KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #22

TAKBIR DI LISAN, KEADILAN DI UJUNG TANDA TANGAN

Kalau di QS 21 kita dengar sirene hisab, maka di gerbang berikutnya kita masuk ke Surah Al-Hajj. Namanya Haji. Ibadah agung. Ritual suci. Tapi jangan salah. Surah ini bukan cuma soal thawaf dan talbiyah. Ini tentang guncangan. Tentang gempa kesadaran. Tentang Hari ketika bumi mengguncang manusia dari rasa amannya.

QS 22 dibuka dengan peringatan yang bikin bulu kuduk berdiri: gempa kiamat. Ibu lupa anaknya. Orang mabuk padahal tidak minum. Itu bukan efek ekonomi. Itu efek hisab. Surah ini langsung menampar rasa nyaman yang berlebihan. Stabilitas hari ini bukan jaminan esok.


Menariknya, setelah bicara kiamat, surah ini bicara tentang manusia yang berdebat tentang Allah tanpa ilmu. Tanpa petunjuk. Tanpa kitab. Debat kosong. Narasi dibangun bukan dari kebenaran, tapi dari kepentingan. Kedengarannya familiar.

QS 22 juga menyinggung tentang orang yang menyembah Allah di “tepi”. Kalau dapat untung, dia tenang. Kalau diuji, dia mundur. Iman model ini rapuh. Loyalitas bersyarat. Mirip dukungan politik yang cair tergantung cuaca.

Surah ini mengingatkan bahwa kekuasaan sejati milik Allah. Dia memberi. Dia mencabut. Tidak ada sistem yang terlalu besar untuk diguncang. Tidak ada struktur yang terlalu kuat untuk runtuh. Semua tergantung izin-Nya.

Masuk ke tema Haji. Ibadah yang menyatukan manusia tanpa kelas. Semua pakai ihram. Semua setara. Tidak ada VIP di hadapan Ka’bah. Ini sindiran elegan untuk dunia yang gemar membuat kasta. Di tanah suci, jabatan larut.

Lihat selengkapnya