Surah Al-Kahf bukan sekadar kisah.
Ia peta ujian.
Ujian iman.
Ujian harta.
Ujian ilmu.
Ujian kekuasaan.
Empat bab.
Empat luka yang sering tak diakui.
Kisah pertama: para pemuda yang lari ke gua.
Mereka bukan pengecut.
Mereka menolak tunduk pada tirani.
Ketika penguasa memaksa keyakinan,
mereka memilih sepi daripada palsu.
Kesepian lebih terhormat daripada kompromi iman.
Mereka tidur.
Tahun berganti.
Rezim berganti.
Dan ketika mereka bangun, sistem yang menekan sudah runtuh.
QS 18 seperti berbisik:
tirani tidak abadi.
Kesabaran lebih panjang dari kekuasaan.
Kisah kedua: dua kebun.
Satu kaya.
Satu sederhana.
Yang kaya berkata, “Hartaku tak akan habis.”
Arogansi klasik.
Seolah stabilitas ekonomi adalah jaminan keselamatan moral.
Hujan turun.
Kebun hancur.
QS 18 tidak butuh komentar panjang.
Ia hanya menunjukkan akibat.
Harta tanpa syukur berubah jadi debu.