Gedung Harkati Dewanto, September 2009
Untuk kelima kalinya, kami mengikuti kelas besar yang menggabungkan seluruh mahasiswa seangkatan. Seperti sebelumnya, ratusan mahasiswa dikumpulkan dalam satu ruangan berkapasitas aula. Ruangan yang kami tempati ini dinamai Ruang I, dengan barisan kursi tersusun rapi berundak-undak mirip studio bioskop. Bedanya, yang ditonton bukanlah film, melainkan deretan angka dan rumus di papan tulis.
Kelas besar kali ini diselenggarakan untuk matakuliah Ilmu Fisika dengan pengampu dosen dari Fakultas MIPA. Pada jadwal lain, ruangan ini juga digunakan untuk kuliah Bahasa Inggris oleh dosen Fakultas Ilmu Budaya, Ilmu Kimia oleh dosen MIPA, serta Pendidikan Agama Islam oleh dosen dari Fakultas Filsafat. Banyaknya ragam kuliah ini seolah membekali mahasiswa dengan kombinasi ilmu lintas fakultas yang menjanjikan, meskipun kenyataannya sepertinya tak selalu demikian.
Di kelas besar ini, nomor urutku berada di posisi ketiga. Dalam beberapa mata kuliah lain, urutanku bahkan lebih mundur lagi karena kehadiran kakak tingkat yang mengambil sks matakuliah ulang. Pada Psikologi Kedokteran Gigi, aku berada di urutan ke-7; sedangkan pada Demografi dan Kesehatan Lingkungan, aku harus legawa berada di urutan ke-11.
Kesan pertamaku untuk ruangan ini ialah area yang terlalu luas untuk ukuran ruang kuliah. Pandangan mata yang amat leluasa justru membuat fokus mudah buyar. Apalagi saat ini Jogja sedang berada di puncak musim kemarau! Sedang panas-panasnya saat siang. Beberapa AC yang menempel di dinding terasa nirguna. Suhu ruangan tetap tinggi, dan pikiranku makin sulit diajak berpikir. Duduk pun terasa makin tak nyaman, terutama ketika suara dosen terdengar hilang timbul karena sistem pengeras suara yang agak bermasalah sejak dua minggu terakhir ini.
Sepanjang kuliah, terlihat jelas betapa atensi mahasiswa terbagi ke dalam tiga kelompok besar. Kelompok pertama adalah barisan depan. Mereka adalah mahasiswa yang menyimak dengan tekun, mencatat dengan cepat, dan tampaknya mampu mengikuti setiap penjelasan dosen dengan saksama. Mereka khusyuk mengiringi ucapan dosen dengan coretan di kertas. Termasuk menyalin penyelesaian contoh soal persis seperti yang ditulis di papan tulis. Sayangnya, barisan ini didominasi oleh mahasiswa kelas genap. Hanya segelintir saja mahasiswa kelas ganjil yang terlihat duduk di sana. Bisa dihitung dengan jari.
Kelompok kedua, termasuk aku di dalamnya, adalah penghuni barisan tengah. Dari posisi ini, kami harus membaca angka dan rumus di papan tulis sambil sedikit memicingkan mata. Awalnya kupikir minus mataku yang telah bertambah. Tapi setelah melihat teman di samping, belakang, dan dua baris di belakang juga melakukan hal yang sama, aku yakin ini bukan masalah pribadi. Dalam tinta hitam model tegak bersambung, tulisan dosen di depan tampak seperti barisan sandi rumput dari tempat kami duduk. Jujur saja, hanya sedikit dari kami yang bisa menyimak dengan baik. Sebagian besar perhatian kami teralihkan oleh obrolan ringan, pertunjukan rubik 3x3 yang dimainkan super cepat oleh seorang teman, atau permainan Bingo dengan caller yang berbisik seperti sedang menidurkan bayi.
Sementara di kelompok barisan tengah masih terdapat mahasiswa dengan atensi yang cukup untuk mengikuti pelajaran, maka pada kelompok ketiga, atau barisan paling belakang, mereka justru menunjukkan sebaliknya: sebuah keprihatinan yang mendalam. Alih-alih duduk diam menyimak, mereka malah sibuk mengobrol sendiri dan terus saja bergerak-gerak kecil. Tampak beberapa mahasiswa mengibas-ngibaskan buku layaknya kipas. Maklum. Mungkin, posisi mereka yang jauh membuat suara penjelasan nyaris tak terdengar. Tertelan bisik-bisik dari barisan depannya.
Aku ragu apakah mereka bisa membaca tulisan yang ditulis di papan atau tidak. Mungkin saja, yang tampak dari tempat duduk mereka hanyalah noktah-noktah hitam yang hanya dan hanya bisa dilihat dengan tatapan mengeker. Ironisnya, wajah-wajah ini sering kutemui di kelas ganjil. Semoga mereka masih bisa tertolong.
