Ruang Dekanat, Maret 2010
Pagi itu, seperti hari Kamis biasanya, ruang kuliah A1 tenggelam dalam keheningan berpadu dengan desis AC tua. Deretan mahasiswa duduk di kursinya masing-masing. Sebagian sibuk mencatat materi kuliah Kewirausahaan dengan saksama, sementara yang lain menatap kosong layar presentasi di depan kelas sambil diam-diam mencari rekomendasi tempat sarapan di ponsel mereka. Aktivitas pagi itu berjalan seperti biasa hingga sebuah guncangan datang tanpa aba-aba.
Awalnya, hanya terasa getaran halus di bawah lantai. Cukup samar hingga kebanyakan orang masih mencoba mengabaikannya. Namun dalam hitungan detik, getaran itu merambat semakin kuat. Kaca-kaca jendela mulai berderak pelan, seolah ingin copot dari kusennya. Jam dinding di atas papan tulis bergoyang kecil, sementara sebuah spidol di meja dosen menggelinding pelan sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai.
Wajah-wajah kebingungan itu mendadak pucat. Beberapa mahasiswa berdiri tergesa, nyaris melompat dari kursinya masing-masing, mengambil ancang-ancang untuk berlari keluar apabila keadaan memburuk. Ada yang menahan napas dengan sorot mata tegang, ada pula yang mulai komat-kamit merapal doa di balik bibir yang gemetar.
Namun, sebagaimana cepatnya ia datang, guncangan itu pun tak lama mereda. Hening kembali menggantung seperti kabut pagi yang belum sempat terangkat. Sisa kepanikan masih terlihat dalam napas yang belum teratur dan tatapan mata yang belum benar-benar tenang. Suasana kelas pun tak lagi kondusif untuk belajar. Dan seolah memahami ketegangan yang belum usai, pak Dosen memutuskan untuk mengakhiri kuliah lebih awal.
Sementara sebagian besar mahasiswa masih terpaku di kursinya menunjukkan antusiasme besar untuk membahas gempa yang baru saja terjadi, aku justru bangkit lebih dulu. Ada urusan yang tak bisa kutunda.
Kemarin, Abel sempat membisikiku dengan nada penuh misteri, “Kamu disuruh ngadep Dokter Rina. Hari Kamis, jam sembilan. Di ruang dekanat ya.”
Dan pada pagi yang disebutkannya ini, langkahku semakin cepat menyusuri lorong kampus. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul sembilan pagi, jam yang sejak kemarin terus kuingat.
Ketika menjejakkan kaki di area RSGM, entah kenapa muncul sedikit rasa tidak nyaman di benakku. Pikiran itu langsung membawaku pada beasiswa yang kuterima. Sekonyong-konyong muncul kekhawatiran—jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres. Meski begitu, aku tahu sejauh ini tidak pernah melanggar satu pun aturan dalam pakta perjanjian. Aku mencoba menepis pikiran macam-macam dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lift yang kunaiki berhenti dengan denting pelan di lantai dua. Aku melangkah keluar dan menyusuri selasar dengan langkah yang berusaha tetap tenang. Namun, satu pertanyaan terus berputar di kepalaku: apakah hanya aku yang dipanggil hari ini? Sebenarnya ada urusan apa ya di ruang dekanat?
Sejujurnya, aku mulai menyesal tidak bertanya lebih jauh pada Abel kemarin. Mungkin kalau saat itu aku meminta penjelasan lebih lengkap, pikiranku tidak akan seruwet ini.
Masih ada sedikit waktu sebelum jarum jam benar-benar menunjukkan pukul sembilan. Aku memutuskan duduk di bangku depan loket kemahasiswaan.
Lima menit lagi, batinku pelan.
Dari balik loket, terdengar percakapan beberapa pegawai yang ternyata belum bisa beralih dari pembahasan gempa tadi pagi. Tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi guncangan susulan, tentang cara melindungi diri, dan sesekali menyinggung gempa besar tahun 2006 yang rupanya masih tersimpan dalam ingatan mereka.
Sesekali terdengar gelak tawa kecil di sela percakapan itu. Bukan tawa karena sesuatu yang lucu, tapi tawa kosong yang muncul saat orang-orang berusaha mencairkan rasa cemas yang belum reda.
Tepat pukul sembilan, tiga mahasiswa dari kelas genap keluar dari lift hampir bersamaan. Raut wajah mereka terlihat sama bingungnya denganku. Salah satu dari mereka lebih dulu menyapaku, lalu mulai bertanya untuk memastikan apakah kami datang untuk keperluan yang sama. Dan ya… kami semua dipanggil karena urusan yang sama.
Seketika, rasa lega menjalar hangat di dadaku. Ternyata aku tidak sendirian. Aku punya teman senasib, sesama penerima beasiswa di angkatan ini.
“Sekarang?” tanya salah satu dari mereka, sambil melirik ke arah pintu yang masih tertutup rapat.
Aku mengangguk pelan, lalu berdiri. “Ayo.”
Dan ketika kami berempat hampir mendorong pintu menuju lorong ruang dekanat, tiba-tiba terdengar sebuah seruan lantang dari arah belakang.
“Tunggu!” Suara itu mendekat dengan cepat, disertai derap langkah tergesa.