Bukan tanpa alasan semester dua dijuluki sebagai gerbang menuju tanjakan panjang. Jika pada semester sebelumnya, kami masih berkutat pada sains-sains dasar yang nyaris tak jauh berbeda dari pelajaran SMA, maka kali ini kami mulai diajak menapaki medan yang lebih terjal: ilmu-ilmu biomedik yang menjadi fondasi dunia klinis. Perlahan tapi pasti, istilah-istilah medis mulai menggantikan rumus-rumus fisika dan reaksi-reaksi kimia. Sementara itu, meski jumlah SKS yang kami ambil sebenarnya lebih sedikit, jadwal perkuliahan kami justru kian padat.
Di atas kertas, semester ini hanya memuat sepuluh mata kuliah dengan total 18 SKS. Tapi kenyataannya jauh lebih berat. Enam di antaranya disertai praktikum, yang meski secara numerik tampak setara dengan kuliah biasa, dalam praktiknya jauh lebih menguras tenaga. Satu SKS praktikum berarti 3 jam penuh aktivitas di laboratorium. Kami harus berdiri lama, banyak mencatat data, sering mengamati, dan menghadapi beberapa kemungkinan kegagalan sekaligus. Alhasil, total jam belajar kami sebenarnya melonjak drastsi hingga 30 jam per minggu, jauh di atas semester lalu yang hanya 19 jam.
Perubahan ritme ini sangat terasa sejak awal. Setiap minggunya kami harus menyediakan waktu ekstra, tidak hanya untuk hadir di kelas, tetapi juga untuk mengikuti sesi khusus pendampingan belajar demi persiapan menghadapi pretes praktikum. Tanpa lulus pretes, kami tidak akan diizinkan masuk laboratorium dan mengikuti praktikum. Dan jika gagal, satu-satunya pilihan adalah mengikuti sesi inhal di akhir semester. Sebuah kata yang cukup menakutkan bagi mahasiswa tingkat bawah seperti kami.
Enam mata kuliah dengan komponen praktikum ini boleh dibilang menjadi poros utama kehidupan akademik kami di semester ini. Mereka adalah Anatomi, Histologi, Biokimia, Fisiologi, Teknologi Kedokteran Gigi (lebih sering kami singkat dengan TKG), serta Aplikasi Komputer. Masing-masing dilaksanakan di laboratorium yang berbeda, dengan atmosfer dan tantangannya sendiri-sendiri. Meski begitu, substansi dari praktikum-praktikum tersebut saling terhubung membentuk jalinan pemahaman yang melengkapi satu sama lain.
Di laboratorium Anatomi dan Histologi, kami belajar memahami struktur jaringan yang menyusun tubuh manusia sekaligus mengamati detail mikroskopisnya yang kadang tampak samar, tapi tetap krusial untuk dipahami. Lalu pada praktikum Fisiologi, kami diajak mengenal bagaimana tiap bagian tubuh berfungsi, bergerak, dan saling bekerjasama menjaga ritme kehidupan. Sementara itu, Biokimia memperlihatkan pada kami sisi paling halus dari tubuh manusia, yakni reaksi-reaksi kimia yang tersembunyi di balik struktur serta mekanisme molekulernya yang menentukan apakah sel bekerja sebagaimana mestinya atau justru menyimpang. Semakin lama mengikuti praktikum, semakin kentara benang merah di antara keempat praktikum tersebut.
Adapun dua praktikum lainnya—TKG dan Aplikasi Komputer—meski tidak langsung berkaitan dengan materi biomedik esensial memberikan sumbangsih dalam membentuk dasar keterampilan klinis. Di TKG, kami belajar mengenal alat dan bahan laboratorium kedokteran gigi serta prinsip teknis pembuatannya. Sementara dalam Aplikasi Komputer, kami diperkenalkan pada perangkat lunak seperti SPSS dan beberapa aplikasi grafis lainnya yang yang relevan untuk riset maupun perencanaan perawatan klinis.
Di antara seluruh matakuliah yang ada, Anatomi adalah yang paling baru bagiku. Selama ini, aku belum pernah bersentuhan langsung dengan disiplin ilmu ini. Dunia struktur tubuh manusia terasa seperti hutan rimba yang belum terjamah. Penuh cabang dan kerumitan yang menuntut kesabaran. Karena luasnya cakupan, Anatomi pun dipecah menjadi dua bagian: anatomi mikroskopis dan anatomi makroskopis, yang masing-masing dipelajari dalam matakuliah yang berbeda. Semester ini, kami menyelami keduanya sekaligus.
Histologi menjadi pintu masuk ke dunia anatomi mikroskopis, tempat kami mempelajari sel dan jaringan tubuh manusia melalui sediaan tipis di bawah mikroskop. Meski alat itu sudah tidak asing, tapi sungguh pengalaman di semester ini terasa berbeda. Kami harus lebih sabar menata fokus, menyipitkan mata, serta menyesuaikan pencahayaan agar gambaran sel tampak jelas. Prosesnya bukan sekadar melihat, melainkan berusaha memahami makna di balik struktur yang tersaji di hadapan lensa.
Di hari lain, kami beralih ke anatomi makroskopis, khususnya osteologi—ilmu tentang tulang belulang manusia. Dalam praktikum, kami memegang langsung preparat tulang asli dari berbagai bagian tubuh, terutama rahang atas dan bawah yang kelak menjadi wilayah kerja utama seorang calon dokter gigi.
Sepanjang jalannya praktikum, pelan-pelan kami menyadari jika setiap lekuk pada tulang memiliki identitasnya sendiri: cekungan, permukaan kasar, tonjolan kecil, celah halus, hingga garis tipis tempat melekatnya otot dan ligamen. Perbedaan nama kadang muncul hanya karena variasi bentuk atau ukuran yang sekilas tampak sepele. Dari situ kami belajar bahwa anatomi bukan sekadar hafalan istilah, melainkan aktivitas melatih ketelitian. Untuk membaca detail-detail kecil yang membentuk keseluruhan struktur tubuh manusia.