KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #25

GARIS PEMISAH DAN WAJAH KEKUASAAN YANG ENGGAN BERKACA

Jika pada Surah An-Nur cahaya telah dinyalakan untuk membersihkan ruang publik, maka Surah Al-Furqan datang sebagai garis tegas yang memisahkan. Furqan berarti pembeda. Setelah terang menyinari, kini saatnya menentukan mana yang hak dan mana yang batil. Cahaya tanpa keberanian membedakan hanya akan menjadi dekorasi.

Surah ini dibuka dengan pengagungan terhadap Allah yang menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar menjadi peringatan bagi seluruh alam. Artinya, wahyu bukan hanya konsumsi privat. Ia bersifat publik. Ia mengoreksi peradaban. Maka siapa pun yang memegang amanah kekuasaan seharusnya merasa disapa lebih dahulu.

Namun sebagaimana pola yang berulang, para penentang berkata bahwa Al-Qur’an hanyalah dongeng orang terdahulu. Tuduhan klasik itu selalu muncul ketika kebenaran mengusik kepentingan. Mengingatkan pejabat bahwa kritik bukan ancaman, melainkan bagian dari fungsi pembeda.

QS 25 kemudian menggambarkan keberatan mereka terhadap Nabi: mengapa ia manusia biasa, mengapa ia makan dan berjalan di pasar. Seolah kebenaran harus tampil dengan kemewahan agar layak didengar. Padahal justru kesederhanaan itulah yang menelanjangi kesombongan sistem.

Surah ini bergerak dari penolakan menuju konsekuensi. Hari ketika orang zalim menggigit tangannya sendiri karena menyesal mengikuti jalan yang salah. Gambaran ini dramatis, tetapi realistis. Penyesalan selalu datang terlambat ketika pilihan telah menjadi sejarah.

QS 25 juga mengingatkan tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Inilah kritik paling tajam. Ketika kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan ditempatkan di atas kebenaran, maka sesungguhnya ia telah menyembah dirinya sendiri. Pejabat yang membaca ayat ini seharusnya berhenti sejenak.

Surah ini menyebut bahwa kebanyakan manusia tidak mau memahami dan tidak mau mendengar. Bukan karena kurang informasi, tetapi karena enggan berubah. Ini peringatan bahwa akses data dan teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Lihat selengkapnya