Rencanaku untuk pindah indekos—mencicipi hidup yang lebih bebas dan lebih longgar dari aturan-aturan yang selama ini mengekang—runtuh bahkan sebelum sempat dicoba. Keinginan untuk melangkah keluar dari pagar-pagar pesantren, menatap dunia dengan caraku sendiri, perlahan menjauh menyisakan angan. Ibuku, dengan suara yang datar, tidak pula bergetar, menolak mentah-mentah permohonan pamitku dari tempat tinggal yang telah kudiami selama tiga tahun terakhir.
"Asal kamu tahu," ucapnya suatu malam dengan nada tegas yang mengunci udara di ruang telepon kantor pesantren, "Kalau kamu masih bersikeras lanjut kuliah di Kedokteran Gigi, maka kamu tidak boleh keluar dari pesantren. Pelajaran agama dalam keluarga kita itu bukan pilihan, dan tidak boleh juga dijadikan sebagai nomor dua. Itu pesan almarhum. Dan kamu tahu, itu harus dipatuhi."
Ucapannya lagi-lagi merobohkan anganku seperti palu godam. Aku sempat kesal mendengar perkataannya. Bukan sebab larangannya, tapi karena Ibu mesti membawa-bawa nama Ayah. Sosok yang sudah tiada, tapi terus dijadikan tameng untuk menutup ruang diskusi di antara kami. Rasanya tidak adil.
Tapi di tengah rasa kesal itu, aku juga sadar: ibu tak serta-merta menutup telinga. Perdebatan panjang yang kami lalui dengan tensi naik-turun selama berhari-hari itu akhirnya membuka sedikit celah. Ia melihat kesungguhanku. Ia mulai percaya jika tekadku menjadi seorang dokter gigi bukan sekadar impian tanpa arah. Dan ketika restu itu akhirnya datang, meskipun bersyarat dan sama sekali takkan mudah, aku memilih untuk mengambil semua risiko itu. Rasanya seperti akan menaklukkan gunung yang tak pernah kupikir bisa kudaki.
Ibuku memang keras, tapi kasihnya tak pernah putus. Dan ia tetap ibu terbaik di dunia bagiku.
Syarat itu pun, sebenarnya bukan merupakan hal yang amat sulit untuk kujalani. Tinggal di pesantren memang tak selalu mudah. Aturan-aturannya kadang menyesakkan, jadwal yang padat sering membuatku jenuh, dan ruang untuk menyendiri nyaris tak ada. Tapi aku tak bisa memungkiri satu hal yang amat bermanfaat: hidupku jadi lebih tertata.
Di pesantren, aku belajar disiplin. Jadwalku padat dan semuanya hampir pasti memuat nilai positif. Aku tak pernah kepikiran mengikuti arus tren-tren aneh yang sering menyeret remaja seusiaku. Entah itu tawuran, geng motor, atau petualangan kosong yang tak membawa guna. Sebaliknya, pikiranku justru terus diasah. Terus dan terus. Kala siang maupun malam. Saat hari terang, aku mengikuti pelajaran di sekolah, sementara ketika malam tiba, aku ganti menelaah kitab-kitab agama.
Tiga tahun hidup dengan cara seperti itu sedikit banyak mengubah cara pandangku. Aku tak malu mengakui kalau aku sangat menikmati proses belajar. Tiap kali memperoleh pengetahuan anyar, rasanya seperti menemukan warna baru.
Mungkin lantaran itu juga, aku berhasil meraih beasiswa penuh untuk kuliah. Hasil yang tak berkhianat atas usaha dan kerja keras, kata sebagian teman sekelasku di pesantren. Ganjaran yang kudapat dari malam-malam panjang, dengan buku terbuka dan kepala tertunduk. Beasiswa itu bukan sekadar penghargaan, tapi juga pembuktian. Bahwa meski jalan yang kupilih itu berat, tapi semua itu tak pernah sia-sia.
Lagipula, tinggal di pesantren selama kuliah bukanlah hal yang asing dalam tradisi keluargaku. Dalam kultur keluarga besar kami, pesantren bukan sekadar tempat singgah sementara, tapi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Kudengar dari banyak orang di keluarga kalau sejak zaman kakek buyutku, hampir semua keturunannya selalu menjalani hari-hari di lingkungan pesantren. Seakan ada aturan tak tertulis kalau siapapun yang mengejar pendidikan umum, harus pula merawat akarnya lewat pendidikan agama.
Semua sepupu dan iparku pun menapaki jejak yang sama. Bahkan Mas Ahmad, ipar pertamaku yang kini menjadi alumnus Sastra Indonesia UGM, dulu pernah menghuni pesantren yang sama denganku. Ia juga menempati kompleks asrama yang sama dengan yang kutinggali sekarang: Asrama Fatih.
Asrama itu kini menjadi rumah keduaku setelah sebelumnya tinggal di asrama SMA selama tiga tahun. Pindah ke Fatih terasa seperti naik satu tangga kedewasaan. Di sini, aku bukan lagi remaja sekolah yang bergantung pada jadwal tetap dan pengawasan ketat, melainkan santri dewasa yang harus belajar menyeimbangkan kuliah, ilmu agama, dan urusan hidup sehari-hari dengan lebih mandiri.
Fatih memang sudah sejak lama diproyeksikan untuk santri usia dewasa. Saat ini, penghuninya terbagi dalam tiga kelompok utama: kelompok mahasiswa, pekerja, dan tahfiz. Kelompok mahasiswa adalah mereka yang tengah aktif menimba ilmu di kampus luar pesantren; para pekerja adalah mereka yang mondok, tapi punya keterbatasan finansial sehingga harus nyambi mencari nafkah, dan yang terakhir adalah para santri takhsis tahfiz1, yakni mereka yang mengabdikan diri untuk menghafal Al-Qur’an. Jumlah keseluruhan santri di kompleks ini tak kurang dari 150 orang, dan kelompok mahasiswa menjadi yang terbesar di antara ketiganya.
Suasana di Fatih tak pernah sepi, tapi juga tak seramai asrama sekolah dulu. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang larut dalam tugas kampus, ada yang tenggelam dalam hafalan, ada pula yang baru pulang menjelang petang karena urusan pekerjaan. Namun, satu hal yang pasti selalu menyatukan kami, yakni waktu-waktu ibadah dan kajian malam yang tak pernah hilang dari rutinitas. Di antara tembok-tembok sederhana dan kamar-kamar sempit itu, tersimpan perjuangan yang hening tapi sungguh berarti.
Dan di tempat itulah aku sekarang, berdiri di antara dunia akademik yang menuntut logika serta dunia pesantren yang mengedepankan iman. Dua dunia yang tampak kontras, tapi justru sebenarnya saling melengkapi.