KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #23

PROFIL ORANG BERUNTUNG DAN NEGARA YANG MERASA SUDAH BENAR

Jika pada Surah Al-Hajj standar kepemimpinan ditegaskan melalui takwa dan amanah, maka Surah Al-Mu’minun membuka bab baru dengan kalimat yang tegas dan tidak bisa ditawar: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” Ini bukan slogan motivasi. Ini deklarasi kriteria. Beruntung menurut langit, bukan menurut survei.

Surah ini tidak langsung berbicara tentang sistem. Ia mulai dari individu. Dari dalam diri. Dari kualitas shalat yang khusyuk. Artinya keberuntungan tidak lahir dari strategi publik, tetapi dari kesadaran privat. Negara bisa membangun citra religius, tetapi jika individu-individunya kosong dari kekhusyukan, fondasinya rapuh.

Khusyuk bukan sekadar diam. Ia hadirnya hati. Ia kesadaran penuh bahwa ada Yang Maha Melihat. Bayangkan jika setiap pengambil keputusan benar-benar merasa diawasi Allah, bukan hanya diawasi media. Mungkin banyak keputusan akan terasa lebih berat sebelum diteken.

QS 23 kemudian menyebut orang beriman sebagai mereka yang menjauh dari perbuatan sia-sia. Ini kalimat sederhana, tetapi menyakitkan bagi budaya yang gemar sensasi. Terlalu banyak energi dihabiskan untuk polemik, pencitraan, dan drama. Terlalu sedikit untuk substansi.

Setelah itu, surah ini berbicara tentang zakat dan menjaga kemaluan. Tentang integritas moral dan pengendalian diri. Pesannya jelas: keberuntungan tidak berdiri di atas kecerdikan, tetapi di atas disiplin etika. Tanpa kendali diri, kekuasaan hanya memperbesar kerusakan.

QS 23 juga menekankan amanah dan janji. Mereka yang beriman adalah yang memelihara amanah dan menepati janji. Ini standar yang konkret. Janji kampanye, janji reformasi, janji transparansi—semua masuk wilayah ini. Jika janji mudah diubah sesuai keadaan, maka yang runtuh bukan hanya reputasi, tetapi kepercayaan.

Surah ini lalu membawa pembaca pada kisah para nabi terdahulu. Nuh, Hud, Musa. Semua menghadapi kaum yang merasa sudah benar. Penolakan selalu dibungkus dengan rasa percaya diri kolektif. “Kami hanya mengikuti tradisi.” Kalimat klasik yang sering terdengar modern.

Lihat selengkapnya