Dalam Al-Qur’an, Surah An-Naml (QS 27) tidak menghadirkan tirani kasar seperti Fir‘aun. Ia menghadirkan potret yang lebih elegan: kerajaan mapan, sistem rapi, pasukan tertib, komunikasi lancar, dan pemimpin yang diberi legitimasi langit. Ini bukan kisah kekuasaan brutal. Ini kisah kekuasaan yang tampak saleh.
Justru di situlah sindirannya menjadi lebih halus—dan lebih tajam.
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki apa yang diidamkan banyak pemimpin: kekuatan militer, stabilitas politik, bahkan dukungan supranatural. Angin tunduk. Jin bekerja. Informasi intelijen datang dari burung hud-hud. Sebuah sistem yang, dalam bahasa modern, nyaris sempurna.
Namun ketika singgasana Ratu Balqis dipindahkan dalam sekejap, beliau tidak memamerkan keberhasilan itu sebagai bukti kejayaan personal. Beliau berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS 27:40).
Kalimat ini pendek. Tapi menghancurkan ego.
Kekuasaan, dalam logika wahyu, bukan hadiah. Ia ujian. Bukan panggung pujian. Ia ladang pertanggungjawaban.
Satirnya, banyak yang ingin meniru kejayaan Sulaiman—lengkap dengan narasi religius dan simbol-simbol kesalehan—tetapi lupa satu frasa penting: untuk mengujiku. Jabatan dianggap tanda dipilih Tuhan. Dukungan dianggap bukti paling benar. Elektabilitas disamakan dengan keberkahan.