Surah Al-Hijr dibuka dengan pernyataan yang tenang namun mengguncang:
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula yang menjaganya.” (QS 15:9).
Kalimat ini seperti garis batas.
Wahyu tidak bergantung pada sensor.
Tidak tunduk pada opini.
Tidak perlu perlindungan politik.
QS 15 turun di tengah ejekan.
Kebenaran disebut dongeng.
Nabi disebut orang gila.
Pesan disebut ilusi.
Dan sejarah selalu punya fase di mana suara moral dianggap gangguan stabilitas.
Surah ini mengingatkan kembali pada kisah Iblis.
Kesombongan pertama dalam sejarah.
Menolak perintah karena merasa lebih baik.
Narasinya elegan.
Logikanya terdengar rasional.
Tapi akarnya tetap satu: ego.
Iblis tidak menyangkal Tuhan.
Ia hanya menolak tunduk.
Kesalahan terbesar bukan pada pengetahuan.
Tapi pada ketidakmauan merendah.
QS 15 seperti sindiran halus bagi siapa pun yang tahu kebenaran, namun menunda ketaatan.
Surah ini menggambarkan kaum terdahulu yang mendustakan para rasul.
Mereka meminta malaikat turun.
Mereka menuntut tanda spektakuler.
Padahal tanda sudah jelas.
Masalahnya bukan kurang bukti.
Masalahnya kurang ketulusan.
QS 15 berbicara tentang negeri-negeri yang dihancurkan.
Bukan karena miskin.
Bukan karena lemah militer.