Klamer Adam

Sukron Tajudin
Chapter #2

Hari Pertama Kuliah

Loket kemahasiswaan sudah dijejali puluhan maba saat aku tiba. Mereka mengerubungi papan pengumuman dari segala arah, membuat area itu nyaris tanpa celah. Begitu sesaknya, bahkan untuk sekadar mengintip saja pun sulit. Yang tak kebagian tempat terpaksa duduk lesehan di lantai. Mereka memenuhi tiap jengkal ruang yang ada hingga menyisakan lorong sempit selebar satu meter saja agar orang masih bisa melintas.

“Ada beberapa pengumuman,” seru seorang jangkung di tengah keramaian. Posturnya yang menjulang membuatnya mudah dikenali di antara lautan kepala. Dan karena itu pula, beberapa dari kami mesti mendongak agar bisa menyimak kalimat yang keluar dari mulutnya dengan jelas.

“Kelas dibagi dua ya … ganjil dan genap,” lanjutnya. “Jadwal kuliah masing-masing kelas juga berbeda. Karena jumlah kita sekitar 120-an, maka di setiap kelas akan ada 60-an mahasiswa. Kelas ganjil akan menempati ruang A1, E, dan H1, sementara kelas genap di ruang A2, I, dan H2. Selain itu, DPA-nya (singkatan dari Dosen Pembimbing Akademik) juga sudah dibagi. Satu DPA membimbing sekitar enam sampai delapan orang. Nanti bisa cek sendiri di akun masing-masing.”

Setelah si jangkung selesai menjelaskan, suasana kembali riuh. Suara logat Batak terdengar membaur dengan gaya bicara gue-elo. Guyonan ngapak bersahutan dengan gaya khas Ngalam. Dan dari bangku sebelah kiriku, terdengar seorang mahasiswi terus nyerocos melontarkan kata "ambo" diikuti kata-kata berakhiran vokal "o". Semua orang bicara nyaris bersamaan seolah tak ada yang mau menunggu giliran.

Di tengah kerumunan, terdapat beberapa wajah yang sempat membuatku pangling. Mereka yang saat ospek kemarin tampak lusuh dan kusam kini menjelma bening nan jelita. Rambut mereka tertata rapi seolah baru keluar dari salon. Pakaian mereka serasi dan penuh gaya. Sepatu mereka juga bersih sekaligus mengilap. Mereka tampil atraktif nan penuh percaya diri, seakan sudah siap sepenuhnya untuk menghadapi dunia baru di kampus ini.

Khatam mengamati penampilan mereka, kuedarkan pandanganku ke lingkungan sekeliling, mencoba memotret suasana yang mungkin akan lebih bermakna dari sekadar obrolan ngalor ngidul tak jelas.

Pagi itu, kami tengah berada di lantai dua sebuah gedung lima lantai yang difungsikan sebagai Rumah Sakit khusus Gigi dan Mulut (biasa disingkat RSGM). Menurut penjelasan dekan saat ospek kemarin, gedung ini baru diresmikan empat tahun yang lalu. Dan sejak saat itu, bangunan ini telah menjadi pusat pelayanan bagi pasien sekaligus tempat pendidikan dan penelitian bagi mahasiswa.

Seketika senyum kecil terurai di bibirku. Sekelebat kenangan akan tour de faculty selama ospek melintas di benak, mengingatkan sebuah momen yang singkat tapi sangat berkesan bagiku. Dalam tur itu, kami menelusuri tiap jengkal bangunan yang ada di dalam fakultas. Kami sempat melewati ruang-ruang berpendingin dengan aroma antiseptik khas, mendengarkan desis putaran bor dalam kubikel-kubikel berkeramik bersih sekaligus mengilat, serta menelusuri lorong-lorong panjang di balik bilik sarat pengetahuan. Semuanya menyisakan rasa ingin tahu yang mendalam. Membangkitkan semangat yang menyala ketika membayangkan nantinya kami bisa belajar langsung di dalam sana.

Keramaian perlahan mereda tatkala seorang mahasiswa yang duduk di deretan bangku depan berseru cukup nyaring, “Teman-teman, udah jam sepuluh kurang lima! Ayo cus ke ruang A. Semangat ya kuliah perdananya!”

Sontak, hampir semua orang mengecek jam tangan atau gawainya masing-masing. Kami pun mulai beringsut, meninggalkan tempat berkumpul menuju ruang kuliah. Karena ruang A1 dan A2 bersebelahan, jalur tempuh kami menuju ruang kuliah pun pun sama.

Begitu melangkah keluar dari gedung RSGM, pemandangan menyegarkan langsung menyambut: Taman Canina (dibaca kanina, dengan "k" bukan "c"). Ruang terbuka hijau ini menjadi semacam jantung fakultas, tempat bersilangan jalan dari empat arah sekaligus titik pertemuan antar gedung. Taman itu ukurannya tak luas, tapi tertata rapi. Rumputnya dipangkas merata, pepohonannya rindang, dan jalur setapaknya mengarah ke berbagai penjuru.

