DI TENGAH kebisingan orasi politik dan khotbah-khotbah yang kering, ada sebuah bisikan dari masa lalu yang terus memanggil: Surah Luqman. Bukan sekadar deretan ayat, melainkan sebuah manuskrip kebijaksanaan, sebuah 'manual' kehidupan yang abadi, disampaikan melalui sosok Luqman al-Hakim kepada putranya. Sebuah cetak biru moralitas, kearifan, dan hubungan dengan Tuhan serta sesama. Ini adalah kisah tentang fondasi yang seharusnya tegak, tetapi kini, fondasi itu retak, bahkan nyaris ambruk, ditopang ilusi dan janji-janji palsu.
AYAT-AYAT awal Surah Luqman adalah pujian bagi Al-Qur'an sebagai 'petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan'. Sebuah janji agung, bahwa di dalamnya terdapat cahaya penerang jalan. Namun, ironisnya, di negeri ini, petunjuk itu seringkali hanya menjadi latar belakang poster, atau sekadar pengisi suara merdu di acara seremonial, sementara 'kebaikan' itu sendiri telah bermetamorfosis menjadi komoditas, bisa ditawar dan diperdagangkan di pasar kekuasaan. Rahmat? Ah, itu hanya milik segelintir elite yang lihai memainkan peran.
NASIHAT Luqman pertama yang menggema: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." Sebuah pondasi tauhid, ajakan untuk mengesakan Tuhan. Tetapi, mari kita jujur, di era modern ini, kemusyrikan bukan lagi soal menyembah berhala batu. Ia telah berevolusi menjadi kemusyrikan kekuasaan, harta, jabatan, bahkan figur politik. Bukankah kita telah menyaksikan bagaimana para 'pemimpin' disembah, diagungkan melebihi batas, seolah merekalah yang memegang takdir, bukan Tuhan? Ini kemusyrikan yang terbungkus rapi dalam jargon 'loyalis' dan 'pemersatu bangsa'.
KEMUDIAN, Luqman berpesan tentang berbakti kepada kedua orang tua, mengingatkan jerih payah sang ibu yang mengandung dan menyusui dalam keadaan lemah. Sebuah ajaran tentang *birrul walidain*, akar dari kasih sayang dan penghormatan. Tetapi, bagaimana mungkin kita bicara tentang berbakti kepada orang tua, jika negara ini, melalui kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak adil, justru seringkali membiarkan para orang tua tua renta berjuang sendiri, bahkan mati kedinginan di emperan toko, atau rumahnya digusur demi proyek pembangunan yang tak ramah rakyat? Di mana bakti itu di tengah deru eksploitasi dan ketidakpedulian?
LUQMAN juga mengingatkan tentang pengawasan Tuhan yang menyeluruh: "Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan ia berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)." Sebuah peringatan akan keadilan absolut. Setiap dosa, setiap ketidakadilan, sekecil apa pun, tidak akan luput. Namun, para pemegang tampuk kekuasaan di negeri ini tampaknya hidup dalam ilusi imunitas. Mereka merancang sistem hukum yang tumpul ke atas, dan tajam ke bawah. Mereka lupa, bahwa ada 'pengadilan' yang jauh lebih tinggi dan tak bisa disuap.
NASIHAT selanjutnya adalah perintah untuk mendirikan salat, menyuruh berbuat kebaikan (amar makruf), mencegah kemungkaran (nahi mungkar), dan bersabar atas cobaan. Pilar-pilar keislaman yang fundamental. Tetapi, betapa munafiknya! Kita melihat para 'pemimpin agama' atau ulama, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam amar makruf nahi mungkar, justru bersekutu dengan penguasa zalim. Suara mereka bungkam di hadapan korupsi dan ketidakadilan, atau bahkan menjadi corong pembenaran. Salat mereka mungkin khusyuk, tetapi hati mereka buta terhadap penderitaan umat. Mereka mengajarkan sabar, tetapi sabar itu hanya untuk rakyat jelata yang tertindas.