DI TENGAH gemuruh peradaban yang bangga akan gedung pencakar langit dan kecepatan digitalnya, kita telah menciptakan sebuah ironi memilukan. Sebuah tontonan yang disebut 'kemajuan', di mana setiap desahan napas bumi seolah menjadi mata uang. Simfoni alam yang seharusnya abadi kini meraung, bukan bernyanyi. Raungan kesakitan, karena setiap jengkalnya diukur, dihitung, dan dijual atas nama 'pembangunan'. Ini bukan lagi sekadar bentang alam; ini adalah saksi bisu kemunafikan abad ini, sebuah drama tanpa akhir yang diperankan oleh kita, dengan para penguasa sebagai sutradaranya.
DALAM tradisi yang mereka klaim mereka junjung, ada sebuah lembaran, sebuah ayat, yang mestinya menjadi lentera: Surah Ar-Rum, Ayat 30. Sebuah garis singkat, yang berbicara tentang 'fitrah Allah', tentang cetak biru ilahi yang tak terlukiskan. Sebuah kebenaran fundamental yang seharusnya menjadi kompas. Namun, bagi para 'pemimpin spiritual' yang dekat dengan kekuasaan, ayat ini tak lebih dari mantra kosong, hiasan pidato agar terlihat alim, atau yang lebih parah, alat pembenaran untuk segala kerusakan. 'Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah,' kata mereka, sambil mata berkedip licik, seolah-olah merekalah yang berhak mengubah tafsirnya sesuka hati.
FITRAH. Kata ini seharusnya adalah getaran jiwa, esensi murni yang tak ternoda. Ia adalah kecenderungan alami manusia untuk mengakui keesaan Tuhan, untuk berpegang pada kebenaran, untuk membangun tatanan yang adil dan seimbang. Ia adalah perangkat lunak bawaan, yang jika tidak dikorupsi oleh 'perubahan ciptaan Allah', akan menuntun pada kebaikan sejati. Tetapi lihatlah, para 'teknokrat' kita telah menemukan cara untuk memperkosa fitrah ini, menulis ulang kodenya, menyuntikkan virus keserakahan, dan merilis versi 'fitrah 2.0' yang hanya menguntungkan kroni-kroninya. Betapa biadabnya sebuah pemikiran yang mencoba merombak hukum ilahi demi kekuasaan fana!
LIHATLAH langit. Di sana, sang mentari masih setia menerangi, bulan masih setia mengorbit, dan musim masih berganti tanpa kompromi. Ada keteraturan, keseimbangan, dan harmoni yang sempurna. Itu semua adalah manifestasi dari 'fitrah Allah' yang tak pernah berubah. Alam semesta adalah ayat-ayat Tuhan yang terhampar luas, bukti nyata dari sebuah desain agung yang tak pernah cacat. Namun, bagi pemerintah kita, alam kini adalah daftar aset, deretan angka di neraca investasi. Mereka melihat hutan sebagai 'kayu', laut sebagai 'tambang', dan gunung sebagai 'tanah uruk'. Setiap pohon yang tumbang, setiap aliran sungai yang keruh, adalah korban bisu dari 'pembangunan megah berdarah' yang mereka paksakan.
DAN DALAM diri manusia, fitrah itu bersemayam sebagai akal, hati nurani, dan keinginan akan keadilan. Kita mendambakan kebenaran, menolak ketidakadilan, dan merindukan kedamaian. Ini bukan hasil pendidikan semata, melainkan gema dari cetak biru ilahi yang ada sejak kita dilahirkan. Sebuah panggilan internal menuju kebaikan, sebuah bisikan yang terus-menerus mengingatkan kita pada siapa diri kita sesungguhnya. Tetapi bisikan ini? Bisikan ini telah mati suri, dicekik oleh janji-janji manis yang tak pernah ditepati, dibungkam oleh intimidasi, dan dihancurkan oleh sistem yang dengan sengaja memelihara kebodohan dan ketakutan. Suara rakyat? Hanya dianggap gumaman recehan yang bisa diabaikan atau dibeli.
NAMUN, ayat tersebut juga memperingatkan: 'Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.' Sebuah frasa yang menggugah, sebuah teguran tajam. Ia bukan berarti alam tidak bisa berubah secara fisik, melainkan bahwa *hukum-hukum dasar* yang mengaturnya tak tergoyahkan. Dan fitrah manusia, sebagai bagian dari ciptaan itu, juga seharusnya tak berubah. Kebenaran fundamental itu abadi. Tetapi tunggu dulu! Frasa ini tentu saja punya pengecualian, bukan? Pengecualian agung yang mereka ciptakan sendiri: 'KECUALI JIKA ITU MENGUNTUNGKAN AGENDA KAMI!', 'KECUALI JIKA ITU BISA MENJADI PELUANG INVESTASI BARU!', 'KECUALI JIKA ITU BISA MEMPERPANJANG MASA JABATAN KAMI!'. Hukum ilahi pun bisa mereka 'revisi' dengan dalih 'kearifan lokal' atau 'urgensi nasional' yang hanya ada di kepala mereka.
TETAPI, inilah ironi terbesar. Sementara alam patuh pada fitrahnya, manusia—yang dianugerahi akal dan pilihan—justru seringkali mencoba memodifikasi, bahkan merusak fitrahnya sendiri. Kita membangun menara keserakahan, merancang sistem yang timpang, dan mengabaikan panggilan hati nurani demi keuntungan sesaat. Sebuah 'perubahan' yang bukan berasal dari Tuhan, melainkan dari tangan-tangan manusia itu sendiri, yang merasa lebih pintar dari Desainer Ilahi, dan lebih mempercayai lobi-lobi investor asing serta angka-angka proyek fiktif, daripada bisikan keadilan yang menggema dari jantung rakyatnya sendiri. Sungguh sebuah kekonyolan yang menyayat hati!