Jika berdiri di tengah taman, akan tampak barisan gedung kampus mengelilingi membentuk sebuah lingkaran. Deretan bangunan searah jarum jam mulai dari barat, yakni: Gedung Sutatmi Suryo, Harkati Dewanto, Subagyo HW, Margono Suradji, gedung laboratorium preklinik, dan tentu saja RSGM—tempat kami baru saja keluar. Masing-masing memiliki fungsi dan perannya sendiri. Dalam hati, aku berjanji akan mengenalinya satu per satu, menelusurinya perlahan, dan belajar menaklukkannya seiring waktu. Bagi kami semua, hari ini bukan sekadar hari pertama kuliah. Ini adalah langkah awal dari perjalanan panjang yang akan mengubah banyak hal.

Kuliah pertama kami pagi itu adalah Genetika. Diawali seorang dosen perempuan senior dari Fakultas Kedokteran yang memasuki ruangan dengan langkah tenang, lalu membuka pertemuan dengan perkenalan singkat. Suaranya jernih, menuntun kami pada lembar kontrak perkuliahan berisi empat belas topik yang akan mengisi perjalanan kami selama satu semester ke depan. Dengan cekatan, ia meraih daftar presensi di atas meja, lalu mulai memanggili nama kami satu per satu dengan intonasi yang tegas.

Dari situ aku baru sadar kalau namaku ternyata termasuk yang paling awal dalam daftar. Tepatnya urutan kedua dari total 63 mahasiswa kelas ganjil. Satu-satunya nama yang tertera di atas namaku adalah Kiki, mahasiswa asal Malang, Jawa Timur. Aku cukup mengenalnya; kami pernah berada dalam satu kelompok saat ospek beberapa waktu lalu. Dari situ pula aku akhirnya paham jika pengelompokan regu selama ospek rupanya disusun berdasarkan urutan Nomor Induk Mahasiswa (NIM). Teman-teman sekelompokku saat itu memiliki NIM yang berurutan. Dari total sebelas orang, enam di antaranya kini duduk di kelas ganjil bersamaku, sementara lima lainnya, kuduga kuat, adalah pemilik nomor-nomor awal di kelas genap.

Kuliah Genetika ini hanya berbobot satu SKS. Sangat singkat. Rasanya baru saja kami mulai, tiba-tiba sudah selesai. Usai menutup salindia presentasinya, bu dosen mencabut flashdisk dari CPU, memasukkannya ke dalam tas, dan menutup pertemuan pertama itu dengan ucapan salam. Tanpa banyak kata, ia melangkah keluar, meninggalkan kami yang masih bergulat dengan ritme baru.

Aku melirik jadwal perkuliahan yang sempat dibagikan pihak kemahasiswaan beberapa hari lalu. Salinannya masih tersimpan rapi dalam map plastik bening di tasku. Setelah Genetika, jadwal berikutnya adalah Pancasila Yuridis Kenegaraan. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum kelas dimulai. Dan itu cukup bagi kami semua untuk menarik napas, menyesap udara, atau sekadar menenangkan kepala setelah euforia kuliah pertama yang belum benar-benar reda.

Lalu tanpa aba-aba, seorang mahasiswi tiba-tiba maju ke depan kelas. Langkahnya mantap, sorot matanya tenang namun tegas. Dengan gerakan yang begitu alami, ia mengambil mikrofon di atas meja dosen, seolah benda itu sudah lama menjadi miliknya.

Begitu bicara, suaranya langsung memenuhi ruangan. Agak cempreng, tapi cukup nyaring untuk menarik perhatian. “Siang, teman-teman. Maaf menyela sebentar,” katanya lugas. “Aku cuma dapat titipan pesan dari kating. Katanya kita diminta segera memilih ketua kelas, bendahara, dan sekretaris supaya koordinasi lebih mudah, terutama untuk komunikasi dengan angkatan atas. Mereka juga nyaranin kita untuk bikin saluran khusus buat broadcast info penting. Kedepan nanti, mungkin akan ada kabar mendadak dari dosen, misalnya batal mengajar, pindah ruang, ganti jadwal, atau hal lain yang butuh respons cepat. Jadi ini sebenarnya demi kebaikan kita bersama sih. Gimana?”

Cara bicara teman kami itu sangat komunikatif dan jauh dari canggung. Ia menyampaikan pesan itu seolah memang sudah biasa tampil di depan banyak orang. Bahasa Indonesianya lancar, artikulasinya jelas, dan aksen ibu kota-nya terdengar kental. Setidaknya, itulah kesan yang kutangkap. Di tengah keragaman logat dan latar sosial dalam ruangan ini, kehadiran Disya terasa cukup mencolok. Ya, teman kami itu bernama Disya.

Baru saja ia selesai bicara, tiba-tiba terdengar teriakan dari pojok belakang kelas.

“Disya jadi ketua kelaaas!” Suara beratnya memecah suasana.

Seketika semuanya terdiam. Bahkan udara pun seolah menahan napas.

Lihat selengkapnya