Waktu terasa melambat setiap kali jeda antarkuliah tiba. Menunggu, tentu saja, menjadi hal yang paling menyebalkan. Tak jarang, langkah kami pun berakhir di kantin—bukan semata karena lapar, melainkan karena di sanalah jeda terasa lebih singkat.
Uap makanan yang mengepul, denting sendok yang beradu pelan dengan piring, dan tawa yang meletup tanpa rencana menjadi pelebur suasana. Di antara suapan, percakapan kami mengalir dengan ringan, membuat waktu yang semula terasa lambat berlalu cepat.
Topik pembicaraan kami selalu berubah. Jika bukan cerita-cerita lucu yang memancing tawa, biasanya kami larut dalam kabar-kabar heboh, atau bahkan kisah horor yang membuat bulu kuduk berdiri. Obrolan kami mengalir tanpa pola, meloncat dari satu topik ke topik yang lain, seolah tak pernah kehabisan bahan.
Namun, di antara semua pembicaraan itu, selalu ada satu benang merah yang nyaris tak pernah absen: kenangan masa lalu. Kami membicarakannya dengan antusias, seakan setiap cerita adalah pintu kecil yang membuka kembali halaman-halaman lama. Masing-masing dari kami membawa akar tempat asalnya dan menanamkannya dalam setiap kisah yang dibagikan.
Salah satu kisah yang paling sering diangkat oleh kawan-kawan asli Jogja adalah pengalaman mereka ketika melewati gempa besar pada Sabtu pagi, 27 Mei 2006. Mereka menuturkannya dengan begitu rinci—suara tembok runtuh, tanah yang bergoyang tanpa ampun, serta jerit yang saling bersahutan—hingga kami yang mendengarkan seakan turut berdiri di tengah kepanikan itu.
Aku, meski bukan warga asli, mengingat pagi itu dengan sama jelasnya. Saat gempa terjadi, aku masih tinggal di Temanggung, sekitar seratus kilometer di utara pusat guncangan. Namun, jarak sejauh itu ternyata tak cukup untuk meredam daya getarnya. Getaran merambat liar hingga ke rumah kami, membuat kaca-kaca jendela berdenting keras.
Belum genap sebulan setelah gempa terjadi, Gunung Merapi menyusul dengan letusan yang dahsyat. Semburannya mengubah wajah lereng-lerengnya, meluluhlantakkan vegetasi, dan bahkan meruntuhkan Geger Boyo—sebuah bukit kecil di lereng selatan yang bagi sebagian orang dianggap sakral.
Peristiwa demi peristiwa datang bertubi-tubi, seperti riak yang berubah menjadi pusaran, menarik apa pun di sekitarnya tanpa peringatan. Di tengah semua itu, diam-diam aku sempat meragukan rencanaku melanjutkan sekolah di Jogja. Bagaimana jika kota itu menyimpan ketegangan yang lebih besar, ketegangan tak kasatmata.
Bagi sebagian besar dari kami, rentetan peristiwa itu terasa menyeramkan sekaligus memprihatinkan. Ingatan kami lekas tertuju pada keyakinan lama bahwa musibah semestinya dimaknai sebagai peringatan dari Yang Maha Kuasa—sebuah teguran halus agar manusia kembali menundukkan diri menuju fitrahnya sebagai makhluk yang tak lemah dan tak berdaya.
Namun, bagi sebagian mahasiswa penganut konspirasi, fenomena itu merupakan isyarat yang terhubung dengan lapisan-lapisan metafisis. Dengan penuh semangat, mereka mengaitkan semua kejadian yang ada dengan “garis imajiner” yang konon menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan. Dalam pandangan mereka, ada poros tak kasatmata yang menjaga keseimbangan Pulau Jawa—sebuah sumbu mistis yang menautkan gunung, keraton, dan samudra. Dan setiap gangguan terhadap harmoni itu, kata mereka, dapat melahirkan bencana.
Mereka juga bisa menjadi narator ulung dalam menyampaikan kisah-kisah horor kampus. Dari hantu mbak Yayuk yang disebut-sebut menghuni kamar mandi fakultas, hingga kaki melayang yang kerap terlihat di lorong asrama. Bahkan cerita soal dosen gaib yang memberi kuliah tapi tak pernah ada dalam daftar kepegawaian pun masuk daftar cerita favorit mereka. Semua itu dikemas dengan keseriusan yang nyaris membuat kami percaya seratus persen.
Aku ingat suatu sore di bawah langit jingga menjelang magrib, tatkala kami baru saja selesai mengikuti kegiatan tambahan, mereka membicarakan film Keramat yang saat itu baru saja tayang di bioskop. Film bergenre found-footage itu, kata mereka, bukan sekadar fiksi. Mereka percaya sepenuhnya jika kisah di balik ceritanya benar-benar terjadi.
Mendengarnya, sebagian dari kami jadi penasaran untuk menontonnya, sementara sebagian yang lain tampak gelisah karena keseramannya mengendap selama berhari-hari dalam benak mereka. Ada yang takut bangun untuk salat malam dan ada yang mengaku takut mematikan lampu saat tidur.
Untunglah kami selalu memilih tempat yang terang dan ramai saat membahas hal-hal seperti itu. Entah mengapa, cerita semacam itu lebih nyaman didengar ketika berada di tempat terbuka, dikelilingi suara ramai dan aroma gorengan.