Dalam Al-Qur’an, Surah Asy-Syu‘ara (QS 26) seperti panggung besar yang menampilkan drama berulang: nabi datang membawa kebenaran, penguasa datang membawa kekhawatiran. Musa membawa wahyu, Fir‘aun membawa narasi tandingan. Yang satu mengajak tauhid, yang lain berbicara tentang stabilitas.
Dan sejarah selalu punya aktor baru.
Bahaya terbesar bagi sebuah negeri bukan ketika agama diserang dari luar. Itu mudah dikenali. Bahaya terbesar justru ketika agama dipeluk erat di depan kamera, dikutip lantang di podium, namun pelan-pelan dijahit menjadi jas resmi kekuasaan.
Ketika kepentingan pribadi memakai baju syariat, semuanya tampak suci. Kebijakan disebut “demi umat”. Proyek diberi nama religius. Anggaran diselipkan doa. Seolah-olah langit otomatis merestui setiap keputusan. Padahal yang diperjuangkan bukan keadilan, melainkan kenyamanan lingkaran.
Fir‘aun dalam QS 26 tidak pernah mengaku zalim. Ia justru menuduh Musa pembuat kerusakan. Betapa sering pola ini terulang: yang mengingatkan disebut provokator, yang mengkritik disebut tidak loyal, yang berbeda dianggap mengganggu persatuan. Satirnya, yang paling sering mengutip kisah Fir‘aun kadang tak sadar sedang menghidupkan mentalitasnya.
Ambisi jabatan pun kini pandai berdalih. Dalil menjadi ornamen pidato. Hadis menjadi pembuka seremoni. Ayat menjadi penutup konferensi pers. Semua terdengar islami. Namun keputusan tetap bermuara pada satu hal: mempertahankan kursi. Seakan-akan tak ada yang lebih sakral daripada jabatan.