Surah Yusuf bukan kisah perang.
Bukan kisah kehancuran massal.
Ia kisah keluarga.
Iri hati.
Fitnah.
Kekuasaan.
Dan bagaimana moral diuji bukan di medan tempur, tapi di ruang tertutup.
Kisah dimulai dengan mimpi.
Seorang anak kecil melihat bintang-bintang bersujud.
Ayahnya tahu itu pertanda besar.
Saudara-saudaranya tahu itu ancaman.
Sejarah sering menunjukkan: ancaman terbesar bagi yang mapan adalah potensi yang belum tumbuh.
Yusuf dibuang ke sumur.
Bukan oleh musuh.
Oleh saudara.
Pengkhianatan paling menyakitkan selalu datang dari lingkaran terdekat.
Dan politik tidak asing dengan pola ini.
QS 12 memperlihatkan bagaimana kebencian bisa dibungkus narasi moral.
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia.”
Kalimat ini lahir dari rasa tidak aman.
Bukan dari keadilan.
Rasa takut kehilangan perhatian sering berubah menjadi kezaliman yang sistematis.
Yusuf dijual.
Murah.
Seperti komoditas.
Harga ditentukan pasar.
Nilai ditentukan kepentingan.
Bukankah ini metafora yang terlalu jelas tentang bagaimana integritas sering diperdagangkan?
Masuk ke istana.
Istri pejabat tertarik.
Godaan datang bukan dalam bentuk ancaman,
tapi kemewahan.
Kekuasaan sering menggoda bukan dengan tekanan,
tapi dengan fasilitas.
Yusuf menolak.
Di tengah pintu tertutup.