Surah Maryam tidak dibuka dengan perang.
Tidak dengan ancaman kolektif.
Ia dimulai dengan satu suara tua yang berdoa pelan.
Zakaria.
Doa dalam sunyi.
Doa yang hampir mustahil secara logika.
“Rabbi inni wahana al-‘azhmu مني…”
Ya Tuhanku, tulangku telah lemah.
Kalimat ini rapuh.
Jujur.
Tanpa pencitraan.
Berbeda dengan pidato yang selalu tampak kuat.
QS 19 memperlihatkan bahwa perubahan besar sering lahir dari doa yang tak terdengar publik.
Bukan dari deklarasi megah.
Bukan dari konferensi pers.
Tapi dari hati yang benar-benar berharap.
Zakaria meminta anak di usia senja.
Secara biologis sulit.
Secara statistik kecil.
Namun Tuhan menjawab.
Yahya lahir bukan dari peluang besar.
Tapi dari keyakinan yang tak padam.
Kemudian Maryam.
Perempuan yang memilih menyepi.
Menjauh dari sorotan.
Di saat dunia ramai menilai,
ia dipilih untuk amanah terbesar.
Keheningan kadang lebih subur dari keramaian.
QS 19 menggambarkan Maryam sendirian saat melahirkan.
Sakit.
Takut.
Tertekan.
Ia berharap andai dilupakan saja.