Surah Ibrahim tidak dimulai dengan ancaman.
Ia dimulai dengan misi.
“Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari gelap kepada terang.”
Gelap.
Terang.
Bukan sekadar metafora.
Ia keadaan moral.
QS 14 berbicara tentang cahaya.
Namun cahaya selalu terasa menyakitkan bagi mata yang terbiasa gelap.
Kebenaran bukan hanya soal tahu.
Ia soal berani meninggalkan zona nyaman.
Surah ini menggambarkan para rasul yang ditolak.
Bukan karena pesan tidak jelas.
Tapi karena pesan itu mengganggu struktur.
Mengancam monopoli makna.
Mengusik kekuasaan lama.
“Dan mereka berkata: kami akan mengusirmu dari negeri kami.”
Kalimat klasik.
Seolah negeri milik segelintir.
Seolah kebenaran harus tunduk pada izin elite.
Sejarah terlalu sering mendengar kalimat ini.
QS 14 menyingkap ilusi penguasa.
Mereka merasa aman karena jumlah.
Karena kekuatan.
Karena kontrol.
Namun surah ini menegaskan:
semua itu fana.
Yang kekal hanya hukum Tuhan.
Surah ini menyentuh tentang hari ketika para pemimpin dan pengikut saling menyalahkan.
Pemimpin berkata: aku hanya mengajak.
Pengikut berkata: kami hanya mengikuti.
Tidak ada yang mau bertanggung jawab.
Padahal pilihan selalu ada.