Surah Yunus tidak dimulai dengan perang.
Ia dimulai dengan tuduhan.
Bahwa wahyu hanyalah cerita lama.
Bahwa kebenaran hanyalah karangan.
Bahwa peringatan hanyalah ancaman kosong.
Dan sejarah selalu mengulang nada yang sama ketika kebenaran terasa mengganggu.
“Apakah manusia menjadi heran bahwa Kami memberi wahyu kepada seorang lelaki di antara mereka?” (QS 10:2).
Keheranan bukan karena kurang bukti.
Tapi karena pesan itu merobohkan hierarki.
Wahyu datang bukan kepada elite.
Bukan kepada pemilik modal.
Tapi kepada manusia biasa.
Dan itu mengusik struktur.
QS 10 berbicara tentang orang-orang yang meminta percepatan azab.
Seolah menantang.
Seolah kebal.
Seolah hukum Tuhan tunduk pada kalender politik.
Ini bukan keberanian.
Ini rasa aman yang berlebihan.
Surah ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah permainan sementara.
Seperti hujan yang menyuburkan tanah.
Lalu tanaman tumbuh.
Indah.
Lalu tiba-tiba musnah.
Kekuasaan sering terlihat kokoh.
Sampai satu hari ia menjadi catatan kaki.
QS 10 juga menyorot kaum Nabi Yunus.
Satu-satunya kaum yang selamat karena bertobat sebelum terlambat.
Mereka sadar sebelum dihancurkan.
Itu pengecualian dalam sejarah.
Karena kebanyakan baru sadar ketika semuanya sudah runtuh.
Surah ini menggambarkan manusia yang hanya ingat Tuhan saat terdesak.
Ketika badai datang.