Menjelang akhir sesi kuliah, pak dosen Fisika melepas mikrofon dari genggaman tangannya lantas memperlihatkan sebuah buku teks karyanya sendiri kepada kami. Jujur, aku tak bisa menangkap seluruh isi penjelasannya dengan utuh, tapi sepertinya ia sedang memaparkan garis besar isi buku tersebut, lengkap dengan manfaatnya bagi mahasiswa kedokteran gigi. Sepertinya, buku itu ditawarkan sebagai suplemen pembelajaran sekaligus bahan bacaan tambahan di luar kelas agar kami bisa lebih memahami kuliah Fisika yang rumit.
Ia kemudian meminta siapa saja yang berminat untuk mencantumkan nama dalam daftar pemesanan yang dibagikan. Sementara bagi mereka yang berminat membeli secara mandiri, buku itu tersedia di toko penerbitan milik kampus, UGM Press.
Begitu pak dosen meninggalkan ruangan, empat mahasiswa yang sebelumnya telah terpilih sebagai ketua dan bendahara kelas berdiri dan meminta kami tetap tinggal sejenak. Tampaknya, mereka ingin membahas persoalan penting menyangkut angkatan secara keseluruhan. Salah satu dari mereka lalu maju dan menyampaikan ajakan untuk membahas usulan nama angkatan seperti halnya tradisi yang telah dijalankan oleh angkatan-angkatan senior kami sebelumnya.
Tiap angkatan, kata mereka, memiliki nama yang mencerminkan semangat dan identitas bersama. Kadang berupa akronim, dan bisa juga berupa istilah filosofis. “Ada yang punya usulan?” tanya salah satu dari mereka berempat. “Silakan sampaikan nama beserta maknanya. Kalau akronim, bisa disertai kepanjangannya. Yang penting, nama itu bisa mewakili karakter dan semangat kita sebagai satu angkatan.”
Di sela-sela pembahasan nama angkatan, muncul satu demi satu topik dadakan yang spontan ditambahkan. Topik itu antara lain adalah memilih ketua angkatan, sekretaris kelas, serta koordinator informasi, yang nantinya bertugas menyebarkan pengumuman-pengumuman penting seputar perkuliahan. Selain itu, dibentuk pula tim DSC (singkatan dari Dentistry Study Club), yakni tim khusus yang bertugas mengumpulkan materi perkuliahan dari dosen, membuat ringkasan tambahan, dan menghimpun soal-soal ujian dari angkatan-angkatan sebelumnya sebagai bekal menghadapi ujian akhir.
Sayangnya, hingga musyawarah berakhir, belum ada satu pun keputusan yang benar-benar disepakati. Usulan nama angkatan masih menggantung tanpa suara yang bulat, struktur kepengurusan masih jauh dari kata final, dan diskusi terdengar mulai ngalor ngidul tidak keruan. Waktu pun sudah jauh melampaui alokasi yang dijanjikan di awal. Satu per satu mahasiswa mulai keluar dari ruangan hingga akhirnya kembali lengang menyisakan hening yang tetap mencoba bertahan mencari mufakat.
Selepas kelas, banyak mahasiswa terlihat berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil di taman Canina. Taman yang rimbun ini memang kerap menjadi tempat persinggahan favorit untuk sekadar melepas lelah di sela-sela jadwal kuliah.
Siang itu, ada enam orang mahasiswa berdiri membentuk lingkaran kecil di salah satu sudutnya. Mereka adalah Kiki, Abelia, Raysa, Yoshua, Agam, dan aku sendiri. Kami adalah enam pemilik NIM paling awal di kelas ganjil. Siang itu, kami punya agenda khusus: menghadap Dosen Pembimbing Akademik (DPA).
Kiki, pemilik NIM pertama di kelas ganjil, adalah mahasiswa berkulit cerah dengan poni yang dibiarkan jatuh persis di tengah dahi untuk menutupi tahi lalatnya. Aku pernah sekali melihat poninya tersibak oleh angin. Sejujurnya, ukuran dahinya tampak sedikit di atas rata-rata. Mungkin satu setengah kali lebih luas dibanding dahi umum lelaki dewasa suku Jawa. Kiki berasal dari Malang, tepatnya Kepanjen, kecamatan yang, menurut pengakuannya, akan menjadi ibu kota kabupaten Malang pasca pemekaran wilayah. Aku paham dengan cerita yang dibagikannya itu karena kakak iparku, Mas Ahmad, berasal dari Gondanglegi, sekitar sepuluh kilometer ke arah timur dari area rumahnya.
Pembawaan Kiki santai dan suka melucu. Ia tak terlalu ambil pusing dengan tetek bengek kuliah. Tubuhnya gempal dengan pipi tembam yang nyaris menenggelamkan ujung hidung apabila wajahnya dilihat dari samping. Ia kelahiran ’92, setahun lebih muda dari kebanyakan orang dari angkatan kami. Oleh karena itu, sebagian dari kami memanggilnya dengan sebutan manja: Dik Kiki.