Waktu terus berjalan bagai kereta malam yang tak berhenti hingga mencapai stasiun tujuan. Semester pertama yang belum lama dimulai melesat dengan begitu cepat. Tanpa terasa, ujian akhir semester sudah menghadang di depan mata. Aku dan teman-teman seangkatan mulai sibuk mempersiapkan diri menghadapinya.
Motivasi kami sama: untuk lulus dengan hasil terbaik dan, sebisa mungkin, tak perlu mengulang. Kalimat “masuk bersama dan lulus bersama” menjadi mantra yang selalu kami teriakkan hampir dalam tiap kali kuliah besar, seolah menegaskan jika keberhasilan bukan hanya urusan individu, tapi tanggung jawab kolektif.
Di balik semangat kebersamaan itu, terselip motivasi pribadiku yang tak main-main. Nilaiku tidak boleh kalah dari teman-teman. Bukan karena ambisi, tapi karena tuntutan keadaan. Beasiswa yang kuperoleh memiliki batas waktu yang ketat, yakni tiga setengah tahun. Jika melewati batas itu, aku harus membiayai kuliahku sendiri. Dan itu... jelas bukan sebuah pilihan.
Oleh sebab itu, sejauh ini aku berusaha memanfaatkan tiap waktu luang dengan sebaik mungkin. Di sela pengajian pesantren, aku menyelipkan buku kuliah. Di sela-sela diskusi keagamaan, ada catatan-catatan akademik yang terus kuperiksa. Targetku jelas: Indeks Prestasi dengan predikat cumlaude. Tapi di sisi lain, aku juga belajar untuk tak terlalu keras pada diri sendiri. Pikirku realistis, jika tak bisa mencapai puncak, setidaknya jangan jatuh ke dasar jurang. Lulus dengan nilai cukup pun sudah jadi kemenangan tersendiri jika itu hasil dari perjuangan sepenuh hati.
Syukurlah, sejauh ini, fisik dan mentalku masih bisa diajak kompromi. Terkait keuangan, aku sempat mengalami masa-masa kesulitan finansial, tapi semuanya masih dalam batas yang bisa kutangani. Setidaknya, kuliahku mengalir dengan lancar, kehidupan sosialku berjalan tanpa banyak drama, dan kegiatanku di pesantren pun tetap terjaga. Tidak keteteran seperti yang dulu sempat kutakutkan. Dua jalan hidup yang kupilih, yakni pendidikan umum dan pembelajaran agama, bisa berjalan berdampingan. Saling menopang, bukan saling menjatuhkan.
Dan kini, di tengah masa penantian menuju ujian akhir, denyut fakultas mulai terasa lebih hidup dari biasanya. Mahasiswa tampak berlalu-lalang dengan tumpukan kertas di tangan. Sebagian menenteng map tebal berisi hasil fotokopian, sementara sebagian lainnya sibuk bertukar fail atau catatan. Salah satu barang paling diburu adalah DSC yang berisi cetakan salindia presentasi dosen dengan tambahan beberapa catatan kaki.
Tak hanya kami, mahasiswa semester satu, yang sibuk memburunya. Mahasiswa tingkat atas pun tampak ikut antre depan satu-satunya gerai fotokopi di fakultas. Bahkan, para pegawai fotokopi sudah sigap menyediakan stok DSC dari berbagai angkatan, lengkap dan tinggal pilih sesuai matakuliah yang diinginkan. Seolah kegiatan ini sudah menjadi tradisi akademik tak tertulis menjelang ujian.
Namun, bagi sebagian mahasiswa, salinan DSC saja terasa belum memadai. Mereka masih memburu catatan pribadi milik para penghuni barisan depan—mereka yang dikenal rajin, tekun, dan telaten merekam setiap penjelasan dosen tanpa membiarkan satu detail pun terlewat. Setidaknya, ada lima mahasiswa kelas genap yang catatannya paling laku diburu. Mereka inilah yang di kemudian hari kami juluki sebagai “five star dentist”, serapan istilah yang kami adopsi setelah enam bulan mengikuti kuliah Kedokteran Gigi Pencegahan.
Sementara itu, ada satu ironi kecil yang sulit diabaikan. Catatan dari kelas ganjil jarang sekali dilirik, apalagi diminta secara khusus. Entah karena gaya mencatat kami yang kurang sistematis, atau memang belum layak untuk dijadikan rujukan. Ya, kami memang tak menyangkal kenyataan itu. Dengan kesadaran penuh kami legawa menerima predikat "kelas dua" dalam urusan produktivitas mencatat.
Kemenangan mahasiswa kelas genap atas kami rupanya tak berhenti pada urusan catatan. Beberapa di antara mereka bahkan sudah melangkah lebih jauh, melampaui sekadar persiapan UAS. Diam-diam, mereka mulai memburu laporan praktikum semester dua dari para kakak tingkat. Bukan satu atau dua—ada yang meminjam hingga tiga, bahkan empat laporan sekaligus. Sebuah manuver diam-diam yang terasa licik, tetapi cerdas: memperkaya referensi dari berbagai sudut pandang, jauh sebelum kami sempat terpikir untuk melakukan hal serupa.
Sementara itu, kami masih tertatih-tatih merapikan bahan ajar yang tercecer. Kami sibuk memilah mana yang benar-benar perlu dipelajari dan mana yang bisa dilewatkan; mana yang mungkin muncul di ujian dan mana yang barangkali tidak. Jomplang rasanya jika dibandingkan dengan mahasiswa kelas genap. Saat kami baru menyusun peta belajar, mereka sudah bergerak dalam kelompok-kelompok kecil, membedah kumpulan soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Dengan penuh perhitungan, mereka mencoba membaca dan menganalisis pola pikir dosen—nyaris seperti sekelompok pakar prakiraan cuaca yang menafsirkan arah angin sebelum badai datang.