KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #9

SURAT TANPA BASMALAH DAN NEGERI TANPA MALU

Surah At-Tawbah tidak dibuka dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Tidak ada kalimat lembut.

Tidak ada pengantar kasih.

Ia datang seperti pengumuman darurat.

Karena ketika pengkhianatan sudah terang-terangan, bahasa tidak lagi perlu sopan.


Surah ini turun di tengah realitas yang telanjang.

Perjanjian dilanggar.

Kesetiaan dipermainkan.

Agama dijadikan tameng.

Dan kemunafikan tidak lagi berbisik—ia berdiri di podium.


QS 9 membuka dengan deklarasi pemutusan hubungan terhadap pengkhianat.

Ini bukan emosi.

Ini konsekuensi.

Karena perjanjian yang dikhianati berulang kali bukan lagi kelalaian.

Itu pola.


Surah ini membedakan dengan tegas.

Siapa yang setia.

Siapa yang pura-pura.

Siapa yang menyumbang dengan ikhlas.

Siapa yang berinfak sambil menunggu kamera.


“Dan di antara mereka ada yang mencela engkau tentang sedekah.” (QS 9:58).

Kritik yang lahir bukan karena cinta kebenaran,

tapi karena tidak kebagian.

Moralitas sering dipakai sebagai topeng kekecewaan pribadi.


QS 9 membongkar kaum munafik tanpa sensor.

Mereka shalat,

tapi malas.

Mereka berinfak,

tapi terpaksa.

Mereka bersumpah,

tapi hati mereka kosong.

Religius di panggung.

Kosong di ruang keputusan.


Lihat selengkapnya