Klamer Adam

Sukron Tajudin
Chapter #6

(SUPER)EGO

Mencari pengakuan barangkali merupakan salah satu kecenderungan dasar manusia yang secara psikologis butuh untuk merasa diterima dan dihargai, apalagi ketika memasuki lingkungan baru yang masih asing dan belum saling mengenal. Di tengah dunia baru yang belum memberi label apa pun pada siapa kita, muncullah keinginan sederhana: agar diri ini dikenali. Agar harga diri, pencapaian, dan status sosial mendapatkan tempat di mata orang lain.

Begitulah yang kurasakan setelah hampir empat bulan menjelajahi dunia baru di kampus kedokteran gigi. Lingkungan akademik yang kompetitif dan penuh ekspektasi ini mempertemukanku dengan mahasiswa dari berbagai penjuru negeri. Masing-masing membawa aksen, adat, dan ambisinya sendiri. Di antara senyum perkenalan dan obrolan ringan yang berulang-ulang, di antara kemeja dan tas yang senantiasa berganti-ganti, pelan tapi pasti, muncul satu dorongan tersembunyi: keinginan untuk menunjukkan diri.

Fenomena "unjuk diri" itu kian nyata ketika semester mulai melewati pertengahan.

Selepas ujian tengah semester, ritme perkuliahan berubah drastis. Kelas menjadi lebih hidup, bahkan terkadang nyaris gaduh. Metode student-centered learning menuntut kami untuk tidak sekadar hadir, tapi benar-benar ikut serta terlibat. Dosen-dosen pun mulai membagi kami ke dalam kelompok-kelompok kecil yang biasanya didasarkan pada urutan presensi. Dalam formasi itulah kami diberi tugas membuat makalah dan salindia, yang nantinya akan dipresentasikan di depan kelas, lalu dibedah dan didiskusikan secara terbuka setiap minggunya.

Atas penugasan itu, kelompok-kelompok kecil itu pun mulai lebih intens untuk berkumpul. Bukan lagi untuk sekadar kongko melepas penat, tapi demi tujuan yang terdengar jauh lebih terhormat: nugas. Istilah ini kami gunakan dengan sedikit kebanggaan, sebuah diksi yang terpilih untuk mewakili evolusi sakral dari “belajar kelompok” yang dulu sering kami lakukan di bangku SMP atau SMA. Bedanya, nugas terasa lebih sedap karena ditaburi lebih banyak aroma intelektual dan ambisi.

Namun, alih-alih sekadar menjadi ruang tukar pikiran, pertemuan kelompok ini perlahan menjelma menjadi panggung tak kasatmata untuk unjuk diri. Tempat di mana tiap anggota merasa perlu memperlihatkan siapa dirinya, atau lebih tepatnya, apa yang dimilikinya. Sebuah standar diam-diam mulai terbentuk. Standar yang menjelma dalam bentuk pencapaian, gaya bicara, hingga merek barang bawaan. Dan celakanya, standar itu baru terasa sah jika ada yang menyaksikannya. Sebab pengakuan, seperti halnya tepuk tangan, tak akan pernah muncul dalam kesendirian.

Abel adalah orang pertama yang mempertunjukkan itu semua. Tanpa aba-aba, ia mengeluarkan sebuah MacBook Pro terbaru dari dalam tasnya. Kilap laptopnya begitu terang, membuat kami hampir lupa kalau kami sedang duduk melingkar di lantai ruang diskusi, bukan berada dalam pameran perangkat teknologi. Dengan santai ia meletakkan laptopnya tepat di tengah-tengah kami, seolah itu adalah obor suci dalam ritual yang sakral. Kami hanya saling berpandangan, sejenak terdiam. Suasana mendadak janggal. Diskusi baru saja dimulai, bahkan topik pun belum rampung dipetakan. Tapi Abel tampaknya ingin diskusi itu dimulai dari dirinya.

Lalu, sambil memencet-mencet ponsel Nokia N900, yang lebih mirip simbol kejayaan digital ketimbang alat komunikasi, ia berkata dengan suara cukup keras, “Pakai laptopku aja, teman-teman, kalau udah mau mulai ngetik.”

