KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA

Ahmad Wahyudi
Chapter #35

FATIR: MENGUKIR KEKOSONGAN DI ATAS JANJI-JANJI TUHAN

DI BAWAH langit yang sama, setiap hari kita menyaksikan matahari terbit, dan setiap malam bintang-bintang berkelip, sebuah simfoni ciptaan yang sempurna. Surah Fatir (QS.35) dimulai dengan kemuliaan ini, memuji Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan dengan sayap-sayapnya. Sebuah pengingat tentang kebesaran yang tak terbatas, tentang kekuatan yang tak tertandingi. Namun, di bumi yang sama, di bawah sayap-sayap kekuasaan yang seharusnya melindungi, kita melihat sebuah paradoks yang menyakitkan: mereka yang mengaku wakil Tuhan justru mengukir kekosongan di atas janji-janji-Nya.


AYAT-AYAT awal ini, yang membicarakan tentang rahmat Allah yang tak terbatas, mengalir seperti embun pagi. Jika Allah membukakan rahmat bagi manusia, tiada yang dapat menahannya. Jika Dia menahannya, tiada pula yang dapat melepaskannya. Sebuah prinsip dasar tentang kedaulatan Ilahi. Namun, di tengah-tengah kita, para penguasa seringkali bertindak seolah merekalah pemegang kunci rahmat. Mereka bisa membuka pintu kesejahteraan bagi kroni-kroni mereka, dan menutupnya rapat-rapat bagi rakyat jelata. Rahmat Tuhan seolah diperjualbelikan, dimanipulasi, demi keuntungan segelintir. Mereka menciptakan sistem di mana rahmat itu harus melewati birokrasi yang rumit, pungutan yang tak wajar, seolah Tuhan pun butuh perantara yang korup.


KEMUDIAN, Surah Fatir berbicara tentang hakikat kehidupan duniawi ini yang hanya tipuan, dan peringatan agar manusia tidak terperdaya olehnya. Dunia ini adalah fatamorgana, sebuah janji palsu yang menggiurkan. Namun, para pemimpin kita seolah hidup dalam pesta abadi fatamorgana itu. Mereka membangun kemewahan di atas penderitaan, mendirikan kekuasaan di atas reruntuhan etika. Mereka merancang narasi kemajuan yang mengkilap, sementara di baliknya, fondasi keadilan rapuh digerogoti. Mereka adalah para pesulap dunia, yang membuat kita terkesima dengan ilusi, hingga kita lupa apa itu kebenaran sejati.


DAN MEREKA yang mengaku ulama, para 'ulama su'' itu, adalah penyokong utama ilusi ini. Mereka berdiri di mimbar-mimbar suci, berpidato tentang zuhud dan akhirat, tetapi mata mereka berbinar-binar memandang kilau dunia. Mereka menafsirkan ayat sesuai pesanan, membenarkan setiap kebijakan yang merusak, asalkan pundi-pundi mereka terisi dan posisi mereka aman. Mereka adalah peniup seruling di pesta fatamorgana itu, mengalunkan lagu-lagu palsu yang meninabobokan umat, membuat kita lupa bahwa ada bahaya yang mengintai.


Lihat selengkapnya