KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #32

KETIKA KEBANGKITAN HANYA JANJI KOSONG, DAN SUJUD JADI AKTOR POLITIK!

hiruk pikuk klaim pembangunan yang seolah tak berkesudahan, janji-janji kesejahteraan yang terus saja melayang, dan kegaduhan pencitraan yang tak henti-henti, ada sebuah bisikan keras dari Kitab Suci: Surah As-Sajdah. Ini bukan sekadar ayat-ayat yang memuji keagungan Tuhan, melainkan sebuah narasi fundamental tentang asal-usul, tujuan, dan akhir dari segala sesuatu. Sebuah kisah yang mestinya menancapkan kesadaran akan kefanaan dan pertanggungjawaban, tetapi kini, ia hanya menjadi latar belakang yang samar di panggung drama politik dan keagamaan yang penuh kepalsuan.


AYAT-AYAT awal Surah As-Sajdah menegaskan bahwa Al-Qur'an ini adalah kebenaran yang diturunkan dari Tuhan semesta alam, tanpa keraguan sedikit pun. Sebuah deklarasi absolut. Namun, betapa menggelikannya! Para pemimpin kita, yang mengaku menjunjung tinggi Kitab Suci ini, justru sering bertindak seolah-olah kebenaran itu adalah komoditas yang bisa dimanipulasi, ditafsirkan sesuai selera politik, atau bahkan disembunyikan demi kepentingan sesaat. Al-Qur'an, yang seharusnya menjadi pedoman hidup, kini hanya menjadi legitimasi untuk kebohongan dan penipuan.


KEMUDIAN, surah ini membawa kita pada penciptaan langit dan bumi dalam enam masa, dan bagaimana Tuhan bersemayam di atas 'Arsy. Sebuah pengingat akan kekuasaan absolut dan tatanan kosmik yang sempurna. Sebuah desain agung yang tak bisa ditandingi. Tetapi para 'arsitek pembangunan' kita? Mereka bertindak seolah-olah merekalah 'pencipta' sejati, merancang kota-kota megah di atas lahan yang dirampas, membangun infrastruktur di atas kerusakan lingkungan, semua dalam waktu singkat dan dengan anggaran yang membengkak. Mereka lupa, bahwa setiap 'ciptaan' mereka adalah parodi yang menyedihkan dari keagungan penciptaan Ilahi.


AYAT selanjutnya berbicara tentang betapa tiada penolong maupun pemberi syafaat selain Allah. Sebuah penegasan akan ketergantungan mutlak kepada-Nya. Namun, di bawah langit yang sama, kita menyaksikan ironi paling pahit: bagaimana para 'pemimpin' menempatkan diri mereka sebagai penolong tunggal, pembawa 'berkah' pembangunan, seolah rakyat tanpa mereka adalah lumpur tak berharga. Mereka membangun kultus individu, menuntut loyalitas buta, dan menganggap diri mereka pahlawan. Mereka lupa, bahwa singgasana kekuasaan mereka hanyalah pinjaman, dan 'syafaat' mereka hanyalah ilusi semu yang akan lenyap diterjang waktu.


SURAH ini juga dengan dramatis menggambarkan penciptaan manusia dari tanah, kemudian menjadikannya keturunan dari saripati air yang hina. Sebuah pengingat akan asal-usul yang rendah hati dan kefanaan kita. Namun, betapa cepatnya para 'elite' kita lupa! Mereka, yang juga berasal dari tanah dan air yang hina itu, bertingkah seolah-olah terbuat dari emas murni dan tak tersentuh oleh noda. Mereka membangun tembok-tembok arogansi, merasa lebih tinggi dari rakyat jelata yang mereka pimpin, lupa bahwa debu yang melekat di kaki rakyat jauh lebih mulia daripada kilauan palsu di mahkota kekuasaan mereka.


KEMUDIAN, Allah menyempurnakan bentuk manusia dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya, serta menganugerahi pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Sebuah karunia agung yang seharusnya digunakan untuk bersyukur dan mencari kebenaran. Tetapi para ulama 'pembisik raja' dan pemerintah yang tuli hati? Mereka memiliki telinga, tetapi tuli terhadap jeritan rakyat. Mereka memiliki mata, tetapi buta terhadap ketidakadilan yang merajalela. Mereka memiliki hati, tetapi hati itu telah membatu, tak tersentuh oleh kebenaran, hanya digerakkan oleh kepentingan dan intrik. Pendengaran, penglihatan, hati nurani mereka telah mati suri.

Lihat selengkapnya