Surah Al-Isra dibuka dengan satu peristiwa yang melampaui logika: perjalanan malam.
Isra’.
Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
Bukan sekadar perjalanan fisik.
Ia deklarasi bahwa kekuasaan Tuhan melampaui batas geografis dan politik.
Ketika manusia sibuk membangun simbol kejayaan,
QS 17 mengingatkan bahwa kehormatan sejati bukan pada bangunan,
tapi pada ketaatan.
Perjalanan Nabi bukan tur diplomatik.
Ia penguatan ruh di tengah tekanan sosial dan politik.
Surah ini segera berbicara tentang Bani Israil.
Bangsa yang diberi kitab.
Diberi nikmat.
Diberi peringatan.
Namun berulang kali merusaknya sendiri.
Pola lama.
Masih segar.
“Kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi dua kali.” (QS 17:4).
Ayat ini bukan nostalgia sejarah.
Ia pola sosiologis.
Ketika kitab dijadikan simbol, bukan pedoman,
kerusakan menjadi siklus.
QS 17 mengingatkan bahwa kemuliaan bisa dicabut.
Bahwa kekuatan bisa dipatahkan.
Bahwa stabilitas bisa runtuh.
Bukan oleh musuh saja.
Tapi oleh pengingkaran sendiri.
Surah ini juga memuat sepuluh perintah moral.
Jangan menyekutukan Allah.
Berbuat baik pada orang tua.