Dalam Al-Qur’an, Surah Al-‘Ankabut (QS 29) dibuka dengan pertanyaan yang mengguncang rasa aman: apakah manusia mengira cukup dengan berkata “kami beriman” lalu dibiarkan tanpa ujian. Ayat ini seperti membongkar romantisme keberagamaan yang hanya berhenti pada slogan. Iman dalam logika wahyu bukan identitas, melainkan seleksi.
QS 29 menegaskan bahwa setiap klaim akan diuji. Bukan hanya diuji dengan kesulitan hidup, tetapi diuji dengan tekanan sosial, ancaman kehilangan posisi, dan godaan kenyamanan. Di sinilah satirnya menjadi relevan: banyak yang lantang menyatakan iman ketika situasi tenang, namun ketika kejujuran menuntut risiko, suara tiba-tiba mengecil. Ketika keadilan mengancam jaringan, sikap berubah menjadi kompromi.
Surah ini mengisahkan para nabi terdahulu seperti Nuh, Ibrahim, Lut, dan Syuaib. Polanya konsisten: kebenaran datang, lalu ditolak karena dianggap mengganggu tatanan. Kaum Nabi Nuh mengejek karena merasa aman dengan jumlah. Kaum Nabi Ibrahim marah karena tradisi disentuh. Kaum Nabi Lut menormalisasi penyimpangan lalu tersinggung ketika diingatkan. Kaum Nabi Syuaib gusar karena praktik ekonomi curang mereka diusik. Sejarah memperlihatkan bahwa yang sering ditolak bukan pesan spiritualnya, tetapi dampaknya terhadap kepentingan.