Kalimat itu meluncur begitu ringan tanpa beban. Tapi efeknya, seperti debu merica yang dilemparkan ke tengah ruangan. Aku bisa melihat bagaimana wajah teman-teman lain sedikit gusar. Mereka tak berkata apa-apa, tapi raut wajah mereka jelas menolak. Bukan terhadap tawaran Abel, tapi terhadap nada kepongahan yang dibungkus keramahan. Mungkin itu bukan dendam, belum… belum sampai ke titik itu. Tapi ada semacam hasrat untuk membalas, untuk menunjukkan kalau mereka juga bisa. Bahwa Abel bukan satu-satunya manusia bermerek di ruangan itu.

Dan sejak saat itu, kami tahu jika tugas kelompok tak pernah benar-benar sesederhana menyusun makalah. Ia adalah arena pertunjukan. Dan kami, suka ataupun tidak, telah menjadi pesertanya.

Di pertemuan-pertemuan berikutnya, giliran mahasiswa lain yang unjuk gigi. Setelah Abel membuka jalan dengan MacBook Pro-nya, menyusul Kiki, mahasiswa yang lebih sering terlelap ketimbang terjaga selama kuliah. Tanpa diminta, ia dengan sigap mengeluarkan laptop Toshiba dari dalam ranselnya, seolah kami semua telah menyerahkan petisi permintaan agar ia segera menyalakannya.

Tak mau kalah dalam parade benda elektronik ini, Yoshua, di setiap kesempatan, selalu menyisipkan kalimat pengingat tentang Dell Studio miliknya, laptop yang katanya bisa kami pakai kapan saja. Seolah kami selaku teman-teman sekelompoknya adalah penderita amnesia berat yang harus diingatkan setiap lima menit.

Lama-kelamaan, aku pun hafal merek laptop masing-masing dari kami sekelompok. Bukan karena niat mencatat, tapi karena informasi itu terus-menerus diucapkan dengan semangat, seolah setiap laptop punya ceritanya sendiri yang wajib diketahui oleh semua orang. Misalnya, Raysa. Ia rutin membawa Asus pink-nya yang manis dan sangat girly, lengkap dengan stiker-stiker karakter lucu yang menghiasi bagian tutupnya. Dan Agam, meski lebih kalem, ia sesekali melontarkan komentar soal HP Pavilion miliknya yang, menurutnya, cukup tangguh untuk desain grafis berat, kemampuan yang, terus terang, mungkin akan lebih berguna kalau kami kuliah di jurusan Arsitektur atau Animasi.

Sementara aku? Aku adalah satu-satunya yang tidak pernah mengeluarkan laptop dari dalam tas. Bukan karena rendah hati. Bukan pula karena ingin menjaga kesan misterius seperti tokoh idiot yang diam-diam menjelma jenius menjelang ending film. Tidak. Aku tidak mengeluarkan laptop karena aku memang tidak punya. Sesederhana itu. Dan ya, aku memang yang paling kere di antara mereka. Sebuah predikat yang, meski tanpa selempang dan piala, sudah kusadari sejak lama.

Ternyata, fenomena “aku yang paling” ini bukanlah privilese kelompokku semata. Skalanya jauh lebih luas, dan aku baru benar-benar menyadarinya suatu siang saat kami mengerjakan tugas di selasar perpustakaan. Di sebuah tempat yang cukup lapang dan kerap jadi zona bebas berekspresi bagi mahasiswa. Di sana, beberapa kelompok lain juga sedang nugas. Tapi alih-alih terdengar seperti diskusi akademik, telingaku malah diserbu percakapan yang lebih mirip lomba adu cerita jalan-jalan ke luar negeri.

“Aku sih paling suka Zurich pas musim dingin!” seru seorang mahasiswa dari kelas genap.

“Oh, iya, aku pernah ke Hallstatt juga. Cantik banget!” timpal yang lain dengan nada tak kalah tinggi.

Lihat selengkapnya