Zulbarakat, Agustus 2009
Aku terduduk goyah sembari menjinakkan pikiran yang belum sepenuhnya kembali dari alam mimpi. Kliyengan1. Lewat pandangan setengah kabur, aku tahu jika di depanku, bersimpuh seorang anak kecil dengan raut cemas, tapi cerewet.
“Mas! Bangun, Mas! Ada telepon,” katanya sambil menggoyang-goyangkan bahuku. Suaranya tajam. Terlalu nyaring untuk ukuran jam segini. “Cepat, ditunggu sekarang di bawah!”
Butuh beberapa detik bagiku untuk benar-benar memproses maksudnya. Lalu aku berdiri, masih dalam kondisi limbung, dan mulai berjalan mengikuti si bocah yang tampaknya tahu betul arah yang semestinya kupilih. Sebelum sampai, aku sempat berhenti depan wastafel untuk mencipratkan sedikit air ke wajah. Supaya air mukaku sedikit lebih segar. Tapi, percikan ini tampaknya tak banyak membantu. Wajahku tetap terasa seperti wajan bekas penggorengan: penuh jelantah, lengket, dan panas.
Sesampai di kantor pesantren, tepat di ruangan pojok, aku mendapati gagang telepon masih terangkat. Sambungannya hidup. Tanpa pikir panjang, aku segera meraihnya dan menempelkannya ke telinga.
Tak lama, suara yang begitu kukenal menyergap dari seberang. “Gimana, Fath? Sudah dipikirkan matang-matang?”
“Apanya, Bu?” tanyaku balik, pelan, sambil mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang masih tercecer entah di mana.
“Beasiswanya… kuliah kamu itu, lo. Maaf ya… ibu sekarang malah jadi ragu-ragu. Tadi Pak Carik sewaktu di balai desa bilang kalau biaya kuliah yang nggak ditanggung beasiswa itu besar. Dan Ibu harus nyiapkan tabungan yang banyak. Ibu takut nggak mampu, Fath … Ibu cuma takut kuliahmu nanti nggak selesai.”
Nada suara perempuan penuh perjuangan itu berubah. Kini terdengar lebih pelan, seperti seseorang yang bicara sambil memendam letih.
“Mas-mas dan mbakyu-mbakyumu juga bilang begitu. Mereka minta Ibu untuk mikir ulang. Tadi Mas Ahmad ngomong, katanya sih mau bantu, tapi … suaranya seperti setengah hati. Ibu jadi kepikiran terus. Bagaimana ini, Fath?”
Aku terdiam. Malam itu, suara yang seumur-umur kukenal sebagai suara paling teguh dalam hidupku, tiba-tiba menjelma ragu.
Spontan aku memejamkan mata agak lama. Dan dalam gelap yang menggantung di balik palpebra2, muncul kilatan samar. Kilasan fosfen3 kecil yang seketika berpendar membentuk wajah Pak Carik, lalu memudar kembali menjadi wujud yang tak kukenali. Pada titik itu, aku bertanya dalam hati setengah tak percaya: Pak Carik… apa ia sedang melakoni sandiwara?
Masih teringat dengan jelas ketika bulan Mei lalu, ia, pak carik kami di kampung, menjadi orang yang paling bersemangat memotivasiku untuk segera mengurus pindah domisili. Katanya, kesempatan penerimaanku di UGM akan lebih besar sebagai warga ber-KTP DIY ketimbang warga Jawa Tengah. Ia juga yang rela mengganti uang apesku setelah serangkaian tragedi sial menemuiku siang itu, mulai dari ban bocor, helm hilang, hingga tilang polisi usai pulang dari kantor Disdukcapil. Dan kini, bagaimana mungkin ia juga menjadi provokator yang menggembosi semangat ibuku?
Mas Ahmad sama saja dengan pak carik! Sulit kupercaya jika ipar sulungku itu, yang sebelumnya menjadi orang pertama di keluarga yang paling antusias mendukung kelulusanku atas program beasiswa ini, kini ikut-ikutan ragu. Dulu, semangatnya begitu meyakinkan. Tak ada keraguan sedikit pun. Lalu ke mana perginya keyakinan itu sekarang? Bukankah seharusnya ia bangga ketika aku, adik iparnya, bisa menyusulnya menjadi bagian dari almamater yang sama? Dan satu hal yang selama ini terus mengganjal dan berputar-putar dalam kepalaku, tapi belum pernah benar-benar kuucapkan: perlukah kuingatkan kalau ia tak harus selalu merasa terbebani memikul peran sebagai pengganti almarhum Bapak?
Aku masih terduduk di ruangan kecil itu, menunduk dalam diam, mencoba memahami semuanya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah aku akan gagal kuliah di UGM, bahkan sebelum semuanya dimulai? Pikiranku mulai panik, setengah takut. Suara ibu dari seberang masih terdengar, tenang tapi amat berat.