Surah Ta-Ha tidak turun untuk membuat Nabi gelisah.
Ia turun untuk menenangkan.
“Ta-Ha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar engkau susah.”
Kalimat pembuka yang lembut.
Namun isi setelahnya tajam seperti cahaya di ruang gelap.
Surah ini membawa kita ke lembah suci.
Musa dipanggil di tengah sunyi.
Api yang awalnya disangka biasa,
ternyata wahyu.
Pelajaran pertama: tidak semua yang tampak kecil itu biasa.
“Tanggalkanlah sandalmu.”
Perintah sederhana.
Namun simbol besar.
Ketika memasuki wilayah kebenaran,
kesombongan harus dilepas.
Tidak ada jabatan di hadapan wahyu.
QS 20 mempertemukan dua kutub: Musa dan Fir’aun.
Yang satu membawa tongkat.
Yang satu membawa tahta.
Yang satu bersandar pada Tuhan.
Yang satu bersandar pada rasa takut yang ia ciptakan.
Fir’aun bukan sekadar tokoh.
Ia mentalitas.
Merasa paling tinggi.
Merasa paling benar.
Mengklaim stabilitas sebagai bukti legitimasi.
Dan selalu alergi pada kritik.
Musa datang dengan kalimat sederhana:
“Apakah engkau ingin menyucikan diri?”
Tidak ada ancaman di awal.
Hanya ajakan.
Namun bagi penguasa yang mabuk kuasa,