Surah Al-Anfal turun setelah perang.
Bukan sebelum.
Bukan saat strategi disusun.
Tapi setelah kemenangan dirasakan.
Dan justru di situlah ujian sebenarnya dimulai.
“Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang.”
Pertanyaan pertama bukan tentang taktik.
Bukan tentang keberanian.
Tapi tentang pembagian.
Tentang siapa mendapat apa.
Sejarah selalu jujur pada titik ini:
kemenangan sering memecah lebih cepat daripada kekalahan.
QS 8 langsung menutup pintu ego.
“Katakanlah: harta rampasan itu milik Allah dan Rasul.”
Artinya sederhana.
Kemenangan bukan milik individu.
Bukan milik elite.
Bukan milik kelompok paling keras bersuara.
Namun manusia cepat lupa.
Setelah bahaya berlalu,
klaim mulai bermunculan.
Siapa paling berjasa.
Siapa paling berhak.
Siapa paling dekat dengan pusat kekuasaan.
Surah ini mengingatkan tentang Perang Badar.
Jumlah sedikit.
Peralatan minim.
Kemenangan datang bukan karena superioritas logistik.
Tapi karena pertolongan yang tak terlihat.
Dan itulah yang sering dihapus dari narasi resmi.
“Bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah.” (QS 8:17).
Kalimat ini menghancurkan mitos kepahlawanan yang berlebihan.
Ia memotong glorifikasi diri.
Ia menegaskan bahwa manusia hanyalah alat.
Namun kekuasaan gemar membangun patung atas namanya sendiri.