Surah An-Nahl dikenal sebagai Surah Nikmat.
Namun ia tidak romantis.
Ia seperti laporan inventaris langit yang dibacakan dengan nada serius.
Udara.
Air.
Hewan ternak.
Rezeki.
Keamanan.
Semua disebut.
Semua dicatat.
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS 16:18).
Kalimat ini bukan puisi.
Ia fakta.
Tapi manusia punya kebiasaan aneh:
menikmati nikmat sambil mengeluh.
Mengambil manfaat sambil menolak sumbernya.
QS 16 berbicara tentang lebah.
Makhluk kecil.
Disiplin.
Terstruktur.
Menghasilkan madu.
Bekerja dalam sistem yang rapi tanpa rapat panjang.
Satirnya jelas:
alam taat tanpa drama.
Manusia sering gaduh tanpa hasil.
Surah ini menyinggung ekonomi.
Tentang rezeki yang diberikan.
Tentang distribusi.
Tentang perdagangan yang jujur.
Namun di banyak negeri,
ketimpangan dianggap wajar.
Ketidakadilan dianggap konsekuensi.
Seolah nikmat adalah hak eksklusif.
QS 16 juga menyentuh tentang sumpah palsu demi keuntungan.
Tentang perjanjian yang dipermainkan.
Tentang janji yang dijual murah.
Ayat ini tidak menyebut jabatan.