhan secara frontal.
Ia berdalih.
Ia berargumentasi.
Ia menggunakan logika.
Kesalahan terbesar bukan pada ketidaktahuan.
Tapi pada keangkuhan.
Surah ini seperti cermin bagi siapa pun yang merasa posisi tinggi adalah bukti kebenaran.
Padahal sejarah menunjukkan, kejatuhan selalu dimulai dari rasa lebih unggul.
Dan rasa unggul sering tumbuh subur di sekitar kekuasaan.
QS 7 lalu memutar rekaman umat-umat terdahulu.
Nuh.
Hud.
Shalih.
Luth.
Syu’aib.
Semua membawa pesan yang sama: luruskan penyembahan, tegakkan keadilan.
Semua ditolak oleh elite kaumnya.
Penolakan mereka bukan karena kurang bukti.
Tapi karena ancaman terhadap status quo.
Ketika tauhid datang, ia mengganggu kepentingan.
Ia mengusik kenyamanan.
Ia menuntut perubahan.