LIHATLAH! Di antara gemerlap janji-janji yang dibungkus rapi, di balik tabir propaganda yang membutakan mata, ada sebuah kisah yang terukir abadi. Kisah tentang kehancuran yang tak terhindarkan, tercatat dalam Surah Saba'. Ini bukan sekadar mitos dari masa lalu, Saudaraku. Ini adalah ramalan, sebuah cermin yang memantulkan bayangan gelap masa kini. Sebuah drama tragis tentang bagaimana kenikmatan melimpah bisa berubah menjadi kutukan paling mematikan, dan bagaimana kepercayaan rakyat dihancurkan oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaga. Ini adalah kisaran tentang sebuah bangsa yang lupa diri, lupa Tuhan, dan pada akhirnya, lupa esensi kemanusiaan itu sendiri.
AYAT-AYAT pembuka Surah Saba' adalah guntur di langit yang cerah: Allah, Pemilik Segala Puji, Yang Maha Tahu setiap debu yang jatuh dan setiap tunas yang tumbuh. Tapi, DI SINI, DI SAAT INI, para 'pemimpin' kita bertindak layaknya dewa! Mereka mengklaim setiap prestasi sebagai mahakarya mereka, menutupi setiap aib dengan tumpukan dusta. Mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa langit punya mata, dan bumi punya telinga. Seolah-olah 'Tuhan' mereka adalah rating survei dan tepuk tangan massal, bukan Dzat yang Tak Terbantahkan, Yang Maha Melihat setiap benih kezaliman yang mereka tanam.
TERINGATKAH KAU kisah Daud dan Sulaiman? Para raja yang dianugerahi kekuasaan tak terbatas, tetapi sujud dalam ketaatan. Mereka menundukkan besi, angin, bahkan jin, demi membangun keadilan. Sekarang, bandingkan! Para penguasa di negeri ini diberikan 'nikmat' amanah, bukan untuk melunakkan hati rakyat dengan kebaikan, melainkan untuk melunakkan HUKUM demi kantong pribadi! Mereka tidak menundukkan angin, melainkan memutarbalikkan fakta. Mereka tidak menguasai jin, melainkan memelihara buzzer dan penipu! Di mana kemuliaan Daud, di mana kearifan Sulaiman, dibanding nafsu bejat para pemburu tahta dan harta ini?
"BERBUATLAH wahai keluarga Daud untuk bersyukur!" Begitu titahnya. Sebuah peringatan tajam: kekuasaan itu ujian, bukan tiket menuju pesta pora. Tapi apa yang terjadi? Para pejabat kita, dengan jubah 'pelayan rakyat' yang mereka kenakan, justru berenang dalam lautan kemewahan yang menjijikkan! Istana-istana megah, koleksi kendaraan mewah, dan gaya hidup hedonis dipertontonkan tanpa malu, di tengah ratapan kemiskinan yang merobek-robek. Syukur? Itu hanya kata-kata mati di pidato basi, sebuah topeng tebal yang menutupi wajah keserakahan tanpa batas.
DAN KINI, beralihlah ke tragedi Kaum Saba'. Sebuah bangsa yang dianugerahi 'dua kebun melimpah', kedamaian yang sempurna. Tapi mereka ingkar, congkak, dan akhirnya ditelan BAJIR BESAR. Apakah kau tak melihat? Bukankah negeri ini, tanah air kita, adalah Kaum Saba' yang baru? Hutan-hutan ditebang demi konsesi, laut dikeruk demi tambang, sawah-sawah digusur demi 'investasi'! Demi 'kemajuan' semu yang hanya memperkaya segelintir Bajingan! Kita sedang menciptakan BADAI kita sendiri, sebuah BANJIR BENCANA yang akan menyapu bersih bukan hanya harta, tapi juga martabat dan masa